Meresapi Jiwa Natsir dan Soekarno

19Jun08

oleh Asri Bariqah
dimuat dalam Jawa Pos, 1 Juni 2008

Judul Buku: Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin! Soekarno, Semaoen, & Moh. Natsir
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, Mei 2008

Pangemanan, seorang tokoh dalam Rumah Kaca, novel legendaris Pramoedya Ananta Toer, pernah berujar, ”Bagaimanapun masih baik dan beruntunglah seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Daripada seorang penipu yang berhasil menjadi pemimpin dan banyak pengikutnya…”

Sindiran pahit ini bisa dikata sebagai ruh utama dalam buku Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin! karya Eko Prasetyo ini. Tak jauh beda dengan buku-buku Eko yang lain, buku ini masih disesaki dengan nuansa provokasi dan agitasi positif untuk membakar adrenalin semangat para pembaca, terutama kaum muda. Bedanya, kali ini Eko bersedia menurunkan ”derajat” pola penulisannya menjadi jauh lebih sederhana, santai, ringkas, dan lugas. Tentu bidikannya agar segmen anak muda (remaja) yang diharapkan sebagai pembaca utamanya dapat mencerna dengan baik dan asyik. Dengan pemakaian bahasa dan pengungkapan popular khas anak gaul, jadilah tulisan dalam buku ini renyah untuk dikunyah. Lebih gokil lagi, nyaris di setiap halamannya bertebaran karikatur dan kartun strip yang jenaka, satir, menggelitik, namun juga menggugah simpul kesadaran kita.

Rasanya tak berlebihan jika dulu Bung Karno pernah lantang berkoar bahwa keberadaan para pemuda (dan juga pemudi) amat vital bagi perjalanan sejarah sebuah bangsa. Di banyak wilayah di dunia, pemuda terbukti mumpuni berperan sebagai lokomotif pembuka sekaligus garda perubahan yang bergerak di barisan terdepan. Sesuatu yang wajar apabila Bung Karno mengibaratkan bahwa andai seribu orang tua hadir bersamanya, mungkin mereka bisa memindah sebuah gunung. Namun, bila harus memilih, ia lebih suka ditemani oleh sepuluh pemuda dengan semangat dan cita-cita yang besar. Karena spirit kawula muda, dalam istilah Soekarno, akan sanggup mengubah wajah dunia.

Tema seputar pemuda dan kepemimpinan sengaja diangkat penulis berangkat dari kegelisahan kronis berupa krisis multiaspek yang saat ini melanda negeri Zamrud Khatulistiwa. Salah satu biang pokok dari segala kesemrawutan yang ada di bangsa ini tak lain karena lumpuhnya kepemimpinan nasional. Langkanya sikap keteladanan yang ditunjukkan para pejabat dan pemimpin kita menjadi faktor terbesar dari lambannya penanggulangan berbagai problema kebangsaan yang nyaris mengalir tanpa henti. Ketika jutaan rakyat menjerit akibat tindihan beban ekonomi, para pemimpin bangsa justru asyik memamerkan pola hidup bak selebriti yang bertabur kemewahan fasilitas negara.

Satu-satunya prestasi fenomenal yang diukir anak bangsa adalah pencapaian angka korupsi yang berada di peringkat teratas dunia. Bukan tanpa dasar jika pada September 2007, PBB mempublikasikan data yang menyebutkan bahwa salah seorang mantan presiden kita berada di ranking tertinggi daftar kepala negara dan mantan kepala negara yang diduga mencuri kekayaan negaranya sendiri dalam jumlah yang besar. Belum lagi gaya flamboyan para politisi yang dengan bangga melakukan praktik korupsi dengan berbagai alasan. Sikap arogan juga terlihat begitu kentara saat mereka alergi terhadap kritik dan aspirasi rakyat yang telah rela memilihnya. Misalnya, mereka tidak terima ketika grup musik Slank menyindir perilaku negatif yang marak di kalangan anggota parlemen. Padahal apa yang disuarakan Slank sejatinya realitas sosial yang nyata dan tak bisa ditutup-tutupi.

Ada tiga tokoh utama yang disodorkan buku ini untuk dijadikan rujukan, paling tidak sebagai bahan permenungan bagi para pemuda (calon pemimpin) serta para pemimpin yang sedang berkuasa. Ketiganya mewakili komunitas dan ranah ideologi yang berbeda. Yakni Moh. Natsir dari kalangan agamis, Soekarno (nasionalis), serta Semaoen (sosialis). Mereka bukan saja berhasil mencontohkan kesederhanaan hidup, kesungguhan bekerja, serta kekokohan idealisme, namun juga menjadi gambaran dari sosok pemimpin yang sukses memimpin dalam usia muda.

Dalam usia belasan tahun mereka sudah menjadi pejuang yang sudi memeras peluh demi kemajuan bangsa dan memerdekakannya dari cengkeraman kolonialisme. Mereka tidak menunggu tua untuk menjadi yang terdepan, akan tetapi sedari dini sudah berani mengambil risiko merebut peluang dan kesempatan menjadi pejuang-pemimpin yang andal. Tepatlah kiranya jika ada slogan bahwa pemuda saat ini adalah pemimpin di kemudian hari. Syubban al-yaum rijaal al-ghad.

Dikisahkan bahwa Natsir muda sangat terobsesi untuk menjadi orang pandai dan bijak seperti gurunya, KH Agoes Salim. Tekad dan kebesaran jiwa para pemuda masa itu tak bisa dikalahkan dan ditukar walaupun dengan tumpukan fasilitas dan jabatan yang dijanjikan lawan. Bersama para pemuda dengan talenta dan semangat baja seperti Sjafroedin Prawiranegara dan Mohamad Hatta, Natsir memperjuangkan aspirasi politik umat Islam. Kendaraan politik yang dipilihnya yakni Masyumi kala itu dikenal sebagai partai politik yang berwibawa dan bersih. Walaupun di antara anggotanya ada yang menjabat sebagai pejabat kabinet (menteri), ada aturan kepartaian yang tegas bahwa kader partai tak boleh sedikit pun memanfaatkan uang negara yang merugikan rakyat.

Natsir adalah simbol dari pribadi yang jenius, bersahaja, dan jauh dari kaya. Ia tak sudi menggadaikan martabat kehormatannya dengan cara menggarong hak-hak rakyat. Hingga akhir hayatnya, ia tidak memiliki rumah tinggal dan harus berpindah-pindah kontrakan. Bayangkan dengan kondisi sekarang, mana ada pejabat sekelas perdana menteri yang hidup kekurangan. Dalam bukunya Membincangkan Tokoh-Tokoh Bangsa (Mizan, 2001), Prof. Deliar Noer mengutip ungkapan duka PM Jepang Takeo Fukuda saat mendengar berita wafatnya Moh. Natsir. Kata Fukuda, ”Wafatnya PM Natsir bagi kami seperti sebuah musibah yang lebih besar dari jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima.”

Walhasil, buku ini penting untuk dibaca oleh siapa pun. Bagi kaum tua, jadikanlah karya ini sebagai cermin koreksi untuk mengaca diri. Mungkin memang sudah waktunya bangsa ini dikelola oleh generasi yang lebih muda. Sedangkan bagi generasi muda, bolehlah Anda ge-er karena buku ini banyak mengungkap ihwal kelebihan potensi kaum muda. Tapi jangan berhenti sampai di situ, karena harapan utamanya adalah kesadaran serta kobaran semangat untuk membuktikan pada dunia bahwa memang pemuda kita bisa bangkit dan layak diberi kesempatan.

Seperti ujaran Jalaluddin Rumi, ”Kamu dilahirkan dengan sepasang sayap. Lalu mengapa kamu lebih suka merangkak dalam meniti hidup?”

Asri Bariqah, bergiat di klub diskusi Stasioen Patemoen Kota Malang.



No Responses Yet to “Meresapi Jiwa Natsir dan Soekarno”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: