Kotaknya Editor – mei 2008

12Jun08

oleh tukang edit
dimuat dalam Resistinfo #24/2008: Agama dan Revolusi Sosial

Selama beberapa hari, Kiki tinggal dengan seorang ibu tua pemecah batu. Tiap hari ia mengikuti apapun yang biasa dikerjakan ibu tua itu. Ia menemai ibu tua itu memecahkan batu-batu cadas di pinggir kali. Bertanya ini-itu mengenai pekerjaan itu, hasil yang didapat, berapa uang yang diterima, cukup atau tidak, dan sebagainya. Ia tak menyangka ibu tua itu ternyata sudah puluhan tahun melakoni pekerjaan itu. Padahal hasilnya tak seberapa. Hanya cukup untuk bertahan hidup. Kamera menyorot secara close-up rasa kasihan yang jelas membayang di raut muka Kiki yang bersih tak pernah mengenal debu. Ketika batu-batu itu sudah selesai dipecahkan, Kiki pun memaksakan diri untuk membantu menyunggi batu-batu yang berat ke tempat pengumpulan.

Menjelang siang, dengan rasa lelah yang belum hilang Kiki masih harus membantu ibu tua itu membuat sendiri minyak goreng dari kelapa karena tak mampu membelinya. Kelapa-kelapa yang sudah tua dikupas serabutnya satu persatu. Setelah lama bersusah payah akhirnya Kiki bisa mengupas satu butir kelapa. Berikutnya, kiki masih perlu memarut daging-daging kelapa itu. Jari-jarinya yang halus pun harus direlakannya ikut terparut di sana-sini.

Malamnya, Kiki harus tidur berdesakan-desakan di ranjang sempit nan reyot bersama ibu tua itu. Tak ada hiburan. Tidak ada radio, apalagi televisi. Yang terdengar hanya suara jengkrik. Kamar tidur itu pun (kalau bisa disebut kamar tidur) hanya diterangi temaram lampu teplok. Kiki melonjak kaget ketika tiba-tiba melihat seekor cicak merayap di dinding.

Harap dicamkan. Kiki bukan seorang kader PKI. Ia tidak sedang mengadakan riset tentang kaum tani dengan menggunakan metode 3 sama: sama bekerja, sama makan, dan sama tidur. Kiki adalah seorang karyawati sebuah bank swasta di kota. Ia mau berepot-repot bekerja, makan, dan tidur dengan ibu tua itu hanya demi perannya sebagai talent untuk keperluan sebuah program acara televisi swasta.

JAM (Jika Aku Menjadi) ditayangkan tiap minggu sore, sejak November 2007. Dianggap sebagai keberanian tersendiri acara ini ditayangkan pada prime time, bersaing dengan sinetron-sinetron yang populer. Menurut produsennya acara ini memang tidak semata untuk mengejar rating. Diharapkan acara ini dapat mempromosikan solidaritas dan kepekaan sosial. Acara ini juga secara tidak langsung merupakan jawaban atas kritik KPI yang menganggap banyak tayangan tv tidak mendidik, mengajarkan takhayul, mengumbar aurat, dan mengekspolitasi kekerasan. Katanya lagi, JAM tidak memberikan mimpi, tapi justru memperkenalkan penonton pada kehidupan orang kecil seperti apa adanya melalui mata rakyat juga, yakni melalui seorang talent.

Meski dikatakan menggambarkan apa adanya, keluarga miskin yang dipilih tentulah tidak sembarangan. Kata sang produsen lagi, JAM tidak akan pernah memprofilkan pengemis. Tokoh yang ditampilkan harus memberi inspirasi. Seorang pengemis dianggap sebagai pemalas dan hanya suka meminta-minta. Untuk mencari keluarga miskin yang layak tayang itulah ternyata menjadi kesulitan utama acara ini. Pernah produsen itu harus membutuhkan waktu 3 hari untuk mencari buruh nelayan Indramayu yang paling miskin. Nelayan miskin memang banyak, katanya. Namun, nelayan yang secara visual dan kondisi faktual menggambarkan nelayan yang sangat miskin tak mudah ditemukan. Kalau dalam kajian media kita pernah dengar ungkapan semakin berdarah semakin bagus, dalam acara ini kita bisa simpulkan: semakin miskin semakin bagus! Bila acara ini tidak mengeksploitasi kekerasan, bagaimana dengan eksploitasi kemiskinan?

Bukan kebetulan juga jika talent yang dipilih selalu seorang gadis muda dari kota. Biasanya seorang mahasiswi, model, atau karyawati. Kenapa seorang perempuan muda dan wajah yang tentu menarik, bukan laki-laki tak sulit ditebak. Ini bukan eksploitasi seks yang vulgar, tapi naif kalau mengatakan unsur itu tidak ada. Maka tak usah heran, meski hidup di lingkungan kumuh atau pedesaan bisa-bisanya mereka berpakaian seperti di kota, memakai kaos ketat dan celana pendek. Di antara centang-perenang barang-barang dan orang-orang yang kumal di sekitarnya, penampilan mereka sungguh kontras dan janggal, sejanggal perempuan seksi mengiklankan pompa air.

Acara ini tidak memakai script. Katanya agar dialog yang terjadi bisa sealami mungkin. Namun yang terjadi sebenarnya bukan dialog, namun lebih tanya-jawab belaka. Dan kita tahu siapa yang hanya bertanya, dan siapa yang hanya menjawab. Apa yang ditanyakan, apa jawabannya sudah bisa diperkirakan. Kalau dulu kamu sering nonton kelompencapir, “dialog” ala Soeharto dengan petani semacam itulah yang terjadi. Acara tangis-tangisan dalam acara ini juga katanya bukan akting. Anehnya waktu tangis-tangisan seperti sudah ditentukan dalam plot, biasanya dua kali, yakni di tengah-tengah acara, saat makan bersama dan saat penutupan, ketika hadiah diberikan. Dan menambah efek dramatis, selama tangisan frame-nya dibuat lambat dan tentu saja dengan latar instrumental yang menyayat. Saya sendiri kadang sempat terhanyut, meski kemudian terpenggal oleh iklan Beng-beng yang menawarkan wafer dengan lumuran coklat, lapisan keju, dan karamel.

Dengan format semi reality, acara ini juga hendak dikesankan sebagai bebas dari sesuatu yang dibuat-buat, apalagi takhayul. Namun, kalau kita cermati lebih jauh acara ini sebenarnya penuh dengan takhayul. Tahayulnya memang bukan dalam artian yang biasa dipahami, ada keluar cacing dari wajah atau kuburan terbakar, melainkan takhayul modern. Suatu ideologi kelas dominan. Takhayul yang fungsinya mereproduksi relasi-relasi produksi yang ada. Akibatnya, kebenaran dari takhayul itu hanya menimbulkan kesadaran naif. Apapun persoalan yang ada harus dilihat dan dipecahkan dalam tatanan yang ada. Itulah kenapa sorotan terhadap persoalan kemiskinan senantiasa dilakukan dengan menutup mata terhadap adanya jenjang-jenjang kelas dalam masyarakat. Orang menjadi pengemis dianggap hanya karena ia memang pemalas, bukan karena sistem yang ada telah memiskinkannya.

Maka acara ini lebih suka menampilkan orang miskin, yang meski kemelaratan kian melilitnya ia tetap gigih bekerja. Perjuangan orang-orang miskin untuk mentas dari kemiskinan dengan cara inilah yang pembuat acara harapkan menjadi inspirasi bagi penonton. Orang-orang miskin itu tak mengeluh, tak memprotes, mereka tak banyak bicara tapi banyak bekerja, bekerja dan bekerja terus, dari pagi sampai sore. Menurut si pembuat acara, mereka harus diteladani. Namun, apakah jika mengikuti mereka bekerja keras tanpa banyak tanya kita bisa naik kelas atau tetap melarat seperti mereka yang sudah turun-temurun berada dalam kubangan kemelaratan itu, tentu saja ia tak akan ambil pusing. Yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana sistem yang ada di otak-otak, bagaimana sistem yang telah menguntungkannya itu tidak dipertanyakan lagi, apalagi jika sistem yang telah menempatkannya di posisi yang nyaman itu dibongkar.

Kerap dikatakan bahwa selama rejim Soeharto, isi acara televisi mengalami pembelengguan dan hanya menjadi corong rejim penguasa. Acara-acara televisi waktu itu dikecam hanya menjadi alat propaganda rejim penguasa. Kita tentu tak asing dengan berita-berita TVRI , dagelan kelompencapir, si unyil, dan acara-acara lainnya yang membentuk kesadaran massa sesuai dengan ideologi penguasa, yang imbasnya bahkan masih membekas sampai sekarang. Dikatakannya pula, kini kita bisa bernafas lega, pembelengguan itu tidak ada dan televisi-televisi bebas menayangkan program-programnya. Selamat tinggal indoktrinasi!

Namun, apabila sedikit saja kita menggali lebih dalam acara-acara televisi sekarang, unsur-unsur indoktrinasi semacam itu sebenarnya tak hilang. Berbeda dengan sebelumnya, indoktrinasi sekarang lebih untuk mempertahankan kekuasaan kelas yang dominan. Bentuknya pun tidak segamblang dan sevulgar dulu, namun karena itulah justru letak bahayanya. Tanpa sadar kita telah mengalami cuci otak. Diam-diam suatu konsep, suatu keyakinan, kita anut, membentuk kesadaran naif, sehingga kita menjadi terperdaya oleh realitas yang ada. Apa yang ada sekarang dianggap sebagai sesuatu yang alamiah. Mengubahnya, berarti sama saja dengan menentang Hukum Alam. Ini tidak hanya akan membuat kita menyerah, melainkan menjadi terseret ikut larut dalam “Hukum Alam” itu dan lebih buruk lagi turut melanggengkannya. 

 Salam dari Kutu Dukuh.



No Responses Yet to “Kotaknya Editor – mei 2008”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: