Sejarah Perkembangan Gerakan Perempuan di Eropa

17Jul08

oleh Titis Prihatini
dimuat dalam Joglo Semar, 11 Januari 2008

Judul Buku: Feminisme untuk Pemula
Penulis: MR, MR, SAW
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, Desember 2007

Sebagian besar laki-laki akan cenderung memandang negatif dengan gerakan perempuan. Karena, yang terlintas di kepala mereka tentu seorang perempuan yang galak, mandiri (tidak tergantung dan membutuhkan laki-laki lagi), kritis dan tidak mau disuruh-suruh.

Sebenarnya bagimana sih, gerakan perempuan yang sebenarnya. Bagaimana lika-liku sejarah perkembangan gerakan perempuan di Eropa? Apa yang menjadi persoalan perempuan? Mengapa mereka menuntuk hak yang sama dengan laki-laki?

Jika, berbicara soal sejarah gerakan perempuan di Indonesia: tidak bisa lepas dari perkembangan revolusi industri yang terjadi di Eropa. Arus revolusi industri membuat pemisahan ranah publik dan ranah domestik. Laki-laki berkesempatan bekerja di ranah publik, sementara perempuan harus rela dirinya di wilayah domestik.

Ketika berjalannya waktu, perempuan kemudian diperbolehkan bekerja di wilayah publik dan bisa mendapatkan upah untuk membiayai kehidupannya. Ketakutan akan perempuan tidak lagi bergantung pada laki-laki, kemudian dibuat sebuah kebijakan bahwa upah perempuan selalu lebih rendah dari laki-laki. Karena dengan asumsi, perempuan sebenarnya tidak memiliki hak untuk bekerja di wilayah publik, selain itu jaminan kehidupan perempuan masih harus bergantung pada laki-laki.

Saat ini, di Indonesia perempuan sudah dirampas haknya. Dulu perempuan memiliki hak atas bibit, tanah dan air. Ketiga hak tersebut memiliki sejarah yang cukup panjang. Pertama, hak memilih bibit: dulu perempuan bekerja di wilayah pertanian membantu laki-laki, tapi ketika laki-laki sudah memperoleh akses di ranah publik, perempuan kemudian mencoba mengembangkan pertaniannya dengan cara mengolah lahannya dengan mencari dan mendapatkan bibit yang bagus. Dari sana “pertanian” sebenarnya perempuan memiliki hak dan tahu benar mengenai bibit yang bagus, tanah yang subur dan air yang bagus untuk mengairi lahan dan juga yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari (mandi, mencuci dan memasak). Namun semuanya kini dirampas secara sistem. Pembangunan pabrik yang tidak memikirkan pembuangan limbah membuat hak mereka terampas. Di lain sisi pengambilan kebijakan yang menyangkut mengenai keluarga selalu tidak banyak melibatkan perempuan.

Mengekang Perempuan
Pemerintah pun juga turut ikut-ikutan untuk mengekang perempuan. Dengan adanya alat kontrasepsi membuat perempuan tidak memiliki tubuhnya sendiri. Sebagian besar perempuan memiliki problem kesehatan setelah mengunakan alat kontrasepsi. Karena hormon mereka yang kemudian langsung berubah. Slogan yang dibuat pemerintah “dua anak cukup” membuat perempuan semakin tidak punya pilihan lain untuk ber-KB. Sementara laki-laki tidak diwajibkan untuk memakai alat kontrasepsi.

Berbagai pola gerakan perempuan yang ada sebenarnya pada intinya memperjuangkan hak perempuan. Namun pola yang ada dan berkembang selalu mendapat kritikan dari pola gerakan perempuan yang lain. Ada yang mengangapnya terlalu toleran ada juga yang dianggap terlalu berani. Image yang dibentuk Orde Baru pun sebenarnya turut membentuk opini masyarakat, bahwa perempuan yang kritis itu pasti orang tuanya ada sangkut-pautnya dengan PKI atau Gerwani.

Sejarah gerakan perempuan di Indonesia yang diangap massif dan radikal diawali dari Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar) yang kemudian berkembang menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Selain memperjuangkan kaumnya (perempuan) Gerwani juga sudah turut mengambil langkah dan terlibat di ranah politik. Mereka percaya bahwa sistem yang dijalankan saat itu merupakan salah satu penyebab ketertindasan perempuan. Sejarah gerakan perempuan Indonesia dan sejarah gerakan nasional merupakan materi yang wajib diberikan kepada kader-kader Gerwani. Ketika Orde baru berkuasa dan kondisi politik berubah arah, perempuan dipasung dalam ranah domestik. Propaganda dari media yang dikeluarkan oleh (militer) membuat mereka tidak boleh berorganisasi dan juga tidak ada hak untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri. Mereka hanya diperbolehkan mengurusi rumah tangga dan mengurus anak-anaknya.

Ketakutan pemerintah terhadap gerakan perempuan di Indonesia, membuat aktivitas perempuan dibatasi. Agar pemerintah dipandang tidak takut dengan gerakan tersebut mereka kemudian memfasilitasi untuk membentuk sebuah wadah khusus untuk perempuan semacam Dharma Wanita, kelompok PKK. Namun wadah tersebut sebenarnya justru malah mengungkung, karena semua aturan dan kebijakan yang akan dibuat tetap atas sepengetahuan dan seizin dari perangkat negara, baik itu di tingkat lokal maupun nasional.

Tulisan di atas merupakan rangkaian yang tak lepas dari mengapa gerakan perempuan harus ada. Perjuangan persamaan hak yang seharusnya didapatkan oleh laki-laki dan perempuan menjadi menimbulkan konflik antara kaum laki-laki dan perempuan.

Buku Feminisme untuk Pemula, sangat cocok dibaca oleh orang-orang yang ingin mempelajari sejarah feminisme di Eropa. Membaca buku ini menjadi semakin mengerti, esensi yang diperjuangkan gerakan perempuan dari masa ke masa “kemarin, kini dan esok”. Buku ini juga kaya akan gambar yang semakin mempermudah pembaca untuk mempelajari sejarah tersebut. Buku yang menjadi referensi utama jika berbicara soal sejarah feminisme.

Titis Prihatini, pembaca buku.



No Responses Yet to “Sejarah Perkembangan Gerakan Perempuan di Eropa”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: