Hegemoni

28Jun08

oleh Daniel Hutagalung
dikutip (halaman xxii-xxvi) dari:
“Hegemoni dan Demokrasi Radikal-Plural: Membaca Laclau dan Louffe”,
Pengantar Buku: Hegemoni dan Strategi Sosialis
Penulis: EL dan CM
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008

Buku ini dimulai dengan menengok genealogi konsep hegemoni jauh ke belakang, khususnya pada sejarah diskursus Marxisme maupun sosialisme. Dari sini akan dilihat inovasi teoritis dari studi dan pemikiran Laclau dan Mouffe lewat buku Hegemoni dan Strategi Sosialis ini.

Menurut Laclau dan Mouffe, hegemoni pertama kali muncul bukan sebagai persebaran yang luar biasa dari sebuah identitas, melainkan sebuah respon terhadap terjadinya krisis. Dalam memberikan ilustrasi dari munculnya konsep hegemoni, bagian pertama buku Hegemoni dan Strategi Sosialis diawali dengan subjudul “The Dilemmas of Rosa Luxemburg” yang merujuk pada karya Rosa Luxemburg tahun 1906 yakni The Mass Strike, the Political Party and the Trade Unions. Dalam karyanya itu, Rosa melihat bahwa fragmentasi dalam kelas buruh merupakan sebuah keharusan, sebagai akibat struktural dari kapitalisme tahap lanjut. Meskipun begitu, Rosa juga melihat bahwa pada saat yang sama, prospek bagi perjuangan revolusioner bukan ditandai oleh bekerjanya hukum-hukum ekonomi, melainkan oleh terbentuknya persatuan kelas buruh secara spontan, melalui medium aksi simbolik. Cara pandang Rosa Luxemburg ini yang menunjukkan adanya keterpisahan “teori” dengan “praktek” menunjukkan tanda-tanda atau gejala yang jelas dari krisis dalam Marxisme, yang menjadi titik-awal analisa Laclau dan Mouffe.

Analisa Rosa Luxemburg tersebut sebenarnya berbenturan dengan model dominan Marxisme pada masa itu, yakni suatu metode kerangka kerja yang disarikan dari komentar Karl Kautsky terhadap Efrut Programme (1892). Menurut teks Kautskian, Marxisme merupakan doktrin esensialis yang melekat pada tidak terpisahkannya “kesatuan teori, sejarah dan strategi”. Analisa Kautsky merupakan ujud dari kemunculan ortodoksi dalam Marxisme, sekaligus menunjukkan “krisis Marxisme”. Laclau dan Mouffe mendiskusikan tiga respon yang mewaspadai terjadinya krisis Marxisme, yakni: munculnya “ortodoksi Marxisme”, formulasi pendekatan “revisionis” oleh Bernstein dan “sindikalisme revolusioner” dari Georges Sorel.

Ortodoksi Marxisme termasuk juga penguasaan atas posisi dominan atau pengistimewaan teori abstrak atas perjuangan sosial yang konkret, dan juga atas praktek politik partai-partai sosial demokrat. Adanya perbedaan dengan postulat-postulat teoritik diperlakukan baik dengan memberikan “gambaran” yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya, maupun juga fenomena yang berkaitan, sebagai suatu kontijensi yang tidak dapat mengubah arah terhadap berbagai peristiwa yang sudah diprediksi: yaitu posisi dominan persatuan kaum proletariat di bawah kepemimpinan partai buruh. Hanya pada beberapa kesempatan saja, khususnya dalam kasus Labriola dan Austro-Marxism, ortodoksi memberikan sedikit ruang bagi inisiatif politik yang otonom, namun tidak mengintegrasikan inisiatif-inisiatif tersebut dalam kerangka teoritis secara keseluruhan.

Soal hubungan politik dan ekonomi, atau basis dan superstruktur, merupakan motif utama pendekatan revisionis Bernstein. Posisi revisi yang menekankan bahwa fragmentasi atau pembegian kelas pekerja dalam sistem kapitalisme tahap lanjut dapat dirawat hanya dengan intervensi politik secara konkret. Menurut Laclau dan Mouffe, revisionisme Bernstein juga mendukung tipe reformisme gradual.(1)

Sindikalisme revolusioner yang diusung Sorel untuk pertama kalinya mencoba untuk mengkonseptualisasikan otonomi sosial. Gagasan Sorel adalah menggantikan kesatuan kelas ekonomi dengan “blok-blok” sosial yang lebih cair, yang diikat dengan tujuan-tujuan ideologis: rencana tersebut adalah mitos “pemogokan umum” kaum sindikalis, atau “revolusi” menurut Marx, yang memiliki fungsi “sebagai sebuah titik ideologis yang cair bagi identitas proletariat, yang dibangun atas dasar persebaran posisi-posisi subyek”.(2)

Akibat langsung dari reaksi-reaksi tersebut, yang berujung kepada fragmentasi sosial, adalah kemunculan konsep “hegemoni” sebagai area dari sebuah “logika politik” yang baru. Dalam diskursus Marxisme ortodoks, konsep tersebut hanya berada di tempat yang marjinal, sebagai penanda untuk teoritisasi peristiwa-peristiwa yang tidak beraturan. Misalnya dalam tulisan-tulisan Plekhanov, hegemoni mengarahkan keberagaman tugas-tugas (ekonomi dan politik) yang dipaksakan terhadap kaum proletar di Russia sebagai hasil dari keterbelakangan ekonomi.

Menurut Laclau dan Mouffe, hubungan relasi pada titik ini hanya semata-mata dilihat sebagai, “suplemen dari hubungan-hubungan kelas”. Dengan membedakannya lewat cara Saussure, bisa dikatakan “hubungan hegemonik selalu merupakan parole, sedangkan hubungan kelas merupakan langue”.(3) Mereduksi hegemoni hanya sekedar status suplemen tetap dipraktekkan dalam Leninisme, khususnya dalam rumusan Lenin soal “aliansi kelas” yang diposisikan di bawah kepemimpinan partai proletariat sebagai garda depan. Merujuk pada “pemusatan ontologis” kepada proletariat, aliansi kelas dalam kasus ini tidaklah mengubah identitas-identitas kelas secara esensial yang mengarahkan penyatuan mereka dengan tuntutan-tuntutan demokratis yang implisit dalam praktik-praktik hegemonik.

Dalam buku ini, Laclau dan Mouffe menilai terjadinya patahan penting dalam konsep hegemoni terhadap esensialisme Marxisme yang dipelopori oleh Antonio Gramsci. Secara khusus Mouffe menilai bahwa pokok terpenting bagi analisa mengenai konspesi ideologi yang dioperasikan dalam hegemoni Gramscian adalah melakukan studi dalam hal bagaimana Gramsci menggambarkan proses formasi hegemoni yang baru.(4) Bagi Lacalu dan Mouffe, Gramsci keluar dari deterministik identitas kelas peninggalan Plekhanov dan Lenin, dan memfokuskan pada pengelompokan sosial yang lebih luas yang ia sebut “blok historis” di mana kesatuan tujuan atau “keinginan kolektif” yang diusung atas dasar kepemimpinan intelektual dan moral dalam konteks hegemoni politik dan kultural.

Gramsci menekankan bahwa hegemoni berhasil ketika kelas penguasa berhasil menyingkirkan kekuatan oposisi, dan memenangkan persetujuan – baik secara aktif maupun pasif – dari para sekutunya.(5) Menurut Gramsci, subyek dari tindakan politik tidak dapat diidentifikasikan dengan kelas-kelas sosial, pada saat mereka mencapai bentuk “keinginan kolektif” yang menciptakan ekspresi politik dari sistem hegemoni yang dikonstruksi melalui ideologi. Formasi dari sebuah keinginan kolektif bukanlah konsekuensi dari tekanan ideologi kelas dominan terhadap kelas-kelas lainnya, melainkan produk dari reformasi moral dan intelektual, yang mengartikulasikan kembali elemen-elemen ideologis. Jadi secara umum bisa dikatakan bahwa hegemoni dalam pemahaman Gramsci adalah mengorganisir persetujuan – proses yang dilakukan melalui bentuk-bentuk kesadaran yang tersubordinasi dikonstruksi tanpa harus melalui jalan kekerasan atau koersi. Blok penguasa ini tidak hanya beroperasi di tataran masyarakat politik (political society), tetapi juga di seluruh masyarakat (civil society).(6)

Hegemoni adalah bagaimana elemen partikular mampu mengkonstruksi tuntutan mereka menjadi universal. Sebagaimana dalam pandangan Louis Althusser, proses seperti dominasi negara terhadap masyarakat berlangsung melalui aparat-aparat ideologis negara yang mengkonstruksi kesadaran palsu dalam masyarakat, dan membentengi masyarakat dari pembentukan pengetahuan akan adanya eksploitasi dan penindasan. Kesadaran palsu membentuk masyarakat menyetujui tindakan-tindakan yang diambil oleh negara, sekalipun tidak berkesusaian dengan kepentingan mereka, proses ini yang disebutnya proses hegemonisasi yang membuat kelas yang menguasai negara dapat bertahan lama.(7)

Namun hal terpenting dari konsepsi hegemoni Gramsci – maupun lainnya – adalah bagaimana hegemoni merupakan bentuk dari masyarakat sipil untuk membangun kekuatan politiknya dalam menghadapai rejim yang opresif dan represif. Dalam konteks ini Gramsci membedakan dua bentuk hegemoni yakni: transformisme dan hegemoni ekspansif. Kedua bentuk ini melibatkan sebuah proses simultan revolusi-restorasi. Restorasi cenderung mendominasi bentuk transformisme, sementara revolusi cenderung mendominasi bentuk hegemoni ekspansif. Transformisme bisa dilihat sebagai tipe defensif dari politik, yang diikuti oleh kekuatan hegemonik dalam sebuah situasi krisis ekonomi dan politik, dan melibatkan absorpsi secara gradual namun terus-menerus, dicapai melalui metode yang selalu berubah-ubah sesuai dengan efektivitas dari elemen-elemen aktif yang diproduksi oleh kelompok-kelompok yang beraliansi – dan bahkan dari kelompok-kelompok atau individu yang merupakan kelompok antagonistik dan kelihatannya merupakan lawan yang tidak terdamaikan.(8 ) Tujuan dari bentuk ini adalah sebuah konsensus yang pasif, yang bisa menetralisir kekuatan politik yang antagonistik dan memecah-belah massa.(9) Dengan kata lain transformisme merupakan revolusi tanpa massa – revolusi yang pasif. …

Catatan Akhir:
(1) Ernesto Laclau, New Reflections, hal. 30.
(2) Ibid., hal. 37, 40.
(3) Laclau and Mouffe, Hegemony and Socialist Strategy, hal. 51.
(4) Chantal Mouffe, “Hegemony and Ideology in Gramsci”, dalam Chantal Moufe (Ed), Gramsci and Marxist Theory (London: Routledge, 1979), hal. 185.
(5) Antonio Gramsci, Selections From Prison Notebooks (London: Lawrence and Wishart, 1986), hal. 104-105.
(6) Michèlle Barrett, The Politics of Truth: From Marx to Foucault (California: Stanford University Press, 1991), hal. 54.
(7) Louis Althusser, “Ideology and Ideological State Apparatuses: Notes Towards an Investigation”, dalam Lenin and Philosophy and Other Essays (New York: Monthly Review Press, 2001), hal. 98-99.
(8 ) Antonio Gramsci, Prison Notebooks, hal. 58-59.
(9) Chantal Mouffe, “Hegemony and Ideology in Gramsci”, hal. 182.

Daniel Hutagalung, peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan Institut Riset Sosial dan Ekonomi (Inrise).



One Response to “Hegemoni”


  1. 1 Referensi « Reno Triawan’s Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: