Bahagia Karena Cantik

15May08

oleh AQ
dikutip (halaman 122-125) dari:
Judul Buku: Belanja Sampai Mati; Ancaman Komersialisasi Remaja Masa Kini
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008

Gagasan bahwa ‘bentuk tubuh yang sempurna dan kesempurnaan estetik akan membawa kebahagiaan’ bukanlah ide baru. Menurut sejarahwan Joan Jacobs Brumberg, pengarang buku The Body Project:An Intimate History of American Girls, gadis-gadis masa Victorian juga diajarkan untuk jadi gadis bertubuh paling menarik. Agar menarik, mereka harus punya bentuk tubuh yang berbeda. Mereka mengenakan korset dan tampil lugu apapun resikonya. Pengorbanan yang harus mereka lakukan bisa jadi kelaparan, bekerja keras, mencukur, menindik dan mentato tubuhnya tetapi tidak menyerahkan keperawanannya.

Tapi Brumberg juga menulis gadis-gadis masa kini lebih berorientasi pada tubuh. Remaja perempuan abad 19 “punya orientasi yang berbeda dengan gadis-gadis sekarang (sebelum Perang Dunia II) para gadis jarang menyebutkan tubuh mereka sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan diri.” Sebaliknya di jaman anak muda bermerek, tubuh dianggap sebagai sesuatu yang harus diolah, ditolak, disedihkan, kemudian dapat dipulihkan dengan belanja.

Sander Gilman dalam buku Creating Beauty to Cure the Soul: Race and Psycholoy in the Shaping of Aesthetic Surgery (1998), menghubungkan pertumbuhan operasi kosmetik dengan meningkatnya penggunaan Prozac (obat anti depresi-penj.) dan penyakit psikologi semakin dianggap sebagai masalah kesehatan tubuh; bahwa kebahagiaan seseorang dapat tercapai melalui pengobatan dari luar yang membutuhkan biaya. Berdasarkan logika serupa, saline (nama obat-penj.) dianggap penting untuk mengatasi masalah gadis berpayudara kecil atau buruk. “Gagasan mengobati jiwa adalah alasan utama operasi kecantikan yang membuat “pasien” merasa punya tubuh “sehat” tapi “jiwanya tak bahagia”, kata Gilman.

Seperti halnya kebiasaan berbelanja di toko mahal, keyakinan operasi kecantikan dan konsumsi produk mewah diajarkan oleh orang tua pada anak-anak. Baik ibu maupun anak perempuannya sekarang berpikir bahwa tubuh adalah benda plastik, benda yang bisa meleleh kemudian dibentuk sesuai keinginan: perubahan pemikiran atau tubuh bisa saja dilakukan asal ada uang. Seperti yang tertulis dalam Boston Globe pada Maret 2001, generasi baby boomer dengan senang hati menularkan keyakinannya pada generasi selanjutnya:”Banyak ahli bedah kecantikan mengatakan pada saya bahwa klien remajanya meningkat tajam akhir-akhir ini…. Mantan pasien mengajarkan pada anak-anaknya tentang operasi dan ahli bedah sebagai ritual penting. (Barry) Davidson (seorang ahli bedah plastik) mengatakan, seringkali ada dua generasi melakukan implan payudara bahkan bukan lagi hal yang aneh jika tiga generasi melakukannya. “Seorang anak perempuan memiliki bentuk payudara sama dengan ibunya, sang nenek yang melihat itu memutuskan bahwa ia akan melakukan operasi serupa,” jelasnya.

Jumlah orang tua Generasi Y yang melakukan operasi plastik sangat mengejutkan, pada tahun 2000 ada 3,2 juta orang usia 35-50 tahun melakukan operasi plastik. Operasi kecantikan semakin bisa dimaklumi, operasi itu tak ubahnya seperti produk perancang yang dikenakan oleh ibu dan anak.

Philip Miller juga melihat operasi plastik semakin diterima oleh keluarga. “Sang ibu melakukan operasi hidung saat berusia 16 atau 17 tahun,” kata Miller – seorang ahli bedah remaja yang berpraktek sejak 30 tahun lalu. Sebuah praktik rahasia yang dilakukan agar sesuai dengan ciri-ciri fisik etnis seseorang. “Ketika ibu membawa anaknya mengunjungi dokter bedah plastik, sang ibu merasa bersahabat dengan anaknya,” kata Miller. “Mereka mengatakannya dengan bangga, ‘Sekarang anak saya melakukannya.’” Cerita versi terburuk ketika, “Jika sang ibu tak pernah melakukan operasi maka ia merasa agak iri – ia ingin itu seperti anak kecil,” kata Miller. “Semakin banyak ibu yang juga merasa senang jika anaknya mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dibelinya ketika remaja.”

Carolyn dibesarkan dengan budaya semacam itu. Ia melihat ibu-ibu kelas menengah atas berusia 30-an, 40-an dan 50-an melakukan implan payudara. Menurut Carolyn, mereka akan menawari anaknya. (Sekalipun ia seorang ahli bedah plastik: dokter yang akan mengoperasi Carolyn adalah ayah teman sekolahnya). Orang tua kaya yang menolak permintaan anaknya melakukan operasi tidak lagi dapat menolak dengan tegas atau keras. Mereka mungkin juga merasa bingung dan bimbang dengan permintaan anak perempuannya. Mereka membutuhkan ahli bedah bukan untuk operasi tetapi untuk memperoleh informasi. Informasi itu digunakan untuk menghalang-halangi niat anaknya. Dengan ekspresi datar, ahli bedah plastik Brian Forley menceritakan pada saya tentang seorang ibu dan anak perempuan yang mengunjungi tempat prakteknya. Ketika seorang gadis berusia 16 tahun mengunjunginya dengan bercucuran air mata sambil menceritakan bahwa ia harus punya payudara baru, ibunya duduk dan mendengarkan. Wajah ibunya beku. Forley berkesimpulan bahwa sang ibu berpikir ia adalah senjata terakhir. “Ia berharap saya menjelaskan sesuatu pada anak perempuannya,” kata Forley. “Saya berusaha” (Tentu saja, tak semua ahli bedah plastik berusaha mencegah gadis remaja melakukan operasi kecantikan; tapi sepertinya gadis itu bisa menemukan ahli bedah lain yang mau melakukan itu jika Forley tak mau.).

Karena situasi sosial, tidaklah mengherankan jika pasien Forley tidak datang karena keinginannya sendiri; lagi pula ia masih sangat muda. Pelekatan merek tubuh dimulai sejak dini, saat abg. Seperti yang dikatakan seorang gadis 16 tahun sesaat sebelum melakukan operasi pembesaran payudara, “Sejak berusia 13 tahun aku mulai tahu dan kemudian berpikir melakukan operasi untuk memperbaiki payudaraku.”

Carolyn mulai memimpikan payudara lebih besar sejak usia yang sama. “Seingatku, aku tak pernah suka payudaraku,” katanya. “Sejak berusia 13 tahun, aku merasa tidak nyaman jika berdekatan dengan orang lain – aku tidak suka tubuhku. Aku ingin pembesaran payudara sejak umur 13 tahun karena sebelumnya aku pernah melihat foto telanjang.”

Kita mungkin khawatir terhadap kegilaan anak-anak terhadap citra diri, kedewasaan dan seksualitas tapi tatanan sosial telah menciptakan ketergantungan ganda itu. Gadis dan wanita ditempeli identitas sesuai dengan barang yang mereka konsumsi. Mereka ingin membeli kemudian menjadi sosok sempurna seperti bintang media dan bintang film yang juga dipermak. Mereka juga menempati wilayah “sesudah” dalam dongeng ala operasi kosmetik, penampilan “sebelum” dan “sesudah.” Dongeng yang terinsipirasi dari teknik periklanan primitif atau pujian hasil operasi plastik. Seperti yang dikatakan Carolyn, “Aku nonton sesuatu di HBC tentang operasi plastik lalu aku memutuskan untuk melakukannya.”



No Responses Yet to “Bahagia Karena Cantik”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: