Selamat Datang Mahasiswa

27Aug08

oleh Eko Prasetyo

Yang membuat semua berjalan dengan teratur
Adalah rasa takut dalam diri kita masing-masing
(Bill the Butcher, Gangs of New York)

Hari ini kalian menjadi saksi dari tragisnya dunia pendidikan. Menjadi mahasiswa dengan bekal seadanya dan apa adanya. Seadanya karena tak banyak orang yang begitu beruntung mencicipi bangku kuliah. Hitung berapa banyak kawan-kawan SMA kalian yang sanggup untuk meneruskan kuliah. Bukan sekedar tinggal di kampus: tapi bertempat di lembaga perguruan tinggi yang terbaik dan paling baik. Kampus-kampus hebat itu bukan untuk kalian, tapi untuk mereka yang beruntung. Beruntung karena uangnya bisa mengongkosi sumbangan gedung, sumbangan sukarela, sumbangan kuliah dan bentuk sumbangan lainnya. Apa adanya karena bekal pengetahuan yang sangat minim. SMU hanya bisa mengajarkan kisah sejarah tragis, ilmu patriotisme yang naif dan pelajaran berhitung yang mencemaskan. Dan lagi-lagi kalian beruntung karena lolos ujian nasional. Singkatnya kalian menjadi mahasiswa bukan karena kecerdasan tapi lebih banyak karena keberuntungan dan kemujuran.

Saksikan wajahmu hari ini. Tidak anak-anak, karena kehilangan senyum dan belum juga dewasa, karena tak ada kemandirian. Wajahmu hanya setengah kanak-kanak dan separoh dewasa. Itulah wajah yang dibesarkan dalam pendidikan yang terlampau menganggung-agungkan foto 3×4. Apa yang bisa dipotret dari wajah yang patuh, takut dan tampak ragu itu. Foto itu hanya memastikan dirimu yang patuh, taat dan agak naif. Tak ada tawa, tak ada sinisme dan yang ada wajah beku tanpa perasaan. Wajah kalian menyiratkan kekuatiran demi kekuatiran. Kuatir kalau nanti tak dapat pekerjaan usai kuliah; kuatir jika nanti kuliah tak bisa dapat nilai bagus; kuatir kalau nanti tidak bisa melanjutkan kuliah karena biaya. Kuatir adalah ekspresi dari jiwa kerdil yang suka ditindas. Kampus dan sekolah kalian sebelumnya memang telah berhasil dan bahkan sukses menanamkan jiwa penakut. Sekolah hanya menuntut seorang itu seperti robot: taat jika diperintah, pintar dalam ulangan dan baik pada tingkah laku. Jika begitu maka yang tinggal dalam diri kalian hanya badan dan seonggok nafas. Karena memang nyali, kemandirian dan kemauan keras sesungguhnya telah dicabut. Sekolah telah menenggelamkan itu dan kita disadarkan melalui cetakan foto 3×4 itu.

Kini kalian menjadi mahasiswa. Golongan yang begitu dipuja habis-habisan. Katanya mahasiswa itu agen perubahan. Tak ada perubahan negeri ini yang terjadi tanpa tangan mahasiswa. Demo-demo mahasiswa yang selalu dimuat di televisi membuat namanya terkenal di mana-mana. Dulu ada mahasiswa yang diculik, dipenjara hingga dibuang. Heroisme mereka membuat mahasiswa jadi lambang kebanggaan. Rasanya belum sah jadi mahasiswa kalau belum pernah sekalipun ikut demonstrasi. Demonstrasi seperti sebuah keyakinan dalam diri mahasiswa. Tak salah jika orang berpendapat kalau kehidupan mahasiswa berkisah antara cinta, buku dan pesta. Menyenangkan dan mengagumkan. Lihat saja kakak-kakak mahasiswa yang ada di sekitar kalian: percaya diri, gembira dan sangat antusias. Kampus telah menyulap semua kesedihan jadi rasa riang. Kampus telah membuat ketakutan jadi kenekadan. Walau ada cerita buruk tentang mahasiswa tapi itu hanya menegaskan kalau mereka bukan kumpulan dewa. Mereka adalah manusia muda yang tak luput dari sikap ngawur dan tanpa perhitungan. Kalau anak muda kok selalu berbuat benar, lurus dan bijak: itu namanya bukan orang tapi robot yang bertampang muda!

Tapi hari ini kalian mengikatkan diri pada kehidupan kampus yang memiliki tradisi pendidikan yang buram. Tempat teramai di semua sekolah atau kampus hanyalah kantin. Sebaliknya tempat paling sunyi adalah perpustakaan. Kelaparan bukan menimpa orang miskin tapi mahasiswa-mahasiswa muda yang letih menerima bahan kuliah. Pelajaran tidak membuat cerdik tapi membikin lapar. Pelajaran bukan membuat berani tapi jadi begitu penakut. Apalagi kampus-kampus makin gemar mengurung mahasiswa dengan absensi yang sangat ketat, disiplin dan sangat menyengsarakan. Mahasiswa hanya kelihatan ramai, riang dan gempita kalau ada di luar. Dalam ruang kuliah mereka jadi umat yang diam, lembek dan penuh keraguan. Ruangan kuliah sudah sunyi dari perdebatan karena pengajaran dan pementasan tak ada bedanya. Kerumunan banyak peserta kuliah seperti dengung lebah yang tidak menggigit. Mereka banyak tapi tak ada apa-apa; mereka berpenampilan menawan tapi tidak punya pikiran tangguh. Mereka seperti barisan robot yang hilir-mudik mendapatkan nilai dan takut kalau dianggap bodoh, tolol dan tidak sempurna. Pendidikan kita hanya menginginkan yang terbaik dan tidak memberi tempat untuk mereka yang gagal. Pendidikan tiba-tiba punya kemauan untuk melahirkan malaikat bukan manusia. Sungguh cita-cita tolol dan amat kejam.

Lalu untuk apa sebenarnya kalian kuliah di sebuah negeri yang sudah remuk-redam? Jika pekerjaan yang kalian harapkan; siap-siaplah menjadi pengangguran. Ada banyak sarjana menganggur dan lebih banyak lagi sarjana yang bekerja sia-sia. Lulusan fakultas hukum jadi jaksa yang begitu gampang disuap, lulusan kedokteran jadi dokter yang mahal layanannya; lulusan ekonomi hanya jadi menteri yang akalnya hanya menaikkan harga. Mereka memang bekerja tapi bukan untuk sebuah layanan bermakna tapi kesia-siaan yang semu. Mereka memakai baju yang penuh kehormatan tapi mereka mengerjakan kegiatan yang tak terhormat. Dan kalian menjadi pelajar di sebuah negeri yang mengalami kesusahan. Kita bersekolah di sebuah tempat di mana kelaparan jadi hiasan jalanan dan kemiskinan hanya bahan analisa. Mandat kalian besar dan tenaga kalian begitu lemah. Sedangkan pendidikan gagal untuk menjelaskan realitas ini dan lebih banyak menampilkan mimpi dan fantasi. Pendidikan tak pernah mendekatkan kalian dengan alam sekitar dan hanya menjamu keindahan, kebanggaan dan kenaifan. Pendidikan telah membuat kalian bangga menjadi majikan dan gengsi jika menjadi orang apa adanya. Karena itu pelajaran paling bermasalah di pendidikan kita ialah membaca, menulis dan berorganisasi. Ketiga ilmu itu dikalahkan oleh bilangan demi bilangan. Membaca yang membuat kita kenal dengan dunia nilai; menulis akan mengenalkan siapa kalian sebenarnya dan berorganisasi akan membuat kita tahu makna kebersamaan. Ketiga pelajaran itu lenyap dan tidak dianggap penting. Semuanya ditumpas habis karena mandat sekolah kini mirip dengan tugas bimbingan belajar: hanya ‘meluluskan’ siswa!

Saatnya kalian sadar kalau pendidikan tak memberi apa-apa. Jika kutanya apa yang kamu senangi ketika sekolah, jawaban anak-anak SMU di semua tempat sama: saat istirahat, waktu pulang dan ketika guru tidak masuk. Sekolah yang kita ingat hanyalah pengalaman berteman, berkawan dan bergaul. Itulah yang diam-diam mematangkan emosi kalian, yang mendekatkan kalian dengan kenyataan dan membuat kalian memahami tentang keajaiban. Kini mahasiswa sepatutnya meletakkan itu dalam kerangka organisasi. Organisasi adalah jalan untuk mematahkan pengalaman sesat berfikir dalam pendidikan. Tempat berorganisasi paling ideal sampai sekarang hanya berada di kampus. Selama tinggal di kampus cobalah untuk aktif dalam organisasi karena itulah esensi dari pendidikan: mengalami, menyelesaikan dan mengerjakan semuanya secara bersama. Pendidikan bukan sebuah tempat untuk melatih kecerdasan semata. Pendidikan lebih dari itu, ia menanamkan nyali, ia menaruh kecurigaan besar akan kemapanan. Pendidikan adalah latihan kita untuk melakukan pemberontakan, menghasut pertanyaan dan melahirkan tata perubahan baru. Hanya dikatakan dewasa jika orang berani mengambil tindakan dan bertanggung jawab atas tindakannya itu. Organisasi dan gerakan adalah roh dari pendidikan tinggi; bukan kuliah dan diktat ujian. Yang terakhir itu hanyalah ornamen pendidikan; ada untuk sekedar menandakan bahwa di sana terdapat kegiatan belajar-mengajar. Ada karena itulah ganti rugi dari uang yang kalian sedekahkan ke kampus ini. Bukan saja kalian yang beruntung tapi kampus ini beruntung karena masih bisa ‘meyakinkan’ kalian untuk tinggal disini. Sebab masih banyak anak muda nekad yang tak lagi percaya terhadap apa yang anda percayai sekarang ini.

Itu sebabnya dari pendidikan terbaik muncul siswa terbaik. Pendidikan kolonial bisa melahirkan seorang yang bernama Tan Malaka. Pria yang pendiam dan sekaligus pemikir yang tangguh. Dari tanganya kita tahu pentingnya menanamkan semangat anti kolonialisme. Tan Malaka paham bahwa jiwa kemerdekaan tak bisa ditindas dengan segala cara. Ia menyatakan dengan keras: merdeka 100%. Melalui pendidikan hadir pribadi besar dan agung yang bernama Soekarno. Laki-laki yang menyatukan bangsa ini dan membuat deklarasi kemerdekaan paling sederhana. Juga muncul pria saleh dan tertib yakni Hatta. Juga tampil pria budiman tapi bersahaja yang bernama Sjahrir. Muncul pula seorang nekad yang begitu pemberani yang bernama Amir Sjariffudin. Dan masih banyak pendiri bangsa ini yang dulunya adalah siswa dari pendidikan kolonial. Mereka mungkin tak terlampau rajin mengikuti sekolah, mereka mungkin juga tak begitu berat membawa buku, atau bahkan kurang begitu antusias untuk ikut lomba-lomba. Tapi mereka berhimpun dalam sebuah blok politik untuk menjadi ‘pemberontak’. Karena nyali mereka kalian bisa menikmati negeri ini dengan semua kebrengsekanya. Karena mahasiswa-mahasiswa yang bertipe seperti mereka-lah maka kampus menemukan makna terdalamnya. Tempat dimana kebebasan organisasi dijamin dan kebebasan intelektual dijaga. Sjahrir, Hatta, Soekarno menjadi mahasiswa bukan sekedar keinginan mendapat pekerjaan tapi mereka membuat pekerjaan untuk bangsa yang mereka hendak bangunkan. Soekarno menyebut diri sebagai ‘penyambung lidah rakyat’ karena memang itulah tugas seorang terpelajar.

Kini kalian punya kesempatan untuk menjadi ‘pemberontak’. Mengikuti jejak-jejak mereka. Sjahrir nekad tak menyelesaikan studi karena tugas berat untuk memerdekakan Hindia Belanda. Hatta bahkan berjanji tak akan menikah sebelum negeri ini merdeka. Dan Soekarno membantah perintah rektornya untuk tidak ikut berbagai kegiatan politik. Mereka bukan kumpulan anak-anak muda dungu yang serba penakut. Menaati semua perintah tanpa mau tahu maksud dan kepentingan apa di baliknya. Mereka bukan pula anak-anak muda yang begitu kagum dengan nilai atau sebaliknya terlalu mengkerdilkan makna belajar. Mereka seakan tahu bahwa kesempatan untuk kuliah ini merupakan ‘hutang’ yang harus dibayar. Mereka seolah tahu bukan karena biaya, kesempatan dan kepintaran mereka menjadi mahasiswa; tapi pengorbanan sekian ribu rakyat yang menderita. Mereka menjadi kaum terpelajar di sebuah negeri yang masih dijajah. Mereka memang ada yang tidak berhasil menjadi sarjana; tapi mereka lulus dalam ujian kehidupan. Mereka memerdekakan negeri ini. Jadi, kampus akan menjadi tempat yang membuktikan siapa diri kalian sebenarnya: anak penakut yang selalu kuatir pada masa depan sehingga mengikuti apa saja yang dinyatakan; atau anak pemberani yang merasa bahwa tugas menjadi mahasiswa bukan sekedar kuliah-kuliah-kuliah. Tugas jadi mahasiswa, persis seperti dibilang Hatta, penggerak akal sehat dan pecinta akal-budi. Karena itulah alasan yang patut kalian tinggal dan berada di kampus ini.



9 Responses to “Selamat Datang Mahasiswa”

  1. Mahasiswa merupakan bagian dari sistem pendidikan, ada baiknya turut memandang bagaimana sistem pendidikan itu dibentuk, siapa yang merancang dan akan dibawa ke mana sistem itu,.

    Salam kenal ya,.🙂

  2. mahasiswa adalah soko guru perubahan, ia bukan identitas yang dimitoskan lewat pagelaran sejarah masa lampau, tetapi ia manusia organik yang bisa menjadikan teori dan praktik sebagai titik tolak untuk mengelindingkan bola revolusi di semua lapisan struktur masyarakat. mahasiswa sekedar jembatan yang sekedar untuk dilewati, tetapi ia akan menjadi pemuda dalam konteks perubahan masyarakat. dengan demikian mahasiswa mengabsahkan titah yang selama ini ia pegang sebagai keyakinan hidup, bukan sebatas status sosial, yakni agent of social change. jika sebaliknya yang terjadi, ia hanyalah manusia yang tidak ada gunanya hidup di tengah kehidupan yang tidak hidup.

  3. Saluutt…untuk bung Eko.

    Mungkin saya terlalu ada jika saya menyebut diri sebagai manusia ( mahasiswa ) yang senang berbuat untuk rakyat. Tapi, jika harus, maka saya harus buka kartu kalau saya adalah seorang mahasiswa yang sering bergerak untuk berbuat di ranah saya, Atjeh.

    Lewat media ini, saya cuma ingin bilang kalau apa yang bung Eko sebut itu pernah terlintas dibenak saya jauh sebelum saya membaca ini, dan untuk itu mungkin suatu anugerah tuhan bahwa ada kesamaan pemahaman yang diberikan untuk manusia, antara aku dan bung Eko. Maka dari itu, sebagai yang masih kotor, izinkan saya menjadi murid bengal diantara buku-buku bung. Terima kasih.

  4. 4 nike

    merupakan suatu keharusan kita tidak berpangku tangan meluhat kronologi terencana yang diterapkan mereka yang saat ini memegang tampuk kepemimpinan bangsa ini,methodelogi serapan dari negeri paman sam,rupanya lebih utama dari pada ajaran nenek moyang tentang,tauladan.tenggang rasa, dan tepo sliro………………ketika mahasiswa dipersulit dalam belajar , semakin menunjukan turunya kewibawaan pemerintah, bangun dari kemunduran berfikir…,m e r d e k a !!!!

  5. 5 ferdhi

    indonesia bubar….!!!!
    itu kita yang pantas dikumandangkan apabila negri ini terus berada di situasi sepeti ini. kebutuhan pokok mahal, pendidikan mahal, kesehatan mahal, semuanya mahal. masyarakat kita sebagaian besar adalah orang yang miskin materi, bagaimana bangsa ini mau pintar dan bertahan apabila rakyat tidak bisa mengakses kebutuhan dasar mereka. pemerintahan sekarang sepertinya ingin menjadikan indonesia menjadi negara koloni, seperti amerika yang suku inidiannya terpinggirkan, atau australia yang suku aboriginnya telah terasing. sbentar lagi orang-orang suku asli indonesia pun akan seperti mereka para indian dan aborigin. apakah harus kita membunuh presiden dan kroni-kroninya untuk menghentikan kebiadaban mereka dalam mengelola negri ini?? apakah harus???
    ayo kawan-kawan, sadar dan bangkitlah…kia tentunya tidak mau bangsa ini hancur. kita tentu tidak mau puluhan tahun yang akan datang indonesia hanya tinggal sejarah. “dahulu pernah ada negara bernama indonesia yang terdiri dari gugusan pulau dan dihuni berbagai macam suku. namun negara itu tinggal sejarah, indonesia hancur karena terpaan globalisasi” mungkin itu kata-kata yang akan tercantum dalam sebuah buku sejarah di negara indoneska–negara yang dulunya bekas indonesia, namun kini sudah menjadi negara koloni amerika–. sangat prihatin bukan??? mari renungkan dan bergerak bersama menyelamatkan negeri ini…
    salam perlawanan,

  6. 6 inginmerdeka

    saya sangat tertarik pada ide2 dan gagasan anda.saya pernah beberapa kali membaca buku anda spt Islam Agama Perlawanan. Saya berharap bisa melakukan diskusi dengan bung Eko Prasetyo. Bolehkah saya minta alamt atau no telepon anda??barangkali kita bisa bertemu suatu saat ketika saya berkunjung ke yogyakarta..

  7. 7 FREEDOM

    mahasiswa adalah agen perubahan sekaligus korban sistem pendidikan. mahasiswa adlah calon penerus bangsa sekaligus kelompok konsumen potensial bagi para produsen. mahasiswa adalah kelompok yang sibuk mencari jati diri.mau hidup nyaman dengan ikut arus, ato hidup menjadi pembaharu yang kadang harus melawan arus.
    sebenarnya sy sangat tertarik untuk diskusi langsung dengan bung eko. dimana say bisa menemui bung eko??di kantor resistkah??

  8. 8 rafli

    mahasiswa garda terdepan dalam perubahan bangsa ini, pada mereka wakulnya rakyat di amanahkan jangan sampai nglempang, korat karetjadinya. mahasiswa indonesia adalah mahasiswanya rakyat bkan mahasiswanya kekerasan..

  9. mahasiswa. mendengar kata ini, saya murung. mendengar kata ini, terbayang seorang jumawa, sok, atau apalah sebutannya. Dia berdiri di pucuk patung liberty. matanya julinng ke langit.
    mahasiswa teladan lupa diri, mendambakan sesuatu yang hampir utopis sembari membelakangi realita. mahasiswa, inginnya membenahi,padahal dia tak kunjung berbenah diri.
    oleh mahasiswa kini, teori tinggal teori, sangat nirkoeksistensi. mahasiswa kini, pandai mengkritik yang mereka namakan sebagai “the others”, namun jarang, mungkin tak sama sekali pernah berkritik diri.
    daripada menjadi mahasiswa semisal itu, lebih baik saya tak disebut mahasiswa, tak disebut progresif, menerima panggilan puritan dan terbelakang.
    dengan panggilan puritan, barangkali, saya berkeinginan untuk menjadi tak puritan lagi. bagi saya, cukuplah kritik dan perubahan itu terjadi pada saya, pada tiap-tiap saya, pada tiap-tiap diri mahasiswa.
    jika saya telah berubah, sistem pun akan panik, kacau, dan berubah dengan sendirinya.
    dengan begitu, mendengar kata mahasiswa, saya tak murung lagi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: