Agama dan Revolusi Sosial

02Jun08

oleh Eko Prasetyo
dimuat dalam Resistinfo #24/2008

Di kala itu juga, aku berpendapat:
Bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya
Dan mereka tak merasai ini

(Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam)

Saya tak kenal dekat dengannya. Tapi tulisannya yang penuh dengan anjuran bertoleransi bertebaran di mana-mana. Ia ingin melihat agama sebagai penentram kehidupan sosial ketimbang kekuatan penggubah. Dalam daya jangkau pemikirannya, agama memang tidak untuk memuaskan naluri emosional melainkan bagaimana agama mampu menjadi perajut dari perbedaan. Gagasannya memang kerapkali kontroversial tapi itu yang membuat namanya makin populer. Anugerah beasiswa diberikan padanya dan tulisannya selalu mendapat tempat di media nasional. Ia punya kawanan yang berada di bawah bendera liberal. Ia adalah perintis dan martir bagi pasukan yang membawa panji kebebasan,toleransi dan kesamaan pandang. Popularitasnya didaki oleh kecaman, ancaman dan beberapa karya tulis yang dimuat di koran-koran. Ia beda dengan Nurcholish Madjid; lebih berani mengartikulasikan gagasan dan mempunyai jaring media yang banyak.

Ia tak sendirian. Sebuah kelompok kesenian yang memanggungkan kesusilaan seperti melanjutkan gagasannya. Mereka tak setuju dengan aturan soal pornografi. Buatnya pornografi hanya ketentuan yang tak usah dimasukkan dalam perundang-undangan. Ntar penerapannya jadi kacau, membingungkan dan jelas-jelas buat geli. Sebuah pentas teater yang sangat konyol dipanggungkan. Kisah yang menertawakan orang yang peduli soal-soal sederhana: tentang ukuran dan bentuk tubuh. Seakan-akan kisah itu memberi warta betapa naifnya mereka yang berjuang untuk urusan susila. Terbelakang, pandir dan tak tahu akibat. Ringkasnya kita kini hidup dalam kebebasan. Aturan mengenai itu tak perlu dan agama hanya urusan pribadi. Mereka cemas tentang aspirasi agama yang ingin mengurus semua. Kecemasannya melebihi soal-soal kemiskinan, akses pada pendidikan dan keadilan pada lapangan pekerjaan. Mungkin karena mereka tinggal dalam kemapanan ekonomi yang tak pernah kesulitan dengan urusan makan. Hidup mereka mirip dengan kisah panggungnya: lucu, gembira dan nyinyir.

Itu sebabnya ungkapannya begitu dingin, penuh ironi dan padat argumen. Seorang esais terkemuka bahkan dengan cerdik melukiskan dilema keimanan yang penuh dengan keloyalan. Ia menampikan banyak kisah bagaimana agama yang dipahami dengan ketaatan buta akan mengantarkan pada kebengisan. Sangat tidak masuk akal kalau urusan agama hanya soal larangan dan perintah. Buatnya Tuhan memang tak bisa dibatasi, didaya jangkau dengan kedisplinan yang kaku. Agama memang tidak menuntut kepatuhan seperti seorang serdadu. Esais yang terkemuka ini menampilkan banyak cerita yang mengagumkan. Ia seakan-akan mau memperlihatkan pesona agama yang lain. Bukan agama kegaduhan, menghakimi apalagi yang datang dengan sepucuk senjata. Kecemasannya sama dengan kelas sosial mapan yang lain: agama bukan nubuat untuk sebuah revolusi sosial. Agama sekedar sebuah pesan indah yang membuat penganutnya selalu bersahaja, mapan dan pintar. Itulah pandangan yang kini menebar di berbagai komunitas dan selalu asyik untuk didiskusikan ketimbang dijalani.

Seakan mereka lupa di mana sesungguhnya kita tinggal. Di tempat yang begitu bereskah semua urusan sosial? Di tempat yang semua orang mendapat haknya? Atau mereka menduga jangan-jangan kita berada di sebuah negeri dongeng di mana ada pangeran yang tampan ditemani oleh segerombolan orang bijak. Gagasan mereka indah jika dibaca, memikat kalau ditonton dan seakan mau sekali kita menerapkannya. Keyakinan mereka tumbuh di dataran yang kering dan miskin. Di mana banyak penduduknya kini tertatih-tatih untuk makan sehari-hari. Di mana ada banyak warga yang pekerjaannya terancam dan siap menjadi barisan penganggur.Di mana ada sederet politisi yang rajin dan siap untuk membuat tipuan. Dan mereka berada di bawah negeri yang para pejabatnya kaya-raya dan melimpah ruah. Sebuah tempat yang terlampau besar jika diterapkan pemikiran yang indah, tajam dan fantastis itu. Bertoleransi, bersopan-santun, bekerja-sama adalah pilihan nilai yang gampang ditulis ketimbang dikerjakan.

Adakah mereka lupa kalau kemapanan yang mereka dapat sesungguhnya bukan hasil sebuah sihir! Mereka adalah golongan terpelajar yang begitu cakap beradaptasi. Kemahiran, ketrampilan dan jaringan yang mereka punyai membawa kemujuran. Mereka berlaku seperti seorang cendekiawan yang rapi, bersih dan bersemangat. Beberapa di antara mereka bekerja untuk seorang cukong yang punya uang bertumpuk di mana-mana. Ada yang lembaganya menjadi nara sumber pengetahuan untuk seorang konglomerat yang masih bermasalah. Juga beberapa menjadi pelayan dari lembaga donor raksasa yang terus menerus mengucurkan uang dalam mata uang yang beragam. Artinya tangan mereka bukan sebersih gagasanya; maknanya hidup mereka juga tidak setertib argumenya; karena mereka juga diam-diam menjadi penganut buta dari gagasan ekonomi pasar dan disiplin liberal. Benarlah memang tak ada manusia suci termasuk juga tidak ada maksud yang suci dari sebuah pentas argumentasi tentang agama. Karena itu mungkin waktunya kita meletakkan soal agama dalam sebuah tempat yang lebih realistis, yang sebenarnya dan memihak kepada mereka yang lemah.

Bukankah tak selamanya tugas agama hanya untuk bertoleransi, menahan kekerasan dan menyiramkan cinta. Agama kalau perlu juga turut bersimbah perlawanan, berkucur keringat dan bahkan menampilkan para martir. Ketika apa situasi itu dibutuhkan? Ya ketika agama tinggal satu-satunya kekuatan yang masih menyimpan setumpuk ajaran mulia. Ketika semua orang percaya kalau anjuran itu sesungguhnya panduan kehidupan etis yang sebenarnya. Saat semua ketentuan hukum, aturan negara dan disiplin ekonomi pasar menganiaya mereka yang miskin dan lemah. Kala itulah pancaran nilai agama kemudian jadi sebuah lontaran batu yang keras, jitu dan menusuk mereka yang selama ini telah merampoknya. Sungguh tak ada satupun utusan Tuhan yang hanya membawa agama ini dalam silat diskusi, perang argumen apalagi sebuah pentas kebudayaan. Ibrahim, kakek moyang semua nabi bahkan sejak usia muda sudah meruntuhkan berhala. Pemuda itu kelak akan mengalami hukuman yang keji: dibakar hidup-hidup.

Ini bukan sekedar cerita yang mirip dengan kisah 1001 malam. Sebuah kisah dalam kitab muncul karena maksud yang diembannya. Tali kisah Musa melukiskan bagaimana agama harus memerangi segala bentuk kesewenang-wenangan. Dan ajaran zakat dalam Islam adalah cara untuk keluar dari kutukan kekayaan berlimpah. Begitu pula dihukumnya Isa adalah cermin bagaimana kekuasaan bisa terjerembab dalam dusta. Agama kemudian tampil dan hadir untuk memberi interupsi atas beroperasinya kekejian itu. Dan kadangkala agama mengalami kejayaan dan beberapa harus kalah. Tapi bukan itu inti cerita yang mau diberikan. Yang mau dikatakan adalah agama tak layak diam ketika manusia, sebagai sosok suci, harus direndahkan martabat dan akal sehatnya. Oleh siapapun; termasuk kekuasaan dan mungkin kalau sekarang adalah kekuatan pasar.Watak semua utusan Tuhan adalah menolak kemapanan jika itu berarti kebuntuan untuk melakukan pembaharuan. Musa rela dikucilkan; Yusuf dengan tangguh dipenjara; Muhammad SAW bahkan dilempari batu. Kepedihan adalah resiko dari sebuah perjuangan agama.

Retorika ini mungkin terlampau kuno diperdengarkan. Tapi khutbah ini menjadi kepastian bahwa agama tak layak diam melihat kenyataan pedih. Benar memang di antara penganutnya ada yang terlampau bersemangat; menghukum kafir, melindas habis semua yang dikategorikan maksiat dan berambisi membuat hukum Tuhan berlaku kini dan saat ini. Mereka adalah penganut yang rindu untuk menjadi martir. Kerinduan itu juga dilandasi oleh ketidak-pastian keadaan sosial. Beberapa di antara mereka kalah dalam pertarungan di medan ekonomi, pendidikan dan tentu kebudayaan. Walau ada beberapa berasal dari pendidikan tinggi tapi keyakinan mereka pada perubahan hanya sebatas keinginan untuk membakukan ketentuan. Mereka sudah lama tidak dididik untuk melihat agama dalam pertarungan yang lebih ‘berat’. Sebagian bahkan lupa bahwa agama ditegakkan melalui medan kemajuan pengetahuan dan kreatifitas. Peperangan yang ada di belahan bumi Palestina memang jadi pengingat, tapi tidak mampu menjadi bara yang bisa membakar perlawanan pada segala bentuk imperialisme. Itu mungkin yang membuat sebagian penganut jadi tampak pandir.

Maka sikap untuk saling mengejek, melempar ironi dan mewartakan semangat pruralis agaknya perlu ditahan. Sama halnya anda meminta sikap merasa benar, hobi mengkafirkan dan merusak kafe dihentikan. Waktunya kita berusaha untuk melihat kenyataan pedih bukan melalui analisa dan pengamatan saja. Kenyataan itu harus diubah. Agama mampu dan bisa mengerjakanya. Semua sejarah utusan Tuhan tidak pernah membuat agama jadi urusan pribadi. Agama punya daya dobrak dan bongkar atas semua kekuatan sosial yang menindas. Kemenangan ajaran bukan dari banyaknya orang yang memeluk saja tapi tatanan sosial yang lebih baik dan melindungi pada mereka yang lemah. Siapa yang kemudian layak dianggap sebagai penerus warta suci ini? Apakah gerombolan para pengebom ataukah mereka yang terus diancam akan dihukum mati gara-gara gagasan pruralisme. Atau jangan-jangan seorang Munir yang dengan nyalinya membongkar kekejian militer, sesosok Wiji Thukul yang membuat sajak seperti sebuah berita ancaman, atau teman-teman mahasiswa yang kini lenyap karena mandat radikal perubahannya.

Kita mungkin tak bisa menentukan tapi dapat meraba dampak dari perbuatan mereka. Adalah tangan-tangan mahasiswa yang membuat aspirasi pluralisme kini mudah disemaikan dan tuntutan kedaulatan negeri Tuhan bisa dinyatakan. Tanpa pengorbanan mereka tak mungkin kebebasan ekspresi ini bisa dipegang sampai sekarang. Karena jasa Munir maka militerisme jadi sebuah institusi yang tak kebal hukuman, penuh dengan kebohongan dan begitu menindas. Melalui pikirannya kita jadi tahu siapa yang layak bertanggung jawab atas kasus Tanjung Priok, Lampung hingga Terorisme. Mungkin dari Wiji Thukul kita tahu bagaimana kemiskinan tidak sekedar data dan kekayaan melimpah bukan sebuah rejeki semata. Di sana ada kecurangan dan dusta yang semua orang harus mengetahuinya. Efek dan konsekuensi sikap mereka begitu luas dan membesar. Dari para martir itulah kini kita bisa menikmati kehidupan yang penuh dengan kebebasan dan sebagian cendekiawan yang selamat memperoleh status dan kemapanan sosial yang menyenangkan. Juga kelompok agama dapat bebas mengartikulasikan tuntutan sesuci apapun. Ada golongan yang membuat kita bisa menikmati itu semua. Keadaan bukan otomatis terjadi tapi ada basuhan darah dan pengorbanan. Adalah mandat kita meneruskan apa yang sudah mereka rintis.

Mereka memang tak membawa panji agama, tapi kandungan perjuangan mereka sangat serupa dengan apa yang sudah dilakukan oleh utusan Tuhan sebelumnya. Berkaca pada mereka itulah sebenarnya tradisi penghayatan keagamaan itu dihidupkan. Sebuah tradisi yang melihat agama bukan label, identitas dan bendera tapi api yang membakar penganutnya untuk menolak diam. Waktunya untuk membasuh kembali keyakinan dengan pertempuran dan pergolakan. Bertempur melawan kemapanan sistem sosial yang menguntungkan kelas sosial tertentu dan bergolak untuk meyakinkan pada massa tertindas bahwa kepedihan bukan takdir. Ujung sebuah kisah memang tak segemilang seperti dalam kitab suci, tapi setidaknya agama meyakinkan kita semua, kalau kehidupan tak berhenti dan tamat sampai di sini. Ada kehidupan lain yang membuat kita merasa penting untuk mencampakkan semua kemapanan yang kita terima, semua kenikmatan yang kita pegang untuk meraih sesuatu yang lebih bermakna. Agama benar dalam soal: kita sesungguhnya bukan sekedar batangan raga tapi jiwa-jiwa suci yang mampu menghidupkan kesucian dalam sebuah kenyataan sosial. Apakah kita masih ragu dan sangsi dengan kredo itu semua? Jika ya… maka bergabunglah bersama mereka komplotan para penguasa yang sewenang-wenang dan nista!



One Response to “Agama dan Revolusi Sosial”

  1. 1 renotriawan

    agama itu memiliki nilai-nilai normatif yang suci dan perlu dijaga, oleh karenanya tidak mungkin kalau kita menjadikannya sebagai media kepentingan politis atau bahkan dijadikan sebagi media otoritas. tapi karenanya juga, agama menjadi titik balik spiritual dikala kita memperjuangkan nilai-nilai keadilan. karena secara historis nilai-nilai agama telah ada sejak lama, dan menjadi titik dari perlawanan terhadap ketimpangan sosial!!! agama bukan seharusnya manjadi candu, yang hanya membuat penganutnya lupa akan kenikmatannya horrrreeee!!!!!!!!!:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: