Kotaknya Editor – feb 2008

10Apr08

oleh tukang edit
dimuat dalam Resistinfo #23/2008: Selamat Datang Intelektual Pengkhianat

“Jangan mencuci celana kolor di depan rumah.”

Itu petuah orang-orang tua jaman dulu. Namun, karena sekarang orang sedang antusias mencari sistem alternatif, apa yang berlangsung di dalam Resist tak ada salahnya untuk diketahui, betapapun masih sepele sifatnya dan tak jarang memalukan.

Umumnya ketika ditanya seperti apakah alternatif terhadap sistem kapitalisme, orang menjawab, tengoklah Venezuela. Di sana rakyat Venezuela sedang memperjuangkannya. Biasanya reaksi si penanya dapat ditebak: tapi Venezuela berada di Amerika Latin, kaya minyak pula. Dan ingat, mereka punya Hugo Chavez!

Kita hanya bisa bermimpi. Atau biar hati sedikit tentram kita ciptakan angan-angan bahwa pada suatu waktu muncul seorang tokoh semacam Hugo Chavez, yang akan dapat memimpin kita. Sambil menunggu ratu adil modern itu, kita bisa menonton film-film dokumentar mengenai Venezuela. Melihat wajah-wajah orang miskin yang tampak sumringah menceritakan sekarang mereka bisa membeli makanan murah, menyekolahkan anak-anaknya tanpa bayar, berobat juga tanpa bayar, belajar membaca-menulis, dan berorganisasi dalam komunitas-komunitas kecil. Sungguh membesarkan hati. Semangat kita membumbung tinggi. Selesai menonton, tinju kita acungkan ke udara sambil berteriak dalam hati: hancurkan kapitalisme, hidup sosialisme! Lalu, beranjak ke peraduan dengan tenang, tak lupa menyetel weker di Nokia seri terbaru yang bisa memainkan game Need for Speed Prostreet.

Kapitalisme jahat, orang tak akan ragu lagi. Mencerca kapitalisme sama gampangnya dengan mengatakan ada alternatif. Benar bahwa alternatif dari kapitalisme yang mengagungkan individualisme, tentulah yang sebaliknya, yakni sistem yang mengedepankan kolektivisme, yang tak lain dan tak bukan adalah sosialisme. Tapi, bagaimana membangun sosialisme biasanya luput dari pertanyaan. Kebanyakan masih disibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah revolusi ala Venezuela mungkin terjadi di sini, bagaimana kaum progresif bisa memenangkan dukungan massa untuk mengalahkan rejim kapitalis, dan kondisi-kondisi obyektif apa saja yang menopang. Ini seperti apa yang terjadi pada gerakan ’98, di mana yang ada di benak aktivis hanyalah bagaimana menggulingkan Soeharto, karena menganggap perubahan apapun mustahil dilakukan selama Soeharto masih bercokol.

Barangkali karena anggapan semacam itulah maka gagasan sosialisme baru menjadi angan-angan atau sebatas perdebatan teoritis dalam diskusi-diskusi. Padahal gagasan sosialisme mungkin kita praktekkan sekarang juga! Atau mungkin juga hal ini sebenarnya sudah disadari, namun kenapa sosialisme tetap tidak dipraktekkan, jawabnya mudah: sosialisme lebih keren dijadikan slogan ketimbang dipraktekkan.

Jangan mengira ketika alat produksi dikuasai buruh, separuh persoalan beres: tidak ada lagi yang mengambil nilai lebih, keadilan ditegakkan, kerja menjadi perwujudan kemanusiaan. Yang terjadi sebaliknya, persoalan-persoalan yang sebelumnya tidak ada malah bermunculan seperti terbukanya kotak pandora.

Kepemilikan bersama tidak selalu memunculkan solidaritas. Setiap orang menjadi pemilik namun bisa juga sekaligus merasa bukan pemilik. Setiap orang mendapat bagian yang tak jauh berbeda. Bagi orang-orang yang merasa bekerja lebih keras dan berpikir lebih berat, keadaan semacam ini rentan menimbulkan kekecewaan, dan yang terparah merasa tereksploitasi—kalau dulu oleh majikan, sekarang oleh sesama buruh. Rasa kebersamaan menjadi lebih susah dipupuk. Kesepahaman ideologi-lah yang kemudian menjadi tuntutan dasar. Tapi, ini sama saja memecahkan masalah dengan masalah. Kenyataan ini membuat kita insaf, baru terasa perlunya seorang majikan, menjadi musuh bersama, yang gampang memunculkan rasa kebersamaan.

Demokrasi di tempat kerja juga tidak sedikit menimbulkan persoalan. Perbedaan latar belakang, cara pandang, gender, budaya, ideologi, spesies, habitat maupun spesialisasi kerja ternyata membuat demokrasi dipahami secara berbeda-beda pula. Ada yang menganggap demokrasi adalah duduk manis saja mendengarkan dalam rapat, dan gerundelan setelah usai. Ada yang menganggapnya sebagai kesempatan untuk berbicara banyak, dan sedikit mendengar. Ada yang menganggap setiap lontaran pertanyaan sebagai serangan. Atau mengira apabila tertawa bersama, maka persoalan-persoalan akan selesai. Bahkan mungkin karena sudah sedemikian masuknya demokrasi dalam tulang sumsum ada yang kabur pemahamannya dalam membedakan antara kerelaan dengan tuntutan kerja.

Persoalan-persoalan itu masih secuil dari sebongkah padas persoalan yang perlu dipecahkan. Bagaimana mengurangi ekses-ekses negatif hirarki dan spesialisasi kerja yang tak terelakkan untuk berjalannya unit kerja? Bagaimana membuat atau merombak sistem-sistem, entah itu personalia, keuangan, dan segala macamnya agar sesuai dengan asas keadilan, padahal selama ini di sekolah kita dididik teori-teori ekonomi yang orientasinya laba semata, bukannya kesejahteraan buruh, apalagi kehidupan keseluruhan? Belum lagi bagaimana menghadapi, menghindari, atau menyiasati dunia luar, yang hanya peduli seberapa laku buku-buku kita, tak ambil pusing dengan idealisme atau “tetek bengek” lainnya. Dan masih banyak lagi.

Kita boleh berdebat sengit dan belum mencapai kesepakatan tentang apa itu sosialisme dan bagaimana penerapannya. Namun selama perdebatan itu berlangsung, tidak berarti perjuangan ke arah sosialisme menjadi tidak mungkin. Setiap perjalanan yang panjang, senantiasa dimulai dengan langkah setapak. Perjalanan menuju sosialisme bisa kita tempuh dengan berjalan menghindari setiap jalan yang menuju kapitalisme di setiap persimpangan. Memang tidak jelas sosialisme mana yang kita tuju, namun yang pasti kita tidak hendak menuju kapitalisme.

Inilah cara yang paling mungkin kita lakukan. Revolusi bukan kembang api. Begitu disulut langsung meledak. Revolusi mengikuti hukum pertama dialektika perubahan, dari kuantitas menuju kualitas. Revolusi bisa diibaratkan seperti air yang berubah dari benda cair menjadi gas. Perubahan kualitas itu terjadi cepat, namun sebelumnya musti terjadi proses pendidihan yang berlangsung berlahan dan lama. Apabila kita mengharap perubahan radikal, proses pendidihan niscaya kita lakukan sekarang juga. Suatu eksperimen kecil-kecilan bisa dilakukan di mana-mana dan oleh siapa saja sehingga menjadi apa yang disebut sebagai sosialisme dari bawah. Ketika massa siap dan situasi sudah matang, maka sumbu revolusi tinggal menunggu pemantiknya.

Terus melawan.



No Responses Yet to “Kotaknya Editor – feb 2008”

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: