Kemiskinan dari Kemakmuran

02May08

oleh AG
dikutip (halaman 47-56) dari:
Judul Buku: Anarki Kapitalisme
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: II, Februari 2005

Membangun suatu kehidupan yang lebih baik tidak hanya membutuhkan, tetapi menuntut terjadinya pengurangan produksi barang-barang. Tidak ada—kecuali logika kapitalisme—yang mencegah kita untuk mencukupi kebutuhan semua orang akan akomodasi atau tempat tinggal, pakaian, peralatan rumah tangga, dan sarana-sarana dan bentuk-bentuk transportasi yang hemat energi, mudah diperbaiki, dan tahan lama, serta pada saat yang bersamaan meningkatkan jumlah waktu luang dan jumlah produk-produk yang sungguh-sungguh berguna bagi masyarakat.

Hubungan antara “kehidupan yang lebih baik” dengan “memproduksi lebih sedikit,” nampaknya telah dipahami dengan baik oleh kelompok masyarakat. Menurut salah satu survey yang pernah dilakukan di Perancis:
– 53% dari total populasi akan menerima pengurangan pertumbuhan dan konsumsi barang-barang, asalkan hal tersebut disesuaikan dengan perubahan gaya hidup;
– 68% lebih menyukai pakaian yang klasik dan tahan lama, daripada yang harus dibuang setiap satu musim;
– 75% memandang bahwa kemasan sekali pakai dan kontainer yang tak dapat dikembalikan adalah hal yang tak perlu;
– 78% menyambut baik satu malam dalam seminggu tanpa TV sebagai kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan orang lain dan untuk berbincang-bincang.

Dalam masyarakat industri lanjut, orang tidak selamanya miskin karena kesenjangan akan persediaan barang-barang konsumsi yang cukup besar, tetapi karena iklim dan cara barang-barang tersebut diproduksi. Untuk mengeliminasi kemiskinan, kita tak lagi membutuhkan kuantitas barang-barang yang lebih besar, tetapi hanya keanekaragaman produk yang diproduksi dengan cara berbeda.

Bertahannya kemiskinan dalam masyarakat industri lanjut tidak dapat dianggap berasal dari faktor- faktor yang sama yang menyebabkan kemiskinan di negara-negara berkembang. Sementara yang terakhir (kemiskinan di negara-negara berkembang) dalam analisis terakhir, dihubungkan dengan kekurangan-kekurangan secara fisik, yang dapat diatasi oleh perkembangan (dengan syarat-syarat tertentu) dari kekuatan-kekuatan produksi, kemiskinan di negara-negara kaya harus dihubungkan dengan sistem sosial yang memproduksi kemiskinan pada saat bersamaan ketika ia memproduksi kemakmuran yang semakin tinggi. Kemiskinan diciptakan dan dipelihara, katakanlah ia diproduksi dan direproduksi pada saat konsumsi keseluruhan meningkat.

Sebelum menjelaskan mekanisme yang melandasi reproduksi ini, penting bagi kita untuk mengetahui bahwa keterbatasan sumber daya-sumber daya alam tidak dialami dengan cara yang sama ketika sumber-sumber ini di distribusikan secara adil, seperti ketika distribusi mereka dilakukan secara tidak adil. Marshall Sahlins telah menunjukkan dengan menyakinkan bahwa kemiskinan dan ketidakadilan saling berhubungan: keterbatasan fisik, seperti yang terdapat dalam apa yang disebut masyarakat primitif, mungkin menciptakan sebuah kerapuhan atau bahkan melahirkan kemiskinan, tapi hal itu tidak menyebabkan kemiskinan sepanjang sumber daya-sumber daya yang ada dapat diakses dan didistribusikan kepada orang-orang secara adil. Kemiskinan memerlukan, per definisi, tersedianya privatisasi kekayaan bagi orang-orang lain: orang kaya. Ketika tidak ada orang miskin maka tidak ada orang kaya, sehingga tidak ada kekayaan ketika tidak ada kemiskinan. Sebagai suatu hal bertentangan dengan kemelaratan, yang merujuk pada situasi serba kekurangan akan kebutuhan-kebutuhan hidup, kemiskinan secara esensial merupakan suatu kondisi yang bersifat relatif.

Berdasarkan definisi-definisi berikut ini, kita dapat membedakan tiga penyebab utama kemiskinan di dalam masyarakat industri:
a. Pemberian atau derma yang merusak. Ini merupakan penyebab kemiskinan yang paling jelas: orang kaya memonopoli sumber daya-sumber daya, yang sebenarnya tersedia dalam jumlah yang cukup bagi setiap orang. Contoh tipikal dari hal ini adalah penumpukan (kepemilikan) tanah dan hak akan air di mana sesungguhnya mereka ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang–distribusi yang adil atas sumber daya-sumber daya ini secara terbuka diingkari. Monopolisasi sumber daya-sumber daya oleh beberapa orang tidak dapat dihitung akibat fakta kelangkaan—justru sebaliknya, mereka langka karena dimonopoli—tapi hanya melalui dominasi dari suatu kelas atau kasta terhadap kelas atau kasta lain.
b. Akses yang eksklusif. Kita berbicara tentang akses ekslusif ketika kaum minoritas dominan merintangi orang lain untuk mengakses sumber daya-sumber daya yang ada, entah karena keterbatasan atau karakter-karakter intrinsik sumber daya-sumber daya tersebut sehingga tidak dapat didistribusikan secara adil atau membuatnya tersedia bagi setiap orang pada saat yang bersamaan. Contoh lain yang tipikal adalah penetapan hak atas akses kepada area-area alam yang keindahannya mungkin dihancurkan jika banyak orang melakukan ‘penyerbuan;’ atau menetapkan harga bagi fasilitas-fasilitas alam seperti udara bersih, cahaya matahari, atau kesunyian yang tidak dapat jaga di lokasi semacam itu tanpa memperketat akses ke sana. …
c. Konsumsi khusus. Kita menggunakan terminologi ini untuk menjelaskan konsumsi barang dan jasa yang nilai gunanya disangsikan tetapi karena jumlahnya yang terbatas atau harganya yang tinggi, status atau prestise yang tinggi dianugerahkan bagi mereka yang memilikinya. Konsumsi khusus mungkin memerlukan penghargaan detrimental, tetapi tak perlu harus seperti itu. Misalnya, perjalanan dengan pesawat supersonik, yang memboroskan dan merusak sumber daya-sumber daya. Pesawat Concorde membutuhkan pekerja dalam jumlah yang besar, yang seharusnya tenaga mereka dapat digunakan untuk tujuan yang berguna bagi masyarakat: terlebih lagi pada dasarnya setiap penerbangan memerlukan bahan bakar dalam jumlah yang besar sehingga turut memberikan kontribusi terhadap semakin menipisnya cadangan minyak bumi di dunia. …

Oleh sebab itu, penghapusan kemiskinan tidak pernah terselesaikan dengan meningkatkan produksi. Yang dibutuhkan adalah reorientasi produksi menurut kriteria di bawah ini:
– Barang-barang yang diproduksi secara sosial harus tersedia bagi setiap orang;
– Produksi barang-barang tersebut tidak harus merusak sumber daya-sumber daya yang melimpah jumlahnya;
– Mereka harus didesain sedemikian rupa sehingga tersedia bagi setiap orang, mereka tidak menyebabkan pencemaran atau kemacetan yang menghancurkan nilai guna mereka.

Tetapi itu belum semua. Reorientasi produksi agar sesuai dengan kriteria di atas juga mensyaratkan sebuah ‘revolusi kultural’: kemiskinan hanya akan hilang apabila ketidakadilan akibat kekuasaan dan hak-hak istimewa juga dihapuskan. Tentu saja, perbedaan cara mengkonsumsi terkadang tidak lebih dari cara hierarki masyarakat mengekspresikan dirinya. Dalam kasus yang ekstrem, satu-satunya tujuan dari konsumsi atas barang-barang khusus adalah untuk menunjukkan bahwa orang lain itu miskin, bukan untuk memperoleh sesuatu yang pada hakekatnya sangat diperlukan. Contoh dari konsumsi akan barang-barang khusus ini adalah konsumsi batu-batu berharga atau pakaian-pakaian yang bergaya. Barang-barang yang menyolok mata ini bahkan tidak pernah menghasilkan kesenangan, kekuasaan atau kenyamanan: mereka hanya memperlihatkan kekuasaan untuk memperolehnya, yang tidak dapat diraih oleh orang lain. Satu-satunya fungsi dari benda-benda tersebut adalah untuk memperjelas ketidakadilan sosial.

Akibatnya, keadilan dalam mengkonsumsi hanya dapat menjadi hasil dari perwujudan keadilan sosial dan bukan sarana untuk mewujudkan itu. Hal yang terakhir, tergantung dari penghapusan tatanan (orde) yang hierarkis. Apabila hierarki fungsi dan kekuasaan terus berlangsung, dengan segera hal tersebut akan menghidupkan kembali ketidakadilan material dan simbolik (seperti yang nampak pada masyarakat sosialis yang otoriter). Apabila hal itu dihapuskan, ketidakadilan material akan kehilangan signifikan sosialnya.



No Responses Yet to “Kemiskinan dari Kemakmuran”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: