UNAS: Membusukkan Pendidikan

14Apr08

oleh Muhammad Isno, Staf Pengajar SMA Negeri 3 Mojokerto
dimuat dalam Resistinfo #23/2008: Selamat Datang Intelektual Pengkhianat

Beberapa bulan lagi lembaga pendidikan kita akan disibukkan dengan pelaksanaan Ujian Nasional. Karenanya semua sekolah baik swasta maupun negeri berlomba-lomba dalam mematangkan kesiapan melaksanakan UNAS tersebut. Strategi, taktik, trik serta intrik pun dipakai. Dari tata letak bangku sampai ornamen-ornamen yang mengalihkan perhatian pengawas pun dipasang. Semuanya serba diatur sesuai dengan selera dan yang lebih penting menguntungkan posisi.

Seluruh siswa dinasehati bagaimana membangun kerja sama, kompak dan saling tolong-menolong. Yang pinter tidak boleh egois, namun harus berbagi dengan sesama. Intinya siswa tidak boleh bersikap individualis, terkhusus dalam menghadapi UNAS.

Akibatnya, kecurangan-kecurangan menjadi lumrah dilakukan peserta UNAS. Beberapa kasus misalnya, siswa memakai HP di saat ujian, ternyata isi HP tersebut berisi jawaban-jawaban, maupun seluruh isi catatan baik catatan buku maupun buku paket. Kasus lain ditemukan sobekan kertas yang berisikan beberapa jawaban disebarkan ke mana-mana. Dan kasus-kasus tak terpuji lainnya yang kayaknya sudah menjadi rahasia umum dalam dunia per-UNAS-an.

Mengapa kecurangan-kecurangan seperti marak dan justru didorong oleh sekolah? Lalu apa dampaknya bagi pendidikan pada umumnya?

Salah satu sebabnya sekolah sepertinya takut jikalau salah satu siswanya tidak lulus. Sekolah merasa ketakutan jika citra jelek hinggap di lembaganya. Jika salah satu anak didiknya tidak berhasil lolos dalam ujian nasional kemungkinan besar sekolah akan menanggung malu, baik malu terhadap Dinas Pendidikan, maupun lembaga sekolah lainnya, terlebih malu terhadap wali murid. Dan yang lebih menakutkan jika itu berpengaruh terhadap eksistensi kelanjutan sekolah tersebut. Kemungkinan besar sekolah waswas kalau lembaganya akan berkurang peminatnya. Sekolah merasa kuatir jika mereka tidak mendapat siswa sesuai dengan kuota kursi yang telah tersedia.

Kekuatiran tersebut membuat perilaku curang mendapat dukungan berbagai pihak. Bisa jadi guru dan birokrat sekolah yang mengarahkan atau yang lebih parah didukung oleh pengawas yang terlenakan oleh pelayanan dan fasilitas. Memang benar bahwa saat ulangan-ulangan harian pun perilaku nyontek di kalangan siswa hampir-hampir sulit untuk dibendung, namun jikalau perilaku “negatif” tersebut didukung oleh bapak-ibu guru atau birokratnya baik langsung maupun tidak langsung, maka siswa akan memperoleh dukungan pembenar atas perilaku mereka. Mereka akan menganggap perilaku mereka sah dan wajar-wajar saja dalam UNAS demi menyelamatkan muka sekolah.

Meski demikian, khusus untuk sekolah negeri, jika kita menilik lebih mendalam ketakutan itu sebenarnya tidaklah beralasan. Karena citra sekolah negeri di mata masyarakat masih tinggi. Lulus atau tidak lulus siswanya, tidak akan berpengaruh besar terhadap eksistensi sekolahnya. Masyarakat akan lebih condong menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri daripada memasukkan ke sekolah swasta. Walaupun sekolah negeri bobroknya bukan main. Namun hal ini bukannya kemudian sekolah negeri bisa bersikap sembrono. Yang saya maksudkan jangan sampai sekolah-sekolah negeri mengalami phobia sehingga bersikap destruktif dalam me-menej siswanya dengan melakukan hal-hal di luar rule of law.

Siswa tidak seharusnya diajari dengan sikap tidak jujur dalam menghadapi UNAS. Mengajari kerjasama dalam ujian, trik-trik mencari celah pengawas, terlebih mencari trik untuk nyontek, jelas bukan merupakan sikap fair dalam ujian. Mengajari tidak jujur jelas akan menjadi preseden buruk bagi perkembangan kepribadian anak. Anak akan mengalami ambiguitas kepribadian. Di satu sisi ia meyakini bahwa kejujuran adalah nilai yang baik dalam kehidupannya sebagaimana diajarkan oleh guru agama. Tapi di sisi lain ia dituntut untuk tidak jujur oleh lingkungan sekelilingnya. Ia dituntut untuk beradaptasi dari peraturan yang tidak jelas tersebut. Akhirnya nilai-nilai ideal yang ia yakini perlahan akan hancur oleh setting area kebohongan. Kecerdasan emosi dan spiritual yang dibangun dengan susah payah oleh guru agama ataupun guru-guru penjaga moral lainnya hancur berkeping-keping demi kepentingan sesaat, UNAS.

Maka lengkap sudah kita mensodaqohkan dekadensi moral di kalangan remaja kita. Dekadensi moral ini akan menjadi bom waktu bagi negara besar bernama Indonesia. Jika dunia pendidikan tidak mampu mengubah orientasi pendidikannya ke arah kepribadian bangsa, niscaya pendidikan kita akan berkutat di wilayah pragmatisme belaka. Terwujudnya manusia seutuhnya atau dalam bahasa lain memanusiakan manusia akan jauh dari kenyataan. Terlebih jika mengorientasikan diri membentuk generasi yang cerdas dan bermoral, maka akan sangat sulit untuk dijangkau.



No Responses Yet to “UNAS: Membusukkan Pendidikan”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: