Selamat Datang Intelektual Pengkhianat

11Apr08

oleh Eko Prasetyo
dimuat dalam Resistinfo #23/2008

Di Hindia ini, tuan, sejauh kuperhatikan, begitu seorang terpelajar mendapat jabatan dalam dinas Gubermen, dia berhenti sebagai terpelajar. Kontan dia ditelan oleh mentalitas umum priyayi: beku, rakus, gila hormat dan korup.
(Pramoednya Ananta Toer)

Saya masih mengenang seorang ilmuwan tua yang sederhana. Doktor Sritua Arief. Garang di mimbar dan tajam dalam tulisan. Tak tampak sebagai ekonom yang kagum dengan angka. Pujian Bank Dunia atas Indonesia hanya ditanggapi dengan sinis. Ia menulis seperti seorang petarung. Data digunakan selain untuk meneguhkan pendapat juga menjadi pisau untuk membunuh gagasan yang dianggapnya manipulatif. Musuhnya teramat besar: salah satunya, Bank Dunia. Badan keuangan international yang kini banyak memakai tenaga kampus untuk melakukan penelitian. Sritua Arief, bukan orang yang gemar akan uang dan jabatan. Beberapa kali tawaran menghampirinya untuk menjadi komisaris perusahaan, tapi ditolaknya dengan keras. Ia mirip samurai yang punya keyakinan hanya dengan pedangnya. Sekali lagi, Sritua menunjukkan jalan hidup seorang ilmuwan. Sederhana, teguh dan penuh keyakinan. Ia hidup dan meninggal secara terhormat.

Begitu berbedanya Sritua Arief dengan himpunan dosen muda Komunikasi UGM. Dosen-dosen yang meneliti dan dibiayai langsung oleh PT Asian Agri. Inilah perusahaan yang tahu bagaimana menggoda keimanan seorang ilmuwan. Datang dengan maksud jelas, tapi melalui metode yang meyakinkan. Mengajak penelitian. Kata penelitian sudah terlanjur mendapat roh ilmiah. Apalagi kemudian ada dana yang mungkin bisa menambal rumah sang dosen, bisa menggganti mobil yang agak kuno, bisa membelikan perkakas yang agak wah atau bisa menambah uang belanja untuk keluarga. Pokoknya uang bisa membuat rumah, perkakas dan keluarga jadi tampak ramah dan menyenangkan. Mungkin karena iman atau memang ada kebutuhan mendesak: tawaran nista itu kemudian diterima. Hasil riset mereka kemudian jadi polemik dan sebagian besar mengecamnya. Padahal mereka telah mengamalkan ilmu komunikasi secara tepat: komunikasikan kebutuhanmu pada juragan yang bisa memenuhinya.

Ternyata ini bukan kisah yang pertama. UGM dulu juga sempat kena terpaan masalah tentang jual-beli gelar S3. Beberapa doktor sempat diwawancarai. Petinggi kampus sempat membentuk tim investigasi. Kita tak tahu bagaimana ujung dari serial pengkhianatan ini. Hanya saja kampus ini kemudian meluluskan banyak Doktor yang berasal dari kalangan pejabat. Ada Pak Ginandjar, ada Pak Akbar, ada Pak Fadel Muhammad dan tak lupa Pak Sultan. Jangan curiga duluan, karena mereka ’sungguh-sungguh’ telah membuat karya ilmiah. Yang sudah diuji, dipresentasikan dan diberitakan oleh media massa. Bahkan tiap uji ilmiah didatangi oleh pendukung, penjilat dan tentunya teman-teman penjahat (baca=pejabat). Maka benarlah jika kampus ini mengambil nama Gadjah Mada. Pejabat Majapahit yang sumpahnya penuh dengan aroma kolonial. Sepertinya ini bukan terjadi pada kampus Gadjah Mada saja. Beberapa kampus memang sudah beralih peran. Kampus berubah jadi tempat menyenangkan untuk mencari makan, pangkat dan jaringan.

Kini tugas terbaru kampus adalah memberi perlindungan bagi kaum berpunya. Mereka yang memiliki uang akan diberikan layanan prima. Kuliahnya bisa memilih: kelas internasional atau extension. Mau cara cepat, lebih cepat atau cepat sekaliii. Semua pilihan itu ada tarif dan iklannya sendiri. Bahkan untuk pejabat yang kesibukan rapatnya melebihi akal sehat, disediakan sistem kelas jauh atau kelas akhir pekan. Sedang buat mereka yang pekerjaannya melebihi romusa, kampus akan membuka kuliah mengikuti kebutuhan mereka. Ringkas, sederhana dan dapat nilai memuaskan. Jangan pikir soal tugas menulis dan membaca. Semuanya ada yang membereskan, asal Anda siap mengeluarkan biaya tambahan. Tentang bobot dan isi pastilah dosen tak mau tahu; karena mereka sendiri tergolong lapisan yang malas menulis. Makanya semua bangunan kampus harus mengikuti selera yang berpunya: lapangan parkir harus bedakan tegas antara mobil dan motor; satpam yang siap menyeleksi siapa yang akan bertandang ke kampus; ruang kuliah harus berkarpet dan ber-AC; el-si-di musti tersedia di setiap ruangan; kantin menyediakan semua jenis makanan.

Bagaimana kabar para dosen? Ada beberapa dosen yang serius mengajar dan meneliti. Tapi sebagian besar kini mulai mencari penghidupan yang lebih menyenangkan. Sesekali ada yang berperan sebagai makelar lembaga donor. Istilah menterengnya konsultan! Beberapa ada yang mempunyai jabatan politik. Ada yang di partai, lalu komisi, lalu pengamat, lalu staf ahli. Ringkasnya, pekerjaan yang membuat pendapatan dosen melompat tinggi. Malahan ada yang populer sebagai pengamat dan mulai hidup seperti bintang: kawin-cerai-kawin lagi. Mirip binatang mamalia. Tak ada yang nista dari pekerjaan itu, selain mereka membuang waktu mengajar dan berdiskusi dengan mahasiswa. Ruangan kuliah menjadi tempat pertemuan kawanan bangkai: pengetahuan kuno dan tidak ada perdebatan. Kesunyian kampus membuat mahasiswa seperti kumpulan massa yang memiliki selera seragam: konsumtif, pragmatis dan enggan ikut pergerakan. Karena itu kehidupan akademis yang mengagungkan akal sehat, rasionalitas dan suasana kebebasan menjadi padam.

Lihat saja kegiatan apa yang kini makin marak di kampus. Training kesalehan, bisnis cepat, menikah dini, atau konser musik. Pelatihan yang memberhalakan selera atau mengajak mereka untuk mencari informasi tentang ’kehidupan akhirat’. Atau mereka akan gempar hanya karena salah satu mahasiswa masuk dalam sayembara ’mirip bintang’ atau menang undian. Daya gerak kampus memang kemudian diserahkan sepenuhnya pada antusiasme pasar, dan itu berarti meletakkan mahasiswa bukan sebagai insan akademis tapi konsumen. Yang membutuhkan peremajaan terus-menerus; yang butuh pemujaan membabi-buta; yang memerlukan janji meyakinkan di hari akhir. Karena itu kampus kini padat dengan spanduk dan papan reklame. Lambangnya beragam: dari rokok, minuman, kaleng susu hingga nama salon kecantikan. Di UGM sendiri, halaman mukanya dipakai tiap minggu untuk pasar apa saja. Lahan kampus bukan mimbar bebas tempat beroperasinya aksi massa, tapi ladang subur untuk tempat pembelanjaan.

Situasi ini mendorong keharusan untuk mengubah manajemen kampus. Ruang-ruang kuliah dan pertemuan adalah ladang untuk mendapatkan laba. Sewa gedung kemudian diterapkan untuk kegiatan apa saja. Asalkan sanggup membayar. Ada kampus yang kini masjidnya paling banyak dipakai untuk hajatan nikah. Ada kampus yang ruang seminarnya dipakai pameran kucing. Ada kampus yang lapangan olah raganya lebih banyak dipakai untuk pentas musik dan pameran. Pokoknya gedung indah kampus, tidak sekedar untuk kenyamanan kuliah, melainkan bisa digunakan untuk keperluan yang bisa mendapatkan uang. Itu pula sebabnya, kampus mulai berpikir untuk membuka usaha: ada yang membuat Reksa Dana, ada yang mendirikan servis dan cuci mobil, bahkan ada yang mendirikan losmen. Sialnya sejauh ini belum ada yang mencapai keuntungan besar. Bagaimana dengan pusat-pusat penelitian? Ah, kabarnya tak terlalu baik: karena mereka diminta untuk mencari pasokan dana dari luar. Tak jarang ada kabar yang menyakitkan: uang penelitian tak terpakai, kurang dapat dimanfaatkan dan selalu berujung sisa.

Jika sudah begitu maka kampus seperti kehidupan rumah bordil. Laba dan rugi diukur dari seberapa banyak mahasiswa yang ditampung. Beberapa fakultas mulai dinilai dari seberapa banyak lulusannya ’terpakai’. Tak aneh jika beberapa fakultas tertentu kini sepi peminat. Agar tampak lulusannya ’terpakai’, di beberapa kampus tiap pekan membuka pasar biro tenaga kerja. Mereka diberi pengumuman, informasi dan kesempatan untuk magang di perusahaan tertentu. Bekerja-sama dengan sejumlah perusahaan, ternama maupun tidak. Anak-anak muda tidak dibiasakan untuk ikut organisasi atau gerakan, tapi dilatih untuk mencari duit. Malahan ada konglomerat semasa Orde Baru yang membuat lomba wirausaha: dimana mahasiswa diberi pinjaman uang untuk dikembalikan dan dilihat bagaimana mereka mengembangkan uang itu. Semangat menjadi saudagar menjadi kemampuan dasar yang kini dibutuhkan. Kemampuan menumpuk uang cermin keberhasilan kuliah. Sungguh menyakitkan!

Itu yang membuat sejumlah dosen menjadi pengkhianat pengetahuan. Mereka merasa tak perlu untuk menyinggung data kemiskinan yang kerapkali keliru; mengingatkan akan perubahan politik yang berjalan ngawur; membangunkan kembali ancaman atas modal pada mahasiswa hingga menulis karya yang bermutu dan bisa dijadikan panduan gerakan. Mereka enggan, malas dan mungkin juga tak merasa perlu mengerjakan itu. Wibawa sebagai dosen ukurannya tidak lagi pada karya dan dedikasi mengajar, tapi terletak pada: rumahnya berlantai berapa, sudah berapa kali pergi ke luar negeri; sudah punya mobil apa; proyek apa yang kini sedang dikerjakan. Ukurannya menjadi sepele, remeh dan agak memalukan. Kita kemudian sedikit tercengang dengan dosen-dosen India, Pakistan, Bangladesh yang mendapat ganjaran nobel. Mereka sama-sama hidup di negara-yang bisa jadi sama miskinnya-tapi mereka memilih untuk menjadi ilmuwan sesungguhnya. Ilmuwan yang mampu memberi sumbangan untuk dunia.

Ringkasnya dengan mutu kampus semacam ini, kita sulit bertengger sebagai juara dalam soal kualitas. Kampus kita makin hari berada di posisi buncit. Sungguh mengerikan, bangsa yang puluhan tahun merdeka, tak mampu mensejajarkan kampusnya dengan negeri yang berusia muda. Kampus kita bukan hanya tempat mencari laba tapi juga kawasan najis, yang diisi oleh komplotan bandit yang tidak lagi yakin akan tugas sucinya. Ilmuwan kita kehilangan, dalam istilah Gramsci, ’rasa’. Gramsci bertutur: “Kesalahan intelektual terletak pada mempercayai bahwa seseorang dapat mengetahui tanpa merasakan… dengan kata lain bahwa seolah-olah seorang intelektual dapat menjadi intelektual (dan tidak hanya sekedar ‘orang pintar’) jika berbeda dan dipisahkan dari masyarakat; yaitu tanpa merasakan gerak, getaran dan gairah yang timbul di dalam masyarakat… kita tidak dapat membuat sejarah politik tanpa gairah ini.” Jadi tahulah kita sekarang, mengapa bisa muncul tragedi dan kisah memalukan dari kampus kita sendiri! Karena sebenarnya di negeri ini, sudah tak ada lagi kampus, apalagi universitas yang sebenarnya. Selamat jalan Sritua Arief dan selamat datang komplotan para pengkhianat!



No Responses Yet to “Selamat Datang Intelektual Pengkhianat”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: