Untuk Apa Memaafkanmu

06May08

oleh Eko Prasetyo
dimuat dalam Resistinfo #13/2005

Biar saja orang bilang aneh.
Tidak enak terus mengandalkan pemberian (makanan) tetangga
Buang air tetap lancar
Mungkin Tuhan mengerti kesulitan ummatnya

(Somo Narmo, 70 tahun, warga Wonokerso, Sragen,
alasan makan arang karena tak kuat membeli beras)

Sudah waktunya aku harus berterus terang. Kami tak bisa lagi berdiam diri ketika kau habisi semua yang kami punya. Pendapatan kami yang pas-pasan sudah tak lagi bisa menyokong tubuh anak-istri kami. Ongkos apa saja tidak ada yang murah, bahkan untuk beli cabai sekalipun kami sudah tidak mampu. Jangan heran kalau diantara kami sudah lama tak bisa lagi makan beras. Saat kalian ganti harga BBM semua pedagang kemudian dengan cekatan meninggikan harga seenaknya. Kami dengar kalian hanya berkomentar singkat, itu resiko yang nanti akan reda dengan sendirinya. Semua komentar kalian bukan saja menambah beban tapi juga memberitahukan pada kami, kalau kalian sesungguhnya orang-orang yang tidak biasa dilatih untuk ber-empati. Kadang kami ingin kalian sesekali diam dan tidak berkomentar apapun. Diam mungkin sikap yang sesekali baik dilakukan untuk mencegah komentar-komentar yang menyakitkan.

Yang lebih menghina perasaan kami: ada juga orang yang dengan enteng menaikkan gajinya-yang sudah besar- tanpa malu. Mereka itu bekerja di gedung rakyat tapi pendapatanya jauh melebihi penghasilan kebanyakan rakyat. Mereka yang pekerjaanya rapat melulu itu jarang kudengar membela kepentingan rakyat. Siraman gaji dan limpahan fasilitas telah menjadikan perasaan dan pikiran mereka tumpul. Mereka seperti kumpulan manusia yang tinggal di istana kristal karena tidak pernah bisa percaya pada rakyat yang diwakilinya. Tahukah kalian-wakil rakyat yang terhormat- kalau keadaan kami sudah begitu mengkuatirkan. Di televisi ada banyak sahabat kami tewas hanya perkara antri untuk mendapat bantuan. Uang 300 ribu rupiah bisa membuat kami seperti ayam yang hendak disabung. Untuk uang sebesar itu kami bisa nekad menusuk senjata tajam atau merusak kantor desa. Di dunia ini hanya kalian-lah anggota parlemen yang gajinya luar bisa besar dengan tumpukan fasilitas yang luar biasa mewah. Aku kadang bertanya-tanya, apa kalian tidak risih memakai baju dan mobil megah di tengah rakyat yang susah makan dan berbusana pantas?

Itu sama halnya dengan kekesalan kami ketika berjumpa dengan rohaniawan yang hanya pintar membaca doa dan fasih ketika memberi anjuran. Kalau kalian ajak kami sabar itu berarti kalian buta terhadap apa yang sudah kami lakukan selama ini. Kurang sabar apa kami pada penguasa yang tidak bisa menangkap para pencuri uang negara. Kurang sabar apa kami membiarkan para penguasa mengubah harga BBM seenaknya sendiri. Sabar seperti apa lagi yang kami harus lakukan kalau kami juga masih bisa tersenyum pada wakil rakyat yang tak pernah bekerja untuk rakyat. Rohaniawan yang tak punya nyali sama halnya dengan seorang preman yang tak punya pengetahuan. Jika kami boleh nasehatkan, cukup kalian hidupkan agama ini sebagaimana yang dilakukan oleh utusan Tuhan sebelumnya. Agama yang tak bisa berdiam diri ketika melihat ketimpangan dan ketidak-adilan. Agama yang bukan mengajak ummatnya pasrah ketika dianiaya tetapi agama yang melatih kami bisa membedakan antara perbuatan bodoh dengan prilaku saleh.

Kami juga kuatir pada aparat keamanan yang sulit membedakan antara melindungi kepentingan penguasa dengan kepentingan negara. Penguasa itu hanya kumpulan beberapa orang yang memiliki kemauan dan kepentingan sendiri. Sedang negara adalah ‘alat’ yang digunakan untuk melayani kepentingan rakyat seluas-luasnya. Tidak ada negara yang menangkapi, memukuli bahkan membunuh rakyat secara sewenang-wenang. Para petugas atau pejabat keamanan jangan kalian ulang apa yang dilakukan oleh para prajurit kolonial sebelumnya: bisanya memukuli rakyatnya sendiri. Tahukah kalian, gaji yang kalian peroleh itu semata-mata hasil jerih payah rakyat. Imbalan yang kalian terima itu berasal dari kerelaan rakyat untuk membayar pajak, iuran dan berbagai macam sumbangan. Jadi kenikmatan maupun pundi-pundi yang kalian simpan sekarang ini berasal dari pengorbanan rakyat. Sayang banyak diantara kalian lupa dari mana sumber rejeki yang kalian dapatkan selama ini.

Rakyat pula yang berkorban untuk mencerdaskan sebagian golongan. Mereka yang kini mendapat titel sebagai intelektual dan cendekiawan sesungguhnya muncul bukan karena kecerdasan individu semata. Adalah rakyat yang rela untuk dijadikan objek penelitian, untuk jadi sasaran riset atau subyek analisis. Rakyat memberi dukungan atas tiap lembaga pendidikan yang berdiri, baik dengan suplai dana atau bantuan pekerjaan. Walau sebagian besar rakyat kini susah untuk memperoleh pendidikan, tapi itu tidak membuat mereka ingin merobohkan sekolah. Tugas cendekiawan terbesar sesungguhnya membebaskan rakyat dari belenggu kekuasaan yang menindas maupun tirani kebodohan. Semakin tinggi seorang sekolah mustinya kian mudah memberi penjelasan tentang segala soal pada rakyat. Ternyata yang kita dapatkan sekarang adalah ilmuwan yang punya nalar berpikir yang berlawanan dengan kepentingan rakyat. Rakyat bilang sebaiknya harga BBM jangan naik, tapi para ilmuwan bilang sebaliknya. Yang menghebohkan adalah pendapat kalau ilmuwan tak harus berpikir dengan nalar populis. Orang pintar yang sulit memahami rakyatnya sama halnya dengan orang pandir yang sombong.

Lupa dari mana asal-usul juga dialami oleh para saudagar yang kini duduk sebagai pejabat. Sejarah banyak bertutur: kalau kekayaan kalian bukan diperoleh karena hasil kerja keras semata. Lebih banyak diantara kalian bisa dan terampil berbisnis karena dukungan dan sokongan para penguasa. Kami tahu, kalian begitu dekat dengan kekuasaan dan karena itulah kemudian kalian memperoleh banyak kemudahan dalam berbisnis. Sungguh sangat menyakitkan jika kemudian kalian lari ke luar negeri dan bermukim disana ketika negeri ini mengalami kebangkrutan. Tanpa malu-malu lagi, diantara kalian ada yang merayakan pesta ulang tahun di negeri asing dengan mengundang komplotan para pejabat yang dulu pernah membesarkan pundi-pundi kalian. Dan kini kalian banyak diberi kesempatan untuk duduk sebagai pejabat. Yang kalian lakukan ternyata tetaplah sama, rakyat kalian perlakukan seperti barang dagangan. Ringan saja kalian naikkan harga BBM sama ringanya dengan kalian ubah harga barang dagangan.

Bagaimana kami bisa memaafkanmu, kalau kalian sendiri sulit meminta maaf. Meminta maaf atas wabah penyakit yang kalian tak bisa diatasi dengan cepat. Meminta maaf atas keamanan yang tak bisa kalian kendalikan. Meminta maaf atas berbagai kecelakaan angkutan yang memakan banyak jiwa rakyat. Meminta maaf karena kalian menumpuk hutang luar negeri yang kami ikut menanggung padahal kami tak pernah ikut menikmati. Meminta maaf atas biaya pendidikan yang makin mahal yang kian sulit kami akses. Meminta maaf karena tak bisa menghukum seseorang yang telah membunuh banyak pejuang rakyat. Meminta maaf karena ongkos biaya kesehatan yang terus-menerus melambung. Meminta maaf karena perkara korupsi yang tak bisa kalian selesaikan dengan cepat dan tegas. Meminta maaf pada kenaikan harga semua barang yang tak bisa kalian atur dan kendalikan. Meminta maaf karena kaliani lebih banyak berjanji ketimbang berbuat. Meminta maaf karena kekayaan kalian yang jauh lebih besar ketimbang penghasilan mayoritas rakyat.

Kini kami berada dalam kekuatiran dan kecemasan. Dengan enteng kalian bilang kalau harga minyak akan menyesuaikan harga pasar International. Dengan mudahnya kalian katakan kalau situasi berat ini akan lekas reda seiring dengan waktu. Waktu mana yang kalian bisa tunjuk: kalau makin hari makin berat kehidupan yang harus kami tanggung. Wahai para penguasa, kalau kalian mengukur harga dengan pasar International maka ukur pula, kualitas kepemimpinan kalian dengan kepemimpinan yang berlaku di beberapa negara. Di Iran seorang kepala negara sekaligus juga sosok yang tampil sederhana dan apa adanya. Rumahnya yang masih mengontrak tak membuat ia jadi orang yang selalu takut dengan kemiskinan. Di Venezuela seorang pemimpin adalah sosok yang bisa membuat layanan publik bisa dijangkau dengan murah. Pada dua negeri itu kita melihat bagaimana seorang pemimpin bisa menegakkan kepala ketika berhadapan dengan tekanan negara asing. Mereka bukan penguasa yang haus akan pujian international, tapi sosok yang dengan ikhlas membaktikan dirinya untuk rakyat miskin. Mungkin karena itu mereka tidak begitu populer di mata negeri-negeri asing. Kadang aku ingin beri anjuran, ada baiknya kalian melawat ke Iran atau Venezuela; mencoba belajar bagaimana cara memimpin sebuah negeri. Karena kami yakin, kesalahan kalian-sementara ini- bukan karena tak bisa memimpin tapi tak tahu bagaimana cara memimpin dengan benar. Mungkin, karena itulah kami-rakyat miskin- berat untuk memaafkanmu!!



No Responses Yet to “Untuk Apa Memaafkanmu”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: