Melawan Kapitalisme; Menegakkan Keadilan

11Apr08

oleh tukang resensi
dimuat dalam Resistinfo #23/2008: Selamat Datang Intelektual Pengkhianat

Judul Buku: Islam Melawan Kapitalisme; Konsep-konsep Keadilan dalam Islam
Penulis: Zakiyuddin Baidhawy
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: l, Agustus 2007

Sejak awal kehadirannya, Islam bukan saja hadir sebagai agama, tetapi juga membentuk dan membangun sistem ekonomi, politik dan kebudayaan. Kehadiran Islam berhasil mengubah peradaban Arab yang ketika itu merupakan peradaban yang sedang mengalami dekadensi menjadi sebuah peradaban yang berdimensi keadilan dan keseteraan. Pada awal abad VI, kota Makkah telah berkembang pesat menjadi kota perdagangan yang ramai. Suku Quraisy merupakan suku yang paling memonopoli dan mendominasi kepenguasaan ekonomi, politik dan kebudayaan. Montgomery Watt, seorang Islamolog, melukiskan dengan tepat situasi di Makkah saat itu: “… lebih dari sekedar pusat perdagangan, Makkah adalah pusat moneter. Para saudagar di Makkah mengelola keuangan, kredit, hingga menanamkan investasi sampai ke Gaza atau Damaskus…[jadi] Al-Qur’an turun bukan dalam lingkungan padang pasir, tetapi dalam lingkungan perdagangan yang maju”.

Namun, sistem perdagangan yang maju ini bukan berjalan tanpa cela. Akibat dikuasai secara penuh oleh hanya satu suku, watak dan sistem ekonomi di kota Makkah berlangsung secara monopolis, atau bahkan oligopolis. Hanya keluarga-keluarga tertentu-lah yang memiliki sumberdaya ekonomi yang melimpah, sementara sebagian masyarakat yang lain hidup dalam kemelaratan. Sistem ekonomi yang timpang ini ternyata memiliki implikasi moral yang tak sederhana. Praktik culas dalam perdagangan, riba, kekerasan terhadap buruh, budak dan kaum wanita, serta kehidupan yang serba materialistik dan hedonis merambah kehidupan di Makkah. Pada senjakala peradaban semacam itulah Islam hadir sebagai fajar yang menyinari kaum Arab dan dunia. Jadi, pertama-tama, Islam yang diajarkan oleh Muhammad datang bukan hanya sebagai jawaban atas rusaknya moral dan penyelewengan agama belaka. Ia hadir sebagai jawaban atas ketidakadilan dan kemerosotan peradaban.

Jika Islam memang hadir untuk keadilan dan kesetaraan, lalu bagaimanakah sistem itu menjawab berbagai ketidakadilan dalam sistem ekonomi saat ini? Bisakah sistem Islam menjadi jawaban atas buasnya sistem kapitalisme neoliberal? Islam Melawan Kapitalisme; Konsep-konsep Keadilan dalam Islam, sebuah kajian yang dilakukan oleh seorang intelektual muda Islam, Zakiyuddin Baidhawy, yang berupaya mengulas sistem dan etika ekonomi Islam berhadapan dengan teori-teori keadilan kontemporer. Bagi Baidhawy, sistem ekonomi Islam bisa menjadi alternatif untuk mengatasi problem ketidakadilan ekonomi yang melanda peradaban dunia saat ini. Problem ketidakadilan itu terjadi karena dunia saat ini menganut sistem ekonomi yang berlandaskan kapitalisme.

Sistem keadilan Islam, menurut Baidhawy, harus dimulai dari menyoal filsafat kepemilikan sebagai titik tolaknya. Menurut Baidhawy, Islam tidak meletakkan kepemilikan sebagai sesuatu hal yang mutlak, tetapi juga tidak menekankan kepemilikan komunal secara absolut. Kepemilikan mutlak atas alam hanyalah hak Tuhan, dan oleh karena itu seluruh sumberdaya alam hanya merupakan titipan dan mandat (istikhlaf) dari Tuhan kepada manusia untuk dikelola demi kemaslahatan bersama. Kepemilikan digolongkan dalam dua jenis, yaitu kepemilikan pribadi dan kepemilikan publik. Pada kepemilikan pribadi pun, terdapat beberapa etika yang terkait dengannya, yaitu agar kepemilikan pribadi digunakan untuk kemaslahatan bersama, diperoleh dengan jalan yang baik dan benar, membersihkan kepemilikan melalui zakat dan sedekah, dan melarang penggunaan atau investasi kepemilikan yang mengakibatkan manusia dan alam mengalami kerugian atau bahaya. Sementara kepemilikan publik adalah segala sesuatu yang terkait dengan sumberdaya lingkungan, seperti air, hutan, sumber energi, bumi, kehidupan liar, tambang, minyak bumi. Semua sumberdaya ini pada dasarnya haram untuk diperjualbelikan, melainkan dikelola oleh otoritas (baik negara ataupun kolektifitas masyarakat) untuk kemaslahatan masyarakat yang tinggal di atasnya.

Sementara dalam hal produksi, etika Islam sangat berlawanan dengan sistem produksi kapitalis yang melulu bertumpu pada kekuatan produksi (modal, pekerja, dan alat-alat produksi) dan relasi produksi (penguasaan kekuatan produksi) yang cenderung berwatak eksploitatif. Dalam Islam, kekuatan produksi, utamanya modal dan alat-alat produksi, haruslah memiliki beberapa kriteria, yaitu modal haruslah bersifat halal (rizq), bebas korup (fadl), ramah lingkungan (thayyibah). Sementara, dalam hal relasi produksi Islam menganjurkan agar skala perbedaan kepemilikan faktor-faktor produksi tidak dijadikan sarana untuk mengalienasikan dan mengeksploitasi orang lain, melainkan sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan dan keuntungan bersama.

Aspek yang lain dalam keadilan ekonomi adalah konsumsi. Jika kapitalisme sangat memuja konsumsi sebagai suatu mekanisme untuk menggenjot produksi dan pertumbuhan, maka etika ekonomi Islam justru berjalan sebaliknya: menganjurkan suatu cara konsumsi yang moderat, adil dan proporsional. Intinya, dalam Islam konsumsi harus diarahkan secara benar dan proporsional, agar keadilan dan kesetaran untuk semua bisa tercipta. Ada beberapa mekanisme konsumsi dalam Islam. Modus konsumsi yang baik, menurut Nabi, adalah sepertiga untuk disedekahkan, sepertiga untuk dikonsumsi sendiri, dan sepertiga lagi untuk investasi.

Unsur yang terakhir dalam tata keadilan ekonomi Islam adalah distribusi dan redistribusi. Dalam kapitalisme, distribusi kekayaan bukanlah menjadi unsur yang penting untuk diperhatikan. Dalam Islam, prinsip dari distribusi dan redistribusi adalah berpihak pada yang lemah. Ada beberapa aspek yang berkaitan dengan tindakan distribusi ini. Pertama, larangan untuk membatasi akses ekonomi. Kedua, merampas tanah tidak produktif untuk dihidupkan lagi (ihya’ al-mauta). Tindakan ini serupa dengan program reforma agraria saat ini. Ketiga, regulasi sumberdaya alam dan tambang untuk kemaslahatan bersama. Sementara dalam hal distribusi kekayaan dan pendapatan individual, Islam mengajukan beberapa tawaran, yaitu pertama, berbagi surplus pemanfaatan modal; kedua, melalui mekanisme pewarisan kekayaan; ketiga, melalui mekanisme zakat dan hadiah tanpa pamrih; keempat, melalui pemberdayaan sosial kaum mustadh’afin.

Dengan cara ini, maka Islam berupaya mendorong dua hal sekaligus, yaitu mengurangi kesenjangan sosial, sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi. Dengan dua jalan itulah keadilan ekonomi berupaya dirajut.



No Responses Yet to “Melawan Kapitalisme; Menegakkan Keadilan”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: