<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>readresist</title>
	<atom:link href="http://readresist.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://readresist.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Aug 2008 07:16:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='readresist.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/27611674e940353368cbc65195bb4d46?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>readresist</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Selamat Datang Mahasiswa</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com/2008/08/27/selamat-datang-mahasiswa/</link>
		<comments>http://readresist.wordpress.com/2008/08/27/selamat-datang-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 07:14:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>readresist</dc:creator>
				<category><![CDATA[gerakan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan kritis]]></category>
		<category><![CDATA[Amir Sjariffudin]]></category>
		<category><![CDATA[anak muda]]></category>
		<category><![CDATA[demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[kampus]]></category>
		<category><![CDATA[kaum muda]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Mohammad Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pengangguran]]></category>
		<category><![CDATA[perguruan tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sarjana]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[Tan Malaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://readresist.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[oleh Eko Prasetyo
Yang membuat semua berjalan dengan teratur
Adalah rasa takut dalam diri kita masing-masing
(Bill the Butcher, Gangs of New York)
Hari ini kalian menjadi saksi dari tragisnya dunia pendidikan. Menjadi mahasiswa dengan bekal seadanya dan apa adanya. Seadanya karena tak banyak orang yang begitu beruntung mencicipi bangku kuliah. Hitung berapa banyak kawan-kawan SMA kalian yang sanggup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=37&subd=readresist&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh <strong>Eko Prasetyo</strong></p>
<p><em>Yang membuat semua berjalan dengan teratur<br />
Adalah rasa takut dalam diri kita masing-masing<br />
</em>(Bill the Butcher, <em>Gangs of New York</em>)</p>
<p>Hari ini kalian menjadi saksi dari tragisnya dunia pendidikan. Menjadi mahasiswa dengan bekal seadanya dan apa adanya. Seadanya karena tak banyak orang yang begitu beruntung mencicipi bangku kuliah. Hitung berapa banyak kawan-kawan SMA kalian yang sanggup untuk meneruskan kuliah. Bukan sekedar tinggal di kampus: tapi bertempat di lembaga perguruan tinggi yang terbaik dan paling baik. Kampus-kampus hebat itu bukan untuk kalian, tapi untuk mereka yang beruntung. Beruntung karena uangnya bisa mengongkosi sumbangan gedung, sumbangan sukarela, sumbangan kuliah dan bentuk sumbangan lainnya. Apa adanya karena bekal pengetahuan yang sangat minim. SMU hanya bisa mengajarkan kisah sejarah tragis, ilmu patriotisme yang naif dan pelajaran berhitung yang mencemaskan. Dan lagi-lagi kalian beruntung karena lolos ujian nasional. Singkatnya kalian menjadi mahasiswa bukan karena kecerdasan tapi lebih banyak karena keberuntungan dan kemujuran.<br />
<span id="more-37"></span><br />
Saksikan wajahmu hari ini. Tidak anak-anak, karena kehilangan senyum dan belum juga dewasa, karena tak ada kemandirian. Wajahmu hanya setengah kanak-kanak dan separoh dewasa. Itulah wajah yang dibesarkan dalam pendidikan yang terlampau menganggung-agungkan foto 3&#215;4. Apa yang bisa dipotret dari wajah yang patuh, takut dan tampak ragu itu. Foto itu hanya memastikan dirimu yang patuh, taat dan agak naif. Tak ada tawa, tak ada sinisme dan yang ada wajah beku tanpa perasaan. Wajah kalian menyiratkan kekuatiran demi kekuatiran. Kuatir kalau nanti tak dapat pekerjaan usai kuliah; kuatir jika nanti kuliah tak bisa dapat nilai bagus; kuatir kalau nanti tidak bisa melanjutkan kuliah karena biaya. Kuatir adalah ekspresi dari jiwa kerdil yang suka ditindas. Kampus dan sekolah kalian sebelumnya memang telah berhasil dan bahkan sukses menanamkan jiwa penakut. Sekolah hanya menuntut seorang itu seperti robot: taat jika diperintah, pintar dalam ulangan dan baik pada tingkah laku. Jika begitu maka yang tinggal dalam diri kalian hanya badan dan seonggok nafas. Karena memang nyali, kemandirian dan kemauan keras sesungguhnya telah dicabut. Sekolah telah menenggelamkan itu dan kita disadarkan melalui cetakan foto 3&#215;4 itu.</p>
<p>Kini kalian menjadi mahasiswa. Golongan yang begitu dipuja habis-habisan. Katanya mahasiswa itu agen perubahan. Tak ada perubahan negeri ini yang terjadi tanpa tangan mahasiswa. Demo-demo mahasiswa yang selalu dimuat di televisi membuat namanya terkenal di mana-mana. Dulu ada mahasiswa yang diculik, dipenjara hingga dibuang. Heroisme mereka membuat mahasiswa jadi lambang kebanggaan. Rasanya belum sah jadi mahasiswa kalau belum pernah sekalipun ikut demonstrasi. Demonstrasi seperti sebuah keyakinan dalam diri mahasiswa. Tak salah jika orang berpendapat kalau kehidupan mahasiswa berkisah antara cinta, buku dan pesta. Menyenangkan dan mengagumkan. Lihat saja kakak-kakak mahasiswa yang ada di sekitar kalian: percaya diri, gembira dan sangat antusias. Kampus telah menyulap semua kesedihan jadi rasa riang. Kampus telah membuat ketakutan jadi kenekadan. Walau ada cerita buruk tentang mahasiswa tapi itu hanya menegaskan kalau mereka bukan kumpulan dewa. Mereka adalah manusia muda yang tak luput dari sikap ngawur dan tanpa perhitungan. Kalau anak muda kok selalu berbuat benar, lurus dan bijak: itu namanya bukan orang tapi robot yang bertampang muda!</p>
<p>Tapi hari ini kalian mengikatkan diri pada kehidupan kampus yang memiliki tradisi pendidikan yang buram. Tempat teramai di semua sekolah atau kampus hanyalah kantin. Sebaliknya tempat paling sunyi adalah perpustakaan. Kelaparan bukan menimpa orang miskin tapi mahasiswa-mahasiswa muda yang letih menerima bahan kuliah. Pelajaran tidak membuat cerdik tapi membikin lapar. Pelajaran bukan membuat berani tapi jadi begitu penakut. Apalagi kampus-kampus makin gemar mengurung mahasiswa dengan absensi yang sangat ketat, disiplin dan sangat menyengsarakan. Mahasiswa hanya kelihatan ramai, riang dan gempita kalau ada di luar. Dalam ruang kuliah mereka jadi umat yang diam, lembek dan penuh keraguan. Ruangan kuliah sudah sunyi dari perdebatan karena pengajaran dan pementasan tak ada bedanya. Kerumunan banyak peserta kuliah seperti dengung lebah yang tidak menggigit. Mereka banyak tapi tak ada apa-apa; mereka berpenampilan menawan tapi tidak punya pikiran tangguh. Mereka seperti barisan robot yang hilir-mudik mendapatkan nilai dan takut kalau dianggap bodoh, tolol dan tidak sempurna. Pendidikan kita hanya menginginkan yang terbaik dan tidak memberi tempat untuk mereka yang gagal. Pendidikan tiba-tiba punya kemauan untuk melahirkan malaikat bukan manusia. Sungguh cita-cita tolol dan amat kejam.</p>
<p>Lalu untuk apa sebenarnya kalian kuliah di sebuah negeri yang sudah remuk-redam? Jika pekerjaan yang kalian harapkan; siap-siaplah menjadi pengangguran. Ada banyak sarjana menganggur dan lebih banyak lagi sarjana yang bekerja sia-sia. Lulusan fakultas hukum jadi jaksa yang begitu gampang disuap, lulusan kedokteran jadi dokter yang mahal layanannya; lulusan ekonomi hanya jadi menteri yang akalnya hanya menaikkan harga. Mereka memang bekerja tapi bukan untuk sebuah layanan bermakna tapi kesia-siaan yang semu. Mereka memakai baju yang penuh kehormatan tapi mereka mengerjakan kegiatan yang tak terhormat. Dan kalian menjadi pelajar di sebuah negeri yang mengalami kesusahan. Kita bersekolah di sebuah tempat di mana kelaparan jadi hiasan jalanan dan kemiskinan hanya bahan analisa. Mandat kalian besar dan tenaga kalian begitu lemah. Sedangkan pendidikan gagal untuk menjelaskan realitas ini dan lebih banyak menampilkan mimpi dan fantasi. Pendidikan tak pernah mendekatkan kalian dengan alam sekitar dan hanya menjamu keindahan, kebanggaan dan kenaifan. Pendidikan telah membuat kalian bangga menjadi majikan dan gengsi jika menjadi orang apa adanya. Karena itu pelajaran paling bermasalah di pendidikan kita ialah membaca, menulis dan berorganisasi. Ketiga ilmu itu dikalahkan oleh bilangan demi bilangan. Membaca yang membuat kita kenal dengan dunia nilai; menulis akan mengenalkan siapa kalian sebenarnya dan berorganisasi akan membuat kita tahu makna kebersamaan. Ketiga pelajaran itu lenyap dan tidak dianggap penting. Semuanya ditumpas habis karena mandat sekolah kini mirip dengan tugas bimbingan belajar: hanya ‘meluluskan’ siswa!</p>
<p>Saatnya kalian sadar kalau pendidikan tak memberi apa-apa. Jika kutanya apa yang kamu senangi ketika sekolah, jawaban anak-anak SMU di semua tempat sama: saat istirahat, waktu pulang dan ketika guru tidak masuk. Sekolah yang kita ingat hanyalah pengalaman berteman, berkawan dan bergaul. Itulah yang diam-diam mematangkan emosi kalian, yang mendekatkan kalian dengan kenyataan dan membuat kalian memahami tentang keajaiban. Kini mahasiswa sepatutnya meletakkan itu dalam kerangka organisasi. Organisasi adalah jalan untuk mematahkan pengalaman sesat berfikir dalam pendidikan. Tempat berorganisasi paling ideal sampai sekarang hanya berada di kampus. Selama tinggal di kampus cobalah untuk aktif dalam organisasi karena itulah esensi dari pendidikan: mengalami, menyelesaikan dan mengerjakan semuanya secara bersama. Pendidikan bukan sebuah tempat untuk melatih kecerdasan semata. Pendidikan lebih dari itu, ia menanamkan nyali, ia menaruh kecurigaan besar akan kemapanan. Pendidikan adalah latihan kita untuk melakukan pemberontakan, menghasut pertanyaan dan melahirkan tata perubahan baru. Hanya dikatakan dewasa jika orang berani mengambil tindakan dan bertanggung jawab atas tindakannya itu. Organisasi dan gerakan adalah roh dari pendidikan tinggi; bukan kuliah dan diktat ujian. Yang terakhir itu hanyalah ornamen pendidikan; ada untuk sekedar menandakan bahwa di sana terdapat kegiatan belajar-mengajar. Ada karena itulah ganti rugi dari uang yang kalian sedekahkan ke kampus ini. Bukan saja kalian yang beruntung tapi kampus ini beruntung karena masih bisa ‘meyakinkan’ kalian untuk tinggal disini. Sebab masih banyak anak muda nekad yang tak lagi percaya terhadap apa yang anda percayai sekarang ini.</p>
<p>Itu sebabnya dari pendidikan terbaik muncul siswa terbaik. Pendidikan kolonial bisa melahirkan seorang yang bernama Tan Malaka. Pria yang pendiam dan sekaligus pemikir yang tangguh. Dari tanganya kita tahu pentingnya menanamkan semangat anti kolonialisme. Tan Malaka paham bahwa jiwa kemerdekaan tak bisa ditindas dengan segala cara. Ia menyatakan dengan keras: merdeka 100%. Melalui pendidikan hadir pribadi besar dan agung yang bernama Soekarno. Laki-laki yang menyatukan bangsa ini dan membuat deklarasi kemerdekaan paling sederhana. Juga muncul pria saleh dan tertib yakni Hatta. Juga tampil pria budiman tapi bersahaja yang bernama Sjahrir. Muncul pula seorang nekad yang begitu pemberani yang bernama Amir Sjariffudin. Dan masih banyak pendiri bangsa ini yang dulunya adalah siswa dari pendidikan kolonial. Mereka mungkin tak terlampau rajin mengikuti sekolah, mereka mungkin juga tak begitu berat membawa buku, atau bahkan kurang begitu antusias untuk ikut lomba-lomba. Tapi mereka berhimpun dalam sebuah blok politik untuk menjadi ‘pemberontak’. Karena nyali mereka kalian bisa menikmati negeri ini dengan semua kebrengsekanya. Karena mahasiswa-mahasiswa yang bertipe seperti mereka-lah maka kampus menemukan makna terdalamnya. Tempat dimana kebebasan organisasi dijamin dan kebebasan intelektual dijaga. Sjahrir, Hatta, Soekarno menjadi mahasiswa bukan sekedar keinginan mendapat pekerjaan tapi mereka membuat pekerjaan untuk bangsa yang mereka hendak bangunkan. Soekarno menyebut diri sebagai ‘penyambung lidah rakyat’ karena memang itulah tugas seorang terpelajar.</p>
<p>Kini kalian punya kesempatan untuk menjadi ‘pemberontak’. Mengikuti jejak-jejak mereka. Sjahrir nekad tak menyelesaikan studi karena tugas berat untuk memerdekakan Hindia Belanda. Hatta bahkan berjanji tak akan menikah sebelum negeri ini merdeka. Dan Soekarno membantah perintah rektornya untuk tidak ikut berbagai kegiatan politik. Mereka bukan kumpulan anak-anak muda dungu yang serba penakut. Menaati semua perintah tanpa mau tahu maksud dan kepentingan apa di baliknya. Mereka bukan pula anak-anak muda yang begitu kagum dengan nilai atau sebaliknya terlalu mengkerdilkan makna belajar. Mereka seakan tahu bahwa kesempatan untuk kuliah ini merupakan ‘hutang’ yang harus dibayar. Mereka seolah tahu bukan karena biaya, kesempatan dan kepintaran mereka menjadi mahasiswa; tapi pengorbanan sekian ribu rakyat yang menderita. Mereka menjadi kaum terpelajar di sebuah negeri yang masih dijajah. Mereka memang ada yang tidak berhasil menjadi sarjana; tapi mereka lulus dalam ujian kehidupan. Mereka memerdekakan negeri ini. Jadi, kampus akan menjadi tempat yang membuktikan siapa diri kalian sebenarnya: anak penakut yang selalu kuatir pada masa depan sehingga mengikuti apa saja yang dinyatakan; atau anak pemberani yang merasa bahwa tugas menjadi mahasiswa bukan sekedar kuliah-kuliah-kuliah. Tugas jadi mahasiswa, persis seperti dibilang Hatta, penggerak akal sehat dan pecinta akal-budi. Karena itulah alasan yang patut kalian tinggal dan berada di kampus ini.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/readresist.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/readresist.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/readresist.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/readresist.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/readresist.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/readresist.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/readresist.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/readresist.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/readresist.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/readresist.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/readresist.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/readresist.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=37&subd=readresist&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://readresist.wordpress.com/2008/08/27/selamat-datang-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/beb9901615b57742bb5ff59393b37e98?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">readresist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perkembangan Gerakan Perempuan di Eropa</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com/2008/07/17/sejarah-perkembangan-gerakan-perempuan-di-eropa/</link>
		<comments>http://readresist.wordpress.com/2008/07/17/sejarah-perkembangan-gerakan-perempuan-di-eropa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 06:03:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>readresist</dc:creator>
				<category><![CDATA[gerakan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[resensi buku]]></category>
		<category><![CDATA[alat kontrasepsi]]></category>
		<category><![CDATA[Dharma Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Gerwani]]></category>
		<category><![CDATA[Gerwis]]></category>
		<category><![CDATA[hak perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[KB]]></category>
		<category><![CDATA[PKK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://readresist.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[oleh Titis Prihatini
dimuat dalam Joglo Semar, 11 Januari 2008
Judul Buku: Feminisme untuk Pemula
Penulis: MR, MR, SAW
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, Desember 2007
Sebagian besar laki-laki akan cenderung memandang negatif dengan gerakan perempuan. Karena, yang terlintas di kepala mereka tentu seorang perempuan yang galak, mandiri (tidak tergantung dan membutuhkan laki-laki lagi), kritis dan tidak mau disuruh-suruh.

Sebenarnya bagimana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=31&subd=readresist&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh <strong>Titis Prihatini</strong><br />
dimuat dalam <strong>Joglo Semar, 11 Januari 2008</strong></p>
<p>Judul Buku: <strong>Feminisme untuk Pemula</strong><br />
Penulis: MR, MR, SAW<br />
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta<br />
Cetakan: I, Desember 2007</p>
<p>Sebagian besar laki-laki akan cenderung memandang negatif dengan gerakan perempuan. Karena, yang terlintas di kepala mereka tentu seorang perempuan yang galak, mandiri (tidak tergantung dan membutuhkan laki-laki lagi), kritis dan tidak mau disuruh-suruh.<br />
<span id="more-31"></span><br />
Sebenarnya bagimana sih, gerakan perempuan yang sebenarnya. Bagaimana lika-liku sejarah perkembangan gerakan perempuan di Eropa? Apa yang menjadi persoalan perempuan? Mengapa mereka menuntuk hak yang sama dengan laki-laki?</p>
<p>Jika, berbicara soal sejarah gerakan perempuan di Indonesia: tidak bisa lepas dari perkembangan revolusi industri yang terjadi di Eropa. Arus revolusi industri membuat pemisahan ranah publik dan ranah domestik. Laki-laki berkesempatan bekerja di ranah publik, sementara perempuan harus rela dirinya di wilayah domestik. </p>
<p>Ketika berjalannya waktu, perempuan kemudian diperbolehkan bekerja di wilayah publik dan bisa mendapatkan upah untuk membiayai kehidupannya. Ketakutan akan perempuan tidak lagi bergantung pada laki-laki, kemudian dibuat sebuah kebijakan bahwa upah perempuan selalu lebih rendah dari laki-laki. Karena dengan asumsi, perempuan sebenarnya tidak memiliki hak untuk bekerja di wilayah publik, selain itu jaminan kehidupan perempuan masih harus bergantung pada laki-laki.</p>
<p>Saat ini, di Indonesia perempuan sudah dirampas haknya. Dulu perempuan memiliki hak atas bibit, tanah dan air. Ketiga hak tersebut memiliki sejarah yang cukup panjang. Pertama, hak memilih bibit: dulu perempuan bekerja di wilayah pertanian membantu laki-laki, tapi ketika laki-laki sudah memperoleh akses di ranah publik, perempuan kemudian mencoba mengembangkan pertaniannya dengan cara mengolah lahannya dengan mencari dan mendapatkan bibit yang bagus. Dari sana &#8220;pertanian&#8221; sebenarnya perempuan memiliki hak dan tahu benar mengenai bibit yang bagus, tanah yang subur dan air yang bagus untuk mengairi lahan dan juga yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari (mandi, mencuci dan memasak). Namun semuanya kini dirampas secara sistem. Pembangunan pabrik yang tidak memikirkan pembuangan limbah membuat hak mereka terampas. Di lain sisi pengambilan kebijakan yang menyangkut mengenai keluarga selalu tidak banyak melibatkan perempuan.</p>
<p><strong>Mengekang Perempuan</strong><br />
Pemerintah pun juga turut ikut-ikutan untuk mengekang perempuan. Dengan adanya alat kontrasepsi membuat perempuan tidak memiliki tubuhnya sendiri. Sebagian besar perempuan memiliki problem kesehatan setelah mengunakan alat kontrasepsi. Karena hormon mereka yang kemudian langsung berubah. Slogan yang dibuat pemerintah &#8220;dua anak cukup&#8221; membuat perempuan semakin tidak punya pilihan lain untuk ber-KB. Sementara laki-laki tidak diwajibkan untuk memakai alat kontrasepsi.</p>
<p>Berbagai pola gerakan perempuan yang ada sebenarnya pada intinya memperjuangkan hak perempuan. Namun pola yang ada dan berkembang selalu mendapat kritikan dari pola gerakan perempuan yang lain. Ada yang mengangapnya terlalu toleran ada juga yang dianggap terlalu berani. <em>Image </em>yang dibentuk Orde Baru pun sebenarnya turut membentuk opini masyarakat, bahwa perempuan yang kritis itu pasti orang tuanya ada sangkut-pautnya dengan PKI atau Gerwani. </p>
<p>Sejarah gerakan perempuan di Indonesia yang diangap massif dan radikal diawali dari Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar) yang kemudian berkembang menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Selain memperjuangkan kaumnya (perempuan) Gerwani juga sudah turut mengambil langkah dan terlibat di ranah politik. Mereka percaya bahwa sistem yang dijalankan saat itu merupakan salah satu penyebab ketertindasan perempuan. Sejarah gerakan perempuan Indonesia dan sejarah gerakan nasional merupakan materi yang wajib diberikan kepada kader-kader Gerwani. Ketika Orde baru berkuasa dan kondisi politik berubah arah, perempuan dipasung dalam ranah domestik. Propaganda dari media yang dikeluarkan oleh (militer) membuat mereka tidak boleh berorganisasi dan juga tidak ada hak untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri. Mereka hanya diperbolehkan mengurusi rumah tangga dan mengurus anak-anaknya.</p>
<p>Ketakutan pemerintah terhadap gerakan perempuan di Indonesia, membuat aktivitas perempuan dibatasi. Agar pemerintah dipandang tidak takut dengan gerakan tersebut mereka kemudian memfasilitasi untuk membentuk sebuah wadah khusus untuk perempuan semacam Dharma Wanita, kelompok PKK. Namun wadah tersebut sebenarnya justru malah mengungkung, karena semua aturan dan kebijakan yang akan dibuat tetap atas sepengetahuan dan seizin dari perangkat negara, baik itu di tingkat lokal maupun nasional.</p>
<p>Tulisan di atas merupakan rangkaian yang tak lepas dari mengapa gerakan perempuan harus ada. Perjuangan persamaan hak yang seharusnya didapatkan oleh laki-laki dan perempuan menjadi menimbulkan konflik antara kaum laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Buku <em>Feminisme untuk Pemula</em>, sangat cocok dibaca oleh orang-orang yang ingin mempelajari sejarah feminisme di Eropa. Membaca buku ini menjadi semakin mengerti, esensi yang diperjuangkan gerakan perempuan dari masa ke masa  “kemarin, kini dan esok”. Buku ini juga kaya akan gambar yang semakin mempermudah pembaca untuk mempelajari sejarah tersebut. Buku yang menjadi referensi utama jika berbicara soal sejarah feminisme.</p>
<p><strong>Titis Prihatini</strong>, pembaca buku.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/readresist.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/readresist.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/readresist.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/readresist.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/readresist.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/readresist.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/readresist.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/readresist.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/readresist.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/readresist.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/readresist.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/readresist.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=31&subd=readresist&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://readresist.wordpress.com/2008/07/17/sejarah-perkembangan-gerakan-perempuan-di-eropa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/beb9901615b57742bb5ff59393b37e98?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">readresist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Neoliberalisme: Ideologi yang Menghancurkan Kehidupan</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com/2008/07/15/neoliberalisme-ideologi-yang-menghancurkan-kehidupan/</link>
		<comments>http://readresist.wordpress.com/2008/07/15/neoliberalisme-ideologi-yang-menghancurkan-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 06:13:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>readresist</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi buku]]></category>
		<category><![CDATA[resistinfo]]></category>
		<category><![CDATA[APBN]]></category>
		<category><![CDATA[BLT]]></category>
		<category><![CDATA[deregulasi]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[kebutuhan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[kenaikan harga BBM]]></category>
		<category><![CDATA[Kwik Kian Gie]]></category>
		<category><![CDATA[layanan publik]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[neoliberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[pasar bebas]]></category>
		<category><![CDATA[privatisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Revrisond Baswir]]></category>
		<category><![CDATA[subsidi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://readresist.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[oleh tukang resensi
dimuat dalam Resistinfo #25/2008: Dijual: Orang Miskin, Rp 300 ribu saja! (tanpa diskon)
Judul Buku: Orang Miskin Tanpa Subsidi
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, April 2005
Dengan dalih mengikuti harga pasar minyak dunia yang terus melambung, rejim SBY-JK akhirnya menaikkan lagi harga BBM. Sontak, para ekonom penetek kekuasan dan penyembah pasar bebas kembali menggaungkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=30&subd=readresist&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh <strong>tukang resensi</strong><br />
dimuat dalam <strong>Resistinfo #25/2008</strong>: Dijual: Orang Miskin, Rp 300 ribu saja! (tanpa diskon)</p>
<p>Judul Buku: <strong>Orang Miskin Tanpa Subsidi</strong><br />
Penulis: Eko Prasetyo<br />
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta<br />
Cetakan: I, April 2005</p>
<p>Dengan dalih mengikuti harga pasar minyak dunia yang terus melambung, rejim SBY-JK akhirnya menaikkan lagi harga BBM. Sontak, para ekonom penetek kekuasan dan penyembah pasar bebas kembali menggaungkan tema pembodohan yang usang: “kenaikan harga BBM dilakukan untuk menyelamatkan APBN” serta “subsidi hanya menguntungkan kaum kaya”, atau “BLT akan mengurangi kemiskinan akibat kenaikan BBM”. Jurus penangkal protes yang usang pun kembali digelar, dari memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) hingga beasiswa untuk mahasiswa miskin. Pola ini, tak lain, adalah upaya untuk meredam radikalisme kaum miskin dan mahasiswa yang semakin menderita akibat kenaikan tersebut. Akibat dari kebijakan tersebut, bebrapa pengamat memprediksi bahwa jumlah orang miskin dan pengangguran akan semakin meningkat tajam.</p>
<p><span id="more-30"></span>Tema tentang politik ekonomi subsidi, kemiskinan, serta ancaman rejim pasar bebas sejak lama telah menjadi fokus utama dalam karya-karya Eko Prasetyo, termasuk dalam salah satu karyanya yang masih relevan untuk didiskusikan hingga kini, yaitu <em>Orang Miskin Tanpa Subsidi</em>. Seperti kebanyakan karyanya, buku ini bertumpu pada telaah politik ekonomi yang melandasi munculnya kenaikan harga BBM, pencabutan subsidi layanan publik, dan meningkatnya jumlah kaum miskin, serta semakin berlipat-gandanya akumulasi kaum kapitalis di jaman ini. Namun, kelebihan yang paling menonjol dalam buku ini adalah kemahiran penulis dalam memaparkan kontradiksi-kontradiksi yang tajam antara berbagai hal: <em>antara</em> subsidi berlimpah yang diberikan negara pada kaum kaya <em>dengan</em> dicabutnya subsidi yang menyangga kehidupan kaum miskin; <em>antara</em> menggelembungnya kekayaan segelintir elit kapitalis yang menangguk untung di jaman pasar bebas <em>dengan</em> semakin menderitanya sebagian besar rakyat miskin akibat didera oleh kemiskinan kronis, pengangguran dan kelaparan; <em>antara</em> korupsi dan penggelapan miliaran uang negara oleh para politisi busuk dan pengusaha bajingan <em>dengan</em> keengganan negara untuk memberikan subsidi untuk kemakmuran rakyatnya. Lebih lagi, buku ini sesungguhnya mengajak kita untuk menyingkap sebuah ideologi yang menjadi dalang dari semua anarkhi ini, ideologi terkini dari kaum kapitalis: neoliberalisme.    </p>
<p>Pencabutan subsidi BBM dan layanan publik lainnya seperti pendidikan dan kesehatan sungguh tak bisa dilepaskan dari suatu perspektif tentang bagaimana neoliberalisme menjadi ideologi yang yang dominan. Sebagai ideologi yang menopang rejim pasar bebas, neoliberalisme memiliki tiga kredo: privatisasi-liberalisasi-deregulasi. Tiga kredo itu dijeratkan pada negara-negara Dunia Ketiga yang terlilit hutang najis melalui skema penyesuaian struktural— SAP (<em>structural adjustment program</em>)—agar negara-negara tersebut menganut sistem pasar bebas. Upaya ini dilakukan agar kapitalisme bisa keluar dari krisisnya, yaitu dengan perluasan pasar dan perebutan sumberdaya produktif baru. Juga bertujuan untuk meningkatkan akumulasi dan kekuasan elit kapitalis. Pokok yang terakhir ini adalah yang paling penting. Neoliberalisme bisa dipahami sebagai suatu modus ekonomi yang berkehendak untuk melakukan akumulasi kapital dengan cara merebut dan menjarah sumberdaya produktif, serta melakukan komodifikasi dan komersialisasi segala sesuatu (<em>commodification of everything</em>), termasuk layanan publik dan sosial yang di masa lalu menjadi tanggung jawab negara pada rakyatnya.</p>
<p>Jadi, hasil akhir dari neoliberalisme ini di satu sisi adalah munculnya kembali kelas penguasa ekonomi yang mengalami kemandekan di masa kapitalisme negara, dan di sisi lain adalah hancurnya kehidupan kaum miskin. Neoliberalisme secara sistematis mencabut ‘selang infus’ yang menyangga kehidupan kaum miskin melalui dua jalur utama: <em>pertama</em>, mencabut berbagai subsidi layanan publik yang selama ini menjadi tanggung jawab negara—suatu modus yang mengakibatkan orang miskin harus menguras lebih dalam isi dompetnya untuk belanja biaya pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya dengan harga yang lebih tinggi dari sebelumnya; <em>kedua</em>, menguasai akses-akses sumberdaya yang berguna, baik dalam tenaga produksi maupun rantai distribusi, lalu melemparkannya pada mekanisme pasar bebas yang monopolistik. Alih-alih mendatangkan kemakmuran dan keberlimpahan sebagaimana yang dijanjikan, neoliberalisme justru mendatangkan petaka kesenjangan dan kemiskinan global yang tiada duanya sepanjang sejarah manusia.  </p>
<p>Dengan analisa semacam itulah kita mestinya membaca kenaikan BBM. Asumsi para pendukung neoliberal bahwa harga minyak harus naik seiring dengan kenaikan harga minyak dunia, dan karenanya perlu demi menyelamatkan APBN, pada dasarnya adalah argumen yang ilusif dan menyesatkan. Mengapa? <em>Pertama</em>, argumen itu menyembunyikan fakta bahwa liberalisasi migas telah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah sejak penandatangan LOI 1999 yang merubah struktur permigasan di Indonesia. Liberalisasi migas ini ditopang oleh perubahan UU di sektor energi yang didukung oleh World Bank dengan tujuan membuka izin bagi perusahaan-perusahaan asing untuk masuk ke berbagai tahap dalam proses migas di tanah air, mulai dari hulu sampai ke hilir (Baswir: 2008). <em>Kedua</em>, istilah subsidi sendiri juga cenderung menyesatkan, sebab pemerintah sebenarnya masih menangguk untung dari selisih produksi minyak dengan harga internasional yang sedemikian tinggi. Karenanya, tak ada yang disebut sebagai subsidi dan jebol APBN! Sebab kenaikan itu justru membuat pemerintah memiliki kelebihan uang yang sangat banyak (Gie: 2008).</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Jadi, akar kekacauan dan ketertindasan rakyat di negeri ini bersumber dari dua hal, pertama cengkeraman gurita neoliberalisme di sekujur tubuh negeri ini; dan kedua, akibat dari perilaku korup, salah urus, dan menyeleweng dari rejim penguasa yang tidak membaktikan kekuasaannya untuk kemakmuran rakyat melainkan kemakmuran segelintir elit penguasa ekonomi dan politik. Paduan dari dua hal ini adalah anarki yang tak terperikan: air, hutan, migas, energi, pangan, dan seluruh sumber kehidupan kita berada dalam ancaman penguasaan rejim pasar yang hanya mempunyai logika akumulasi tanpa henti. Proyek penghancuran kehidupan ini terus melaju hingga saat ini. Tak ada cara lain selain berlawan dan mengajukan jalan alternatif baru.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/readresist.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/readresist.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/readresist.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/readresist.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/readresist.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/readresist.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/readresist.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/readresist.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/readresist.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/readresist.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/readresist.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/readresist.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=30&subd=readresist&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://readresist.wordpress.com/2008/07/15/neoliberalisme-ideologi-yang-menghancurkan-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/beb9901615b57742bb5ff59393b37e98?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">readresist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hegemoni</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com/2008/06/28/hegemoni/</link>
		<comments>http://readresist.wordpress.com/2008/06/28/hegemoni/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 05:32:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>readresist</dc:creator>
				<category><![CDATA[gerakan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kutipan buku]]></category>
		<category><![CDATA[Antonio Gramsci]]></category>
		<category><![CDATA[Bernstein]]></category>
		<category><![CDATA[buruh]]></category>
		<category><![CDATA[Chantal Mouffe]]></category>
		<category><![CDATA[Ernesto Laclau]]></category>
		<category><![CDATA[Georges Sorel]]></category>
		<category><![CDATA[hegemoni]]></category>
		<category><![CDATA[hegemoni ekspansif]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[Karl Kautsky]]></category>
		<category><![CDATA[Louis Althusser]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[restorasi]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Rosa Luxemburg]]></category>
		<category><![CDATA[sistem kelas]]></category>
		<category><![CDATA[sosialisme]]></category>
		<category><![CDATA[transformisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://readresist.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[oleh Daniel Hutagalung
dikutip (halaman xxii-xxvi) dari:
&#8220;Hegemoni dan Demokrasi Radikal-Plural: Membaca Laclau dan Louffe&#8221;,
Pengantar Buku: Hegemoni dan Strategi Sosialis
Penulis: EL dan CM
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Buku ini dimulai dengan menengok genealogi konsep hegemoni jauh ke belakang, khususnya pada sejarah diskursus Marxisme maupun sosialisme. Dari sini akan dilihat inovasi teoritis dari studi dan pemikiran Laclau dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=29&subd=readresist&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh <strong>Daniel Hutagalung</strong><br />
dikutip (halaman xxii-xxvi) dari:<br />
<strong>&#8220;Hegemoni dan Demokrasi Radikal-Plural: Membaca Laclau dan Louffe&#8221;,<br />
</strong>Pengantar Buku: <strong>Hegemoni dan Strategi Sosialis</strong><br />
Penulis: EL dan CM<br />
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta<br />
Cetakan: I, 2008</p>
<p>Buku ini dimulai dengan menengok genealogi konsep hegemoni jauh ke belakang, khususnya pada sejarah diskursus Marxisme maupun sosialisme. Dari sini akan dilihat inovasi teoritis dari studi dan pemikiran Laclau dan Mouffe lewat buku <em>Hegemoni dan Strategi Sosialis</em> ini.</p>
<p><span id="more-29"></span></p>
<p>Menurut Laclau dan Mouffe, hegemoni pertama kali muncul bukan sebagai persebaran yang luar biasa dari sebuah identitas, melainkan sebuah respon terhadap terjadinya krisis. Dalam memberikan ilustrasi dari munculnya konsep hegemoni, bagian pertama buku <em>Hegemoni dan Strategi Sosialis</em> diawali dengan subjudul “<em>The Dilemmas of Rosa Luxemburg</em>” yang merujuk pada karya Rosa Luxemburg tahun 1906 yakni <em>The Mass Strike, the Political Party and the Trade Unions</em>. Dalam karyanya itu, Rosa melihat bahwa fragmentasi dalam kelas buruh merupakan sebuah keharusan, sebagai akibat struktural dari kapitalisme tahap lanjut. Meskipun begitu, Rosa juga melihat bahwa pada saat yang sama, prospek bagi perjuangan revolusioner bukan ditandai oleh bekerjanya hukum-hukum ekonomi, melainkan oleh terbentuknya persatuan kelas buruh secara spontan, melalui medium aksi simbolik. Cara pandang Rosa Luxemburg ini yang menunjukkan adanya keterpisahan “teori” dengan “praktek” menunjukkan tanda-tanda atau gejala yang jelas dari krisis dalam Marxisme, yang menjadi titik-awal analisa Laclau dan Mouffe.</p>
<p>Analisa Rosa Luxemburg tersebut sebenarnya berbenturan dengan model dominan Marxisme pada masa itu, yakni suatu metode kerangka kerja yang disarikan dari komentar Karl Kautsky terhadap <em>Efrut Programme</em> (1892). Menurut teks Kautskian, Marxisme merupakan doktrin esensialis yang melekat pada tidak terpisahkannya “kesatuan teori, sejarah dan strategi”. Analisa Kautsky merupakan ujud dari kemunculan ortodoksi dalam Marxisme, sekaligus menunjukkan “krisis Marxisme”. Laclau dan Mouffe mendiskusikan tiga respon yang mewaspadai terjadinya krisis Marxisme, yakni: munculnya “ortodoksi Marxisme”, formulasi pendekatan “revisionis” oleh Bernstein dan “sindikalisme revolusioner” dari Georges Sorel.</p>
<p>Ortodoksi Marxisme termasuk juga penguasaan atas posisi dominan atau pengistimewaan teori abstrak atas perjuangan sosial yang konkret, dan juga atas praktek politik partai-partai sosial demokrat. Adanya perbedaan dengan postulat-postulat teoritik diperlakukan baik dengan memberikan “gambaran” yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya, maupun juga fenomena yang berkaitan, sebagai suatu kontijensi yang tidak dapat mengubah arah terhadap berbagai peristiwa yang sudah diprediksi: yaitu posisi dominan persatuan kaum proletariat di bawah kepemimpinan partai buruh. Hanya pada beberapa kesempatan saja, khususnya dalam kasus Labriola dan Austro-Marxism, ortodoksi memberikan sedikit ruang bagi inisiatif politik yang otonom, namun tidak mengintegrasikan inisiatif-inisiatif tersebut dalam kerangka teoritis secara keseluruhan.</p>
<p>Soal hubungan politik dan ekonomi, atau basis dan superstruktur, merupakan motif utama pendekatan revisionis Bernstein. Posisi revisi yang menekankan bahwa fragmentasi atau pembegian kelas pekerja dalam sistem kapitalisme tahap lanjut dapat dirawat hanya dengan intervensi politik secara konkret. Menurut Laclau dan Mouffe, revisionisme Bernstein juga mendukung tipe reformisme gradual.(1)</p>
<p>Sindikalisme revolusioner yang diusung Sorel untuk pertama kalinya mencoba untuk mengkonseptualisasikan otonomi sosial. Gagasan Sorel adalah menggantikan kesatuan kelas ekonomi dengan “blok-blok” sosial yang lebih cair, yang diikat dengan tujuan-tujuan ideologis: rencana tersebut adalah mitos “pemogokan umum” kaum sindikalis, atau “revolusi” menurut Marx, yang memiliki fungsi “sebagai sebuah titik ideologis yang cair bagi identitas proletariat, yang dibangun atas dasar persebaran posisi-posisi subyek”.(2)</p>
<p>Akibat langsung dari reaksi-reaksi tersebut, yang berujung kepada fragmentasi sosial, adalah kemunculan konsep “hegemoni” sebagai area dari sebuah “logika politik” yang baru. Dalam diskursus Marxisme ortodoks, konsep tersebut hanya berada di tempat yang marjinal, sebagai penanda untuk teoritisasi peristiwa-peristiwa yang tidak beraturan. Misalnya dalam tulisan-tulisan Plekhanov, hegemoni mengarahkan keberagaman tugas-tugas (ekonomi dan politik) yang dipaksakan terhadap kaum proletar di Russia sebagai hasil dari keterbelakangan ekonomi.</p>
<p>Menurut Laclau dan Mouffe, hubungan relasi pada titik ini hanya semata-mata dilihat sebagai, “<em>suplemen</em> dari hubungan-hubungan kelas”. Dengan membedakannya lewat cara Saussure, bisa dikatakan “hubungan hegemonik selalu merupakan <em>parole</em>, sedangkan hubungan kelas merupakan <em>langue</em>”.(3) Mereduksi hegemoni hanya sekedar status suplemen tetap dipraktekkan dalam Leninisme, khususnya dalam rumusan Lenin soal “aliansi kelas” yang diposisikan di bawah kepemimpinan partai proletariat sebagai garda depan. Merujuk pada “pemusatan ontologis” kepada proletariat, aliansi kelas dalam kasus ini tidaklah mengubah identitas-identitas kelas secara esensial yang mengarahkan penyatuan mereka dengan tuntutan-tuntutan demokratis yang implisit dalam praktik-praktik hegemonik.</p>
<p>Dalam buku ini, Laclau dan Mouffe menilai terjadinya patahan penting dalam konsep hegemoni terhadap esensialisme Marxisme yang dipelopori oleh Antonio Gramsci. Secara khusus Mouffe menilai bahwa pokok terpenting bagi analisa mengenai konspesi ideologi yang dioperasikan dalam hegemoni Gramscian adalah melakukan studi dalam hal bagaimana Gramsci menggambarkan proses formasi hegemoni yang baru.(4) Bagi Lacalu dan Mouffe, Gramsci keluar dari deterministik identitas kelas peninggalan Plekhanov dan Lenin, dan memfokuskan pada pengelompokan sosial yang lebih luas yang ia sebut “blok historis” di mana kesatuan tujuan atau “keinginan kolektif” yang diusung atas dasar kepemimpinan intelektual dan moral dalam konteks hegemoni politik dan kultural.</p>
<p>Gramsci menekankan bahwa hegemoni berhasil ketika kelas penguasa berhasil menyingkirkan kekuatan oposisi, dan memenangkan persetujuan – baik secara aktif maupun pasif – dari para sekutunya.(5) Menurut Gramsci, subyek dari tindakan politik tidak dapat diidentifikasikan dengan kelas-kelas sosial, pada saat mereka mencapai bentuk “keinginan kolektif” yang menciptakan ekspresi politik dari sistem hegemoni yang dikonstruksi melalui ideologi. Formasi dari sebuah keinginan kolektif bukanlah konsekuensi dari tekanan ideologi kelas dominan terhadap kelas-kelas lainnya, melainkan produk dari reformasi moral dan intelektual, yang mengartikulasikan kembali elemen-elemen ideologis. Jadi secara umum bisa dikatakan bahwa hegemoni dalam pemahaman Gramsci adalah mengorganisir persetujuan – proses yang dilakukan melalui bentuk-bentuk kesadaran yang tersubordinasi dikonstruksi tanpa harus melalui jalan kekerasan atau koersi. Blok penguasa ini tidak hanya beroperasi di tataran masyarakat politik (<em>political society</em>), tetapi juga di seluruh masyarakat (<em>civil society</em>).(6)</p>
<p>Hegemoni adalah bagaimana elemen partikular mampu mengkonstruksi tuntutan mereka menjadi universal. Sebagaimana dalam pandangan Louis Althusser, proses seperti dominasi negara terhadap masyarakat berlangsung melalui aparat-aparat ideologis negara yang mengkonstruksi kesadaran palsu dalam masyarakat, dan membentengi masyarakat dari pembentukan pengetahuan akan adanya eksploitasi dan penindasan. Kesadaran palsu membentuk masyarakat menyetujui tindakan-tindakan yang diambil oleh negara, sekalipun tidak berkesusaian dengan kepentingan mereka, proses ini yang disebutnya proses hegemonisasi yang membuat kelas yang menguasai negara dapat bertahan lama.(7)</p>
<p>Namun hal terpenting dari konsepsi hegemoni Gramsci – maupun lainnya – adalah bagaimana hegemoni merupakan bentuk dari masyarakat sipil untuk membangun kekuatan politiknya dalam menghadapai rejim yang opresif dan represif. Dalam konteks ini Gramsci membedakan dua bentuk hegemoni yakni: transformisme dan hegemoni ekspansif. Kedua bentuk ini melibatkan sebuah proses simultan revolusi-restorasi. Restorasi cenderung mendominasi bentuk transformisme, sementara revolusi cenderung mendominasi bentuk hegemoni ekspansif. Transformisme bisa dilihat sebagai tipe defensif dari politik, yang diikuti oleh kekuatan hegemonik dalam sebuah situasi krisis ekonomi dan politik, dan melibatkan absorpsi secara gradual namun terus-menerus, dicapai melalui metode yang selalu berubah-ubah sesuai dengan efektivitas dari elemen-elemen aktif yang diproduksi oleh kelompok-kelompok yang beraliansi – dan bahkan dari kelompok-kelompok atau individu yang merupakan kelompok antagonistik dan kelihatannya merupakan lawan yang tidak terdamaikan.(8 ) Tujuan dari bentuk ini adalah sebuah konsensus yang pasif, yang bisa menetralisir kekuatan politik yang antagonistik dan memecah-belah massa.(9) Dengan kata lain transformisme merupakan revolusi tanpa massa – revolusi yang pasif. &#8230;</p>
<p><strong>Catatan Akhir:</strong><br />
(1) Ernesto Laclau, <em>New Reflections</em>, hal. 30.<br />
(2) <em>Ibid.</em>, hal. 37, 40.<br />
(3) Laclau and Mouffe, <em>Hegemony and Socialist Strategy</em>, hal. 51.<br />
(4) Chantal Mouffe, “Hegemony and Ideology in Gramsci”, dalam Chantal Moufe (Ed), <em>Gramsci and Marxist Theory</em> (London: Routledge, 1979), hal. 185.<br />
(5) Antonio Gramsci, <em>Selections From Prison Notebooks</em> (London: Lawrence and Wishart, 1986), hal. 104-105.<br />
(6) Michèlle Barrett, <em>The Politics of Truth: From Marx to Foucault</em> (California: Stanford University Press, 1991), hal. 54.<br />
(7) Louis Althusser, “Ideology and Ideological State Apparatuses: Notes Towards an Investigation”, dalam <em>Lenin and Philosophy and Other Essays</em> (New York: Monthly Review Press, 2001), hal. 98-99.<br />
(8 ) Antonio Gramsci, <em>Prison Notebooks</em>, hal. 58-59.<br />
(9) Chantal Mouffe, “Hegemony and Ideology in Gramsci”, hal. 182.</p>
<p><strong>Daniel Hutagalung</strong>, peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) dan Institut Riset Sosial dan Ekonomi (Inrise).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/readresist.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/readresist.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/readresist.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/readresist.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/readresist.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/readresist.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/readresist.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/readresist.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/readresist.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/readresist.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/readresist.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/readresist.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=29&subd=readresist&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://readresist.wordpress.com/2008/06/28/hegemoni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/beb9901615b57742bb5ff59393b37e98?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">readresist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meresapi Jiwa Natsir dan Soekarno</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com/2008/06/19/meresapi-jiwa-natsir-dan-soekarno/</link>
		<comments>http://readresist.wordpress.com/2008/06/19/meresapi-jiwa-natsir-dan-soekarno/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 05:09:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>readresist</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi buku]]></category>
		<category><![CDATA[agen perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[Agoes Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Deliar Noer]]></category>
		<category><![CDATA[Jalaluddin Rumi]]></category>
		<category><![CDATA[karikatur]]></category>
		<category><![CDATA[kartun strip]]></category>
		<category><![CDATA[kaum muda]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[Moh. Natsir]]></category>
		<category><![CDATA[Mohammad Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Semaoen]]></category>
		<category><![CDATA[Sjafroedin Prawiranegara]]></category>
		<category><![CDATA[Slank]]></category>
		<category><![CDATA[Soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[Takeo Fukuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://readresist.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[oleh Asri Bariqah
dimuat dalam Jawa Pos, 1 Juni 2008
Judul Buku: Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin! Soekarno, Semaoen, &#38; Moh. Natsir
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, Mei 2008
Pangemanan, seorang tokoh dalam Rumah Kaca, novel legendaris Pramoedya Ananta Toer, pernah berujar, &#8221;Bagaimanapun masih baik dan beruntunglah seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Daripada seorang penipu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=28&subd=readresist&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh <strong>Asri Bariqah</strong><br />
dimuat dalam <strong>Jawa Pos, 1 Juni 2008</strong></p>
<p>Judul Buku: <strong>Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin! Soekarno, Semaoen, &amp; Moh. Natsir</strong><br />
Penulis: Eko Prasetyo<br />
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta<br />
Cetakan: I, Mei 2008</p>
<p>Pangemanan, seorang tokoh dalam <em>Rumah Kaca</em>, novel legendaris Pramoedya Ananta Toer, pernah berujar, &#8221;Bagaimanapun masih baik dan beruntunglah seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Daripada seorang penipu yang berhasil menjadi pemimpin dan banyak pengikutnya&#8230;&#8221;<br />
<span id="more-28"></span><br />
Sindiran pahit ini bisa dikata sebagai ruh utama dalam buku <em>Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin!</em> karya Eko Prasetyo ini. Tak jauh beda dengan buku-buku Eko yang lain, buku ini masih disesaki dengan nuansa provokasi dan agitasi positif untuk membakar adrenalin semangat para pembaca, terutama kaum muda. Bedanya, kali ini Eko bersedia menurunkan &#8221;derajat&#8221; pola penulisannya menjadi jauh lebih sederhana, santai, ringkas, dan lugas. Tentu bidikannya agar segmen anak muda (remaja) yang diharapkan sebagai pembaca utamanya dapat mencerna dengan baik dan asyik. Dengan pemakaian bahasa dan pengungkapan popular khas anak gaul, jadilah tulisan dalam buku ini renyah untuk dikunyah. Lebih <em>gokil </em>lagi, nyaris di setiap halamannya bertebaran karikatur dan kartun strip yang jenaka, satir, menggelitik, namun juga menggugah simpul kesadaran kita.</p>
<p>Rasanya tak berlebihan jika dulu Bung Karno pernah lantang berkoar bahwa keberadaan para pemuda (dan juga pemudi) amat vital bagi perjalanan sejarah sebuah bangsa. Di banyak wilayah di dunia, pemuda terbukti mumpuni berperan sebagai lokomotif pembuka sekaligus garda perubahan yang bergerak di barisan terdepan. Sesuatu yang wajar apabila Bung Karno mengibaratkan bahwa andai seribu orang tua hadir bersamanya, mungkin mereka bisa memindah sebuah gunung. Namun, bila harus memilih, ia lebih suka ditemani oleh sepuluh pemuda dengan semangat dan cita-cita yang besar. Karena spirit kawula muda, dalam istilah Soekarno, akan sanggup mengubah wajah dunia.</p>
<p>Tema seputar pemuda dan kepemimpinan sengaja diangkat penulis berangkat dari kegelisahan kronis berupa krisis multiaspek yang saat ini melanda negeri Zamrud Khatulistiwa. Salah satu biang pokok dari segala kesemrawutan yang ada di bangsa ini tak lain karena lumpuhnya kepemimpinan nasional. Langkanya sikap keteladanan yang ditunjukkan para pejabat dan pemimpin kita menjadi faktor terbesar dari lambannya penanggulangan berbagai problema kebangsaan yang nyaris mengalir tanpa henti. Ketika jutaan rakyat menjerit akibat tindihan beban ekonomi, para pemimpin bangsa justru asyik memamerkan pola hidup bak selebriti yang bertabur kemewahan fasilitas negara. </p>
<p>Satu-satunya prestasi fenomenal yang diukir anak bangsa adalah pencapaian angka korupsi yang berada di peringkat teratas dunia. Bukan tanpa dasar jika pada September 2007, PBB mempublikasikan data yang menyebutkan bahwa salah seorang mantan presiden kita berada di ranking tertinggi daftar kepala negara dan mantan kepala negara yang diduga mencuri kekayaan negaranya sendiri dalam jumlah yang besar. Belum lagi gaya flamboyan para politisi yang dengan bangga melakukan praktik korupsi dengan berbagai alasan. Sikap arogan juga terlihat begitu kentara saat mereka alergi terhadap kritik dan aspirasi rakyat yang telah rela memilihnya. Misalnya, mereka tidak terima ketika grup musik Slank menyindir perilaku negatif yang marak di kalangan anggota parlemen. Padahal apa yang disuarakan Slank sejatinya realitas sosial yang nyata dan tak bisa ditutup-tutupi. </p>
<p>Ada tiga tokoh utama yang disodorkan buku ini untuk dijadikan rujukan, paling tidak sebagai bahan permenungan bagi para pemuda (calon pemimpin) serta para pemimpin yang sedang berkuasa. Ketiganya mewakili komunitas dan ranah ideologi yang berbeda. Yakni Moh. Natsir dari kalangan agamis, Soekarno (nasionalis), serta Semaoen (sosialis). Mereka bukan saja berhasil mencontohkan kesederhanaan hidup, kesungguhan bekerja, serta kekokohan idealisme, namun juga menjadi gambaran dari sosok pemimpin yang sukses memimpin dalam usia muda.</p>
<p>Dalam usia belasan tahun mereka sudah menjadi pejuang yang sudi memeras peluh demi kemajuan bangsa dan memerdekakannya dari cengkeraman kolonialisme. Mereka tidak menunggu tua untuk menjadi yang terdepan, akan tetapi sedari dini sudah berani mengambil risiko merebut peluang dan kesempatan menjadi pejuang-pemimpin yang andal. Tepatlah kiranya jika ada slogan bahwa pemuda saat ini adalah pemimpin di kemudian hari. <em>Syubban al-yaum rijaal al-ghad</em>.</p>
<p>Dikisahkan bahwa Natsir muda sangat terobsesi untuk menjadi orang pandai dan bijak seperti gurunya, KH Agoes Salim. Tekad dan kebesaran jiwa para pemuda masa itu tak bisa dikalahkan dan ditukar walaupun dengan tumpukan fasilitas dan jabatan yang dijanjikan lawan. Bersama para pemuda dengan talenta dan semangat baja seperti Sjafroedin Prawiranegara dan Mohamad Hatta, Natsir memperjuangkan aspirasi politik umat Islam. Kendaraan politik yang dipilihnya yakni Masyumi kala itu dikenal sebagai partai politik yang berwibawa dan bersih. Walaupun di antara anggotanya ada yang menjabat sebagai pejabat kabinet (menteri), ada aturan kepartaian yang tegas bahwa kader partai tak boleh sedikit pun memanfaatkan uang negara yang merugikan rakyat. </p>
<p>Natsir adalah simbol dari pribadi yang jenius, bersahaja, dan jauh dari kaya. Ia tak sudi menggadaikan martabat kehormatannya dengan cara menggarong hak-hak rakyat. Hingga akhir hayatnya, ia tidak memiliki rumah tinggal dan harus berpindah-pindah kontrakan. Bayangkan dengan kondisi sekarang, mana ada pejabat sekelas perdana menteri yang hidup kekurangan. Dalam bukunya <em>Membincangkan Tokoh-Tokoh Bangsa </em>(Mizan, 2001), Prof. Deliar Noer mengutip ungkapan duka PM Jepang Takeo Fukuda saat mendengar berita wafatnya Moh. Natsir. Kata Fukuda, &#8221;Wafatnya PM Natsir bagi kami seperti sebuah musibah yang lebih besar dari jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima.&#8221; </p>
<p>Walhasil, buku ini penting untuk dibaca oleh siapa pun. Bagi kaum tua, jadikanlah karya ini sebagai cermin koreksi untuk mengaca diri. Mungkin memang sudah waktunya bangsa ini dikelola oleh generasi yang lebih muda. Sedangkan bagi generasi muda, bolehlah Anda <em>ge-er </em>karena buku ini banyak mengungkap ihwal kelebihan potensi kaum muda. Tapi jangan berhenti sampai di situ, karena harapan utamanya adalah kesadaran serta kobaran semangat untuk membuktikan pada dunia bahwa memang pemuda kita bisa bangkit dan layak diberi kesempatan.</p>
<p>Seperti ujaran Jalaluddin Rumi, &#8221;Kamu dilahirkan dengan sepasang sayap. Lalu mengapa kamu lebih suka merangkak dalam meniti hidup?&#8221;</p>
<p><strong>Asri Bariqah</strong>, bergiat di klub diskusi Stasioen Patemoen Kota Malang.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/readresist.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/readresist.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/readresist.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/readresist.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/readresist.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/readresist.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/readresist.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/readresist.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/readresist.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/readresist.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/readresist.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/readresist.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=28&subd=readresist&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://readresist.wordpress.com/2008/06/19/meresapi-jiwa-natsir-dan-soekarno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/beb9901615b57742bb5ff59393b37e98?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">readresist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kotaknya Editor &#8211; mei 2008</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com/2008/06/12/kotaknya-editor-mei-2008/</link>
		<comments>http://readresist.wordpress.com/2008/06/12/kotaknya-editor-mei-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 02:35:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>readresist</dc:creator>
				<category><![CDATA[resistinfo]]></category>
		<category><![CDATA[indoktrinasi]]></category>
		<category><![CDATA[jika aku menjadi]]></category>
		<category><![CDATA[kelas sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran naif]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[reality show]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://readresist.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[oleh tukang edit
dimuat dalam Resistinfo #24/2008: Agama dan Revolusi Sosial
Selama beberapa hari, Kiki tinggal dengan seorang ibu tua pemecah batu. Tiap hari ia mengikuti apapun yang biasa dikerjakan ibu tua itu. Ia menemai ibu tua itu memecahkan batu-batu cadas di pinggir kali. Bertanya ini-itu mengenai pekerjaan itu, hasil yang didapat, berapa uang yang diterima, cukup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=27&subd=readresist&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh <strong>tukang edit</strong><br />
dimuat dalam <strong>Resistinfo #24/2008</strong>: Agama dan Revolusi Sosial</p>
<p>Selama beberapa hari, Kiki tinggal dengan seorang ibu tua pemecah batu. Tiap hari ia mengikuti apapun yang biasa dikerjakan ibu tua itu. Ia menemai ibu tua itu memecahkan batu-batu cadas di pinggir kali. Bertanya ini-itu mengenai pekerjaan itu, hasil yang didapat, berapa uang yang diterima, cukup atau tidak, dan sebagainya. Ia tak menyangka ibu tua itu ternyata sudah puluhan tahun melakoni pekerjaan itu. Padahal hasilnya tak seberapa. Hanya cukup untuk bertahan hidup. Kamera menyorot secara <em>close-up</em> rasa kasihan yang jelas membayang di raut muka Kiki yang bersih tak pernah mengenal debu. Ketika batu-batu itu sudah selesai dipecahkan, Kiki pun memaksakan diri untuk membantu menyunggi batu-batu yang berat ke tempat pengumpulan.</p>
<p><span id="more-27"></span></p>
<p>Menjelang siang, dengan rasa lelah yang belum hilang Kiki masih harus membantu ibu tua itu membuat sendiri minyak goreng dari kelapa karena tak mampu membelinya. Kelapa-kelapa yang sudah tua dikupas serabutnya satu persatu. Setelah lama bersusah payah akhirnya Kiki bisa mengupas satu butir kelapa. Berikutnya, kiki masih perlu memarut daging-daging kelapa itu. Jari-jarinya yang halus pun harus direlakannya ikut terparut di sana-sini.</p>
<p>Malamnya, Kiki harus tidur berdesakan-desakan di ranjang sempit nan reyot bersama ibu tua itu. Tak ada hiburan. Tidak ada radio, apalagi televisi. Yang terdengar hanya suara jengkrik. Kamar tidur itu pun (kalau bisa disebut kamar tidur) hanya diterangi temaram lampu teplok. Kiki melonjak kaget ketika tiba-tiba melihat seekor cicak merayap di dinding.</p>
<p>Harap dicamkan. Kiki bukan seorang kader PKI. Ia tidak sedang mengadakan riset tentang kaum tani dengan menggunakan metode 3 sama: sama bekerja, sama makan, dan sama tidur. Kiki adalah seorang karyawati sebuah bank swasta di kota. Ia mau berepot-repot bekerja, makan, dan tidur dengan ibu tua itu hanya demi perannya sebagai <em>talent</em> untuk keperluan sebuah program acara televisi swasta.</p>
<p>JAM (Jika Aku Menjadi) ditayangkan tiap minggu sore, sejak November 2007. Dianggap sebagai keberanian tersendiri acara ini ditayangkan pada <em>prime time</em>, bersaing dengan sinetron-sinetron yang populer. Menurut produsennya acara ini memang tidak semata untuk mengejar rating. Diharapkan acara ini dapat mempromosikan solidaritas dan kepekaan sosial. Acara ini juga secara tidak langsung merupakan jawaban atas kritik KPI yang menganggap banyak tayangan tv tidak mendidik, mengajarkan takhayul, mengumbar aurat, dan mengekspolitasi kekerasan. Katanya lagi, JAM tidak memberikan mimpi, tapi justru memperkenalkan penonton pada kehidupan orang kecil seperti apa adanya melalui mata rakyat juga, yakni melalui seorang <em>talent</em>.</p>
<p>Meski dikatakan menggambarkan apa adanya, keluarga miskin yang dipilih tentulah tidak sembarangan. Kata sang produsen lagi, JAM tidak akan pernah memprofilkan pengemis. Tokoh yang ditampilkan harus memberi inspirasi. Seorang pengemis dianggap sebagai pemalas dan hanya suka meminta-minta. Untuk mencari keluarga miskin yang layak tayang itulah ternyata menjadi kesulitan utama acara ini. Pernah produsen itu harus membutuhkan waktu 3 hari untuk mencari buruh nelayan Indramayu yang paling miskin. Nelayan miskin memang banyak, katanya. Namun, nelayan yang secara visual dan kondisi faktual menggambarkan nelayan yang sangat miskin tak mudah ditemukan. Kalau dalam kajian media kita pernah dengar ungkapan semakin berdarah semakin bagus, dalam acara ini kita bisa simpulkan: semakin miskin semakin bagus! Bila acara ini tidak mengeksploitasi kekerasan, bagaimana dengan eksploitasi kemiskinan?</p>
<p>Bukan kebetulan juga jika <em>talent</em> yang dipilih selalu seorang gadis muda dari kota. Biasanya seorang mahasiswi, model, atau karyawati. Kenapa seorang perempuan muda dan wajah yang tentu menarik, bukan laki-laki tak sulit ditebak. Ini bukan eksploitasi seks yang vulgar, tapi naif kalau mengatakan unsur itu tidak ada. Maka tak usah heran, meski hidup di lingkungan kumuh atau pedesaan bisa-bisanya mereka berpakaian seperti di kota, memakai kaos ketat dan celana pendek. Di antara centang-perenang barang-barang dan orang-orang yang kumal di sekitarnya, penampilan mereka sungguh kontras dan janggal, sejanggal perempuan seksi mengiklankan pompa air.</p>
<p>Acara ini tidak memakai <em>script</em>. Katanya agar dialog yang terjadi bisa sealami mungkin. Namun yang terjadi sebenarnya bukan dialog, namun lebih tanya-jawab belaka. Dan kita tahu siapa yang hanya bertanya, dan siapa yang hanya menjawab. Apa yang ditanyakan, apa jawabannya sudah bisa diperkirakan. Kalau dulu kamu sering nonton kelompencapir, “dialog” ala Soeharto dengan petani semacam itulah yang terjadi. Acara tangis-tangisan dalam acara ini juga katanya bukan akting. Anehnya waktu tangis-tangisan seperti sudah ditentukan dalam plot, biasanya dua kali, yakni di tengah-tengah acara, saat makan bersama dan saat penutupan, ketika hadiah diberikan. Dan menambah efek dramatis, selama tangisan <em>frame</em>-nya dibuat lambat dan tentu saja dengan latar instrumental yang menyayat. Saya sendiri kadang sempat terhanyut, meski kemudian terpenggal oleh iklan <em>Beng-beng</em> yang menawarkan wafer dengan lumuran coklat, lapisan keju, dan karamel.</p>
<p>Dengan format semi <em>reality</em>, acara ini juga hendak dikesankan sebagai bebas dari sesuatu yang dibuat-buat, apalagi takhayul. Namun, kalau kita cermati lebih jauh acara ini sebenarnya penuh dengan takhayul. Tahayulnya memang bukan dalam artian yang biasa dipahami, ada keluar cacing dari wajah atau kuburan terbakar, melainkan takhayul modern. Suatu ideologi kelas dominan. Takhayul yang fungsinya mereproduksi relasi-relasi produksi yang ada. Akibatnya, kebenaran dari takhayul itu hanya menimbulkan kesadaran naif. Apapun persoalan yang ada harus dilihat dan dipecahkan dalam tatanan yang ada. Itulah kenapa sorotan terhadap persoalan kemiskinan senantiasa dilakukan dengan menutup mata terhadap adanya jenjang-jenjang kelas dalam masyarakat. Orang menjadi pengemis dianggap hanya karena ia memang pemalas, bukan karena sistem yang ada telah memiskinkannya.</p>
<p>Maka acara ini lebih suka menampilkan orang miskin, yang meski kemelaratan kian melilitnya ia tetap gigih bekerja. Perjuangan orang-orang miskin untuk <em>mentas</em> dari kemiskinan dengan cara inilah yang pembuat acara harapkan menjadi inspirasi bagi penonton. Orang-orang miskin itu tak mengeluh, tak memprotes, mereka tak banyak bicara tapi banyak bekerja, bekerja dan bekerja terus, dari pagi sampai sore. Menurut si pembuat acara, mereka harus diteladani. Namun, apakah jika mengikuti mereka bekerja keras tanpa banyak tanya kita bisa naik kelas atau tetap melarat seperti mereka yang sudah turun-temurun berada dalam kubangan kemelaratan itu, tentu saja ia tak akan ambil pusing. Yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana sistem yang ada di otak-otak, bagaimana sistem yang telah menguntungkannya itu tidak dipertanyakan lagi, apalagi jika sistem yang telah menempatkannya di posisi yang nyaman itu dibongkar.</p>
<p>Kerap dikatakan bahwa selama rejim Soeharto, isi acara televisi mengalami pembelengguan dan hanya menjadi corong rejim penguasa. Acara-acara televisi waktu itu dikecam hanya menjadi alat propaganda rejim penguasa. Kita tentu tak asing dengan berita-berita TVRI , dagelan kelompencapir, si unyil, dan acara-acara lainnya yang membentuk kesadaran massa sesuai dengan ideologi penguasa, yang imbasnya bahkan masih membekas sampai sekarang. Dikatakannya pula, kini kita bisa bernafas lega, pembelengguan itu tidak ada dan televisi-televisi bebas menayangkan program-programnya. Selamat tinggal indoktrinasi!</p>
<p>Namun, apabila sedikit saja kita menggali lebih dalam acara-acara televisi sekarang, unsur-unsur indoktrinasi semacam itu sebenarnya tak hilang. Berbeda dengan sebelumnya, indoktrinasi sekarang lebih untuk mempertahankan kekuasaan kelas yang dominan. Bentuknya pun tidak segamblang dan sevulgar dulu, namun karena itulah justru letak bahayanya. Tanpa sadar kita telah mengalami cuci otak. Diam-diam suatu konsep, suatu keyakinan, kita anut, membentuk kesadaran naif, sehingga kita menjadi terperdaya oleh realitas yang ada. Apa yang ada sekarang dianggap sebagai sesuatu yang alamiah. Mengubahnya, berarti sama saja dengan menentang Hukum Alam. Ini tidak hanya akan membuat kita menyerah, melainkan menjadi terseret ikut larut dalam “Hukum Alam” itu dan lebih buruk lagi turut melanggengkannya. </p>
<p> Salam dari Kutu Dukuh.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/readresist.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/readresist.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/readresist.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/readresist.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/readresist.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/readresist.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/readresist.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/readresist.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/readresist.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/readresist.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/readresist.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/readresist.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=27&subd=readresist&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://readresist.wordpress.com/2008/06/12/kotaknya-editor-mei-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/beb9901615b57742bb5ff59393b37e98?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">readresist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agama dan Revolusi Sosial</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com/2008/06/02/agama-dan-revolusi-sosial/</link>
		<comments>http://readresist.wordpress.com/2008/06/02/agama-dan-revolusi-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 05:42:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>readresist</dc:creator>
				<category><![CDATA[gerakan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[resistinfo]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://readresist.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[oleh Eko Prasetyo
dimuat dalam Resistinfo #24/2008
Di kala itu juga, aku berpendapat:
Bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya
Dan mereka tak merasai ini
(Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam)
Saya tak kenal dekat dengannya. Tapi tulisannya yang penuh dengan anjuran bertoleransi bertebaran di mana-mana. Ia ingin melihat agama sebagai penentram kehidupan sosial ketimbang kekuatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=25&subd=readresist&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh <strong>Eko Prasetyo</strong><br />
dimuat dalam <strong>Resistinfo #24/2008</strong></p>
<p><em>Di kala itu juga, aku berpendapat:<br />
Bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya<br />
Dan mereka tak merasai ini</em><br />
(Pramoedya Ananta Toer, <em>Bukan Pasar Malam</em>)</p>
<p>Saya tak kenal dekat dengannya. Tapi tulisannya yang penuh dengan anjuran bertoleransi bertebaran di mana-mana. Ia ingin melihat agama sebagai penentram kehidupan sosial ketimbang kekuatan penggubah. Dalam daya jangkau pemikirannya, agama memang tidak untuk memuaskan naluri emosional melainkan bagaimana agama mampu menjadi perajut dari perbedaan. Gagasannya memang kerapkali kontroversial tapi itu yang membuat namanya makin populer. Anugerah beasiswa diberikan padanya dan tulisannya selalu mendapat tempat di media nasional. Ia punya kawanan yang berada di bawah bendera liberal. Ia adalah perintis dan martir bagi pasukan yang membawa panji kebebasan,toleransi dan kesamaan pandang. Popularitasnya didaki oleh kecaman, ancaman dan beberapa karya tulis yang dimuat di koran-koran. Ia beda dengan Nurcholish Madjid; lebih berani mengartikulasikan gagasan dan mempunyai jaring media yang banyak.<br />
<span id="more-25"></span><br />
Ia tak sendirian. Sebuah kelompok kesenian yang memanggungkan kesusilaan seperti melanjutkan gagasannya. Mereka tak setuju dengan aturan soal pornografi. Buatnya pornografi hanya ketentuan yang tak usah dimasukkan dalam perundang-undangan. Ntar penerapannya jadi kacau, membingungkan dan jelas-jelas buat geli. Sebuah pentas teater yang sangat konyol dipanggungkan. Kisah yang menertawakan orang yang peduli soal-soal sederhana: tentang ukuran dan bentuk tubuh. Seakan-akan kisah itu memberi warta betapa naifnya mereka yang berjuang untuk urusan susila. Terbelakang, pandir dan tak tahu akibat. Ringkasnya kita kini hidup dalam kebebasan. Aturan mengenai itu tak perlu dan agama hanya urusan pribadi. Mereka cemas tentang aspirasi agama yang ingin mengurus semua. Kecemasannya melebihi soal-soal kemiskinan, akses pada pendidikan dan keadilan pada lapangan pekerjaan. Mungkin karena mereka tinggal dalam kemapanan ekonomi yang tak pernah kesulitan dengan urusan makan. Hidup mereka mirip dengan kisah panggungnya: lucu, gembira dan nyinyir.</p>
<p>Itu sebabnya ungkapannya begitu dingin, penuh ironi dan padat argumen. Seorang esais terkemuka bahkan dengan cerdik melukiskan dilema keimanan yang penuh dengan keloyalan. Ia menampikan banyak kisah bagaimana agama yang dipahami dengan ketaatan buta akan mengantarkan pada kebengisan. Sangat tidak masuk akal kalau urusan agama hanya soal larangan dan perintah. Buatnya Tuhan memang tak bisa dibatasi, didaya jangkau dengan kedisplinan yang kaku. Agama memang tidak menuntut kepatuhan seperti seorang serdadu. Esais yang terkemuka ini menampilkan banyak cerita yang mengagumkan. Ia seakan-akan mau memperlihatkan pesona agama yang lain. Bukan agama kegaduhan, menghakimi apalagi yang datang dengan sepucuk senjata. Kecemasannya sama dengan kelas sosial mapan yang lain: agama bukan nubuat untuk sebuah revolusi sosial. Agama sekedar sebuah pesan indah yang membuat penganutnya selalu bersahaja, mapan dan pintar. Itulah pandangan yang kini menebar di berbagai komunitas dan selalu asyik untuk didiskusikan ketimbang dijalani.</p>
<p>Seakan mereka lupa di mana sesungguhnya kita tinggal. Di tempat yang begitu bereskah semua urusan sosial? Di tempat yang semua orang mendapat haknya? Atau mereka menduga jangan-jangan kita berada di sebuah negeri dongeng di mana ada pangeran yang tampan ditemani oleh segerombolan orang bijak. Gagasan mereka indah jika dibaca, memikat kalau ditonton dan seakan mau sekali kita menerapkannya. Keyakinan mereka tumbuh di dataran yang kering dan miskin. Di mana banyak penduduknya kini tertatih-tatih untuk makan sehari-hari. Di mana ada banyak warga yang pekerjaannya terancam dan siap menjadi barisan penganggur.Di mana ada sederet politisi yang rajin dan siap untuk membuat tipuan. Dan mereka berada di bawah negeri yang para pejabatnya kaya-raya dan melimpah ruah. Sebuah tempat yang terlampau besar jika diterapkan pemikiran yang indah, tajam dan fantastis itu. Bertoleransi, bersopan-santun, bekerja-sama adalah pilihan nilai yang gampang ditulis ketimbang dikerjakan.</p>
<p>Adakah mereka lupa kalau kemapanan yang mereka dapat sesungguhnya bukan hasil sebuah sihir! Mereka adalah golongan terpelajar yang begitu cakap beradaptasi. Kemahiran, ketrampilan dan jaringan yang mereka punyai membawa kemujuran. Mereka berlaku seperti seorang cendekiawan yang rapi, bersih dan bersemangat. Beberapa di antara mereka bekerja untuk seorang cukong yang punya uang bertumpuk di mana-mana. Ada yang lembaganya menjadi nara sumber pengetahuan untuk seorang konglomerat yang masih bermasalah. Juga beberapa menjadi pelayan dari lembaga donor raksasa yang terus menerus mengucurkan uang dalam mata uang yang beragam. Artinya tangan mereka bukan sebersih gagasanya; maknanya hidup mereka juga tidak setertib argumenya; karena mereka juga diam-diam menjadi penganut buta dari gagasan ekonomi pasar dan disiplin liberal. Benarlah memang tak ada manusia suci termasuk juga tidak ada maksud yang suci dari sebuah pentas argumentasi tentang agama. Karena itu mungkin waktunya kita meletakkan soal agama dalam sebuah tempat yang lebih realistis, yang sebenarnya dan memihak kepada mereka yang lemah.</p>
<p>Bukankah tak selamanya tugas agama hanya untuk bertoleransi, menahan kekerasan dan menyiramkan cinta. Agama kalau perlu juga turut bersimbah perlawanan, berkucur keringat dan bahkan menampilkan para martir. Ketika apa situasi itu dibutuhkan? Ya ketika agama tinggal satu-satunya kekuatan yang masih menyimpan setumpuk ajaran mulia. Ketika semua orang percaya kalau anjuran itu sesungguhnya panduan kehidupan etis yang sebenarnya. Saat semua ketentuan hukum, aturan negara dan disiplin ekonomi pasar menganiaya mereka yang miskin dan lemah. Kala itulah pancaran nilai agama kemudian jadi sebuah lontaran batu yang keras, jitu dan menusuk mereka yang selama ini telah merampoknya. Sungguh tak ada satupun utusan Tuhan yang hanya membawa agama ini dalam silat diskusi, perang argumen apalagi sebuah pentas kebudayaan. Ibrahim, kakek moyang semua nabi bahkan sejak usia muda sudah meruntuhkan berhala. Pemuda itu kelak akan mengalami hukuman yang keji: dibakar hidup-hidup.</p>
<p>Ini bukan sekedar cerita yang mirip dengan kisah 1001 malam. Sebuah kisah dalam kitab muncul karena maksud yang diembannya. Tali kisah Musa melukiskan bagaimana agama harus memerangi segala bentuk kesewenang-wenangan. Dan ajaran zakat dalam Islam adalah cara untuk keluar dari kutukan kekayaan berlimpah. Begitu pula dihukumnya Isa adalah cermin bagaimana kekuasaan bisa terjerembab dalam dusta. Agama kemudian tampil dan hadir untuk memberi interupsi atas beroperasinya kekejian itu. Dan kadangkala agama mengalami kejayaan dan beberapa harus kalah. Tapi bukan itu inti cerita yang mau diberikan. Yang mau dikatakan adalah agama tak layak diam ketika manusia, sebagai sosok suci, harus direndahkan martabat dan akal sehatnya. Oleh siapapun; termasuk kekuasaan dan mungkin kalau sekarang adalah kekuatan pasar.Watak semua utusan Tuhan adalah menolak kemapanan jika itu berarti kebuntuan untuk melakukan pembaharuan. Musa rela dikucilkan; Yusuf dengan tangguh dipenjara; Muhammad SAW bahkan dilempari batu. Kepedihan adalah resiko dari sebuah perjuangan agama.</p>
<p>Retorika ini mungkin terlampau kuno diperdengarkan. Tapi khutbah ini menjadi kepastian bahwa agama tak layak diam melihat kenyataan pedih. Benar memang di antara penganutnya ada yang terlampau bersemangat; menghukum kafir, melindas habis semua yang dikategorikan maksiat dan berambisi membuat hukum Tuhan berlaku kini dan saat ini. Mereka adalah penganut yang rindu untuk menjadi martir. Kerinduan itu juga dilandasi oleh ketidak-pastian keadaan sosial. Beberapa di antara mereka kalah dalam pertarungan di medan ekonomi, pendidikan dan tentu kebudayaan. Walau ada beberapa berasal dari pendidikan tinggi tapi keyakinan mereka pada perubahan hanya sebatas keinginan untuk membakukan ketentuan. Mereka sudah lama tidak dididik untuk melihat agama dalam pertarungan yang lebih ‘berat’. Sebagian bahkan lupa bahwa agama ditegakkan melalui medan kemajuan pengetahuan dan kreatifitas. Peperangan yang ada di belahan bumi Palestina memang jadi pengingat, tapi tidak mampu menjadi bara yang bisa membakar perlawanan pada segala bentuk imperialisme. Itu mungkin yang membuat sebagian penganut jadi tampak pandir.</p>
<p>Maka sikap untuk saling mengejek, melempar ironi dan mewartakan semangat pruralis agaknya perlu ditahan. Sama halnya anda meminta sikap merasa benar, hobi mengkafirkan dan merusak kafe dihentikan. Waktunya kita berusaha untuk melihat kenyataan pedih bukan melalui analisa dan pengamatan saja. Kenyataan itu harus diubah. Agama mampu dan bisa mengerjakanya. Semua sejarah utusan Tuhan tidak pernah membuat agama jadi urusan pribadi. Agama punya daya dobrak dan bongkar atas semua kekuatan sosial yang menindas. Kemenangan ajaran bukan dari banyaknya orang yang memeluk saja tapi tatanan sosial yang lebih baik dan melindungi pada mereka yang lemah. Siapa yang kemudian layak dianggap sebagai penerus warta suci ini? Apakah gerombolan para pengebom ataukah mereka yang terus diancam akan dihukum mati gara-gara gagasan pruralisme. Atau jangan-jangan seorang Munir yang dengan nyalinya membongkar kekejian militer, sesosok Wiji Thukul yang membuat sajak seperti sebuah berita ancaman, atau teman-teman mahasiswa yang kini lenyap karena mandat radikal perubahannya.</p>
<p>Kita mungkin tak bisa menentukan tapi dapat meraba dampak dari perbuatan mereka. Adalah tangan-tangan mahasiswa yang membuat aspirasi pluralisme kini mudah disemaikan dan tuntutan kedaulatan negeri Tuhan bisa dinyatakan. Tanpa pengorbanan mereka tak mungkin kebebasan ekspresi ini bisa dipegang sampai sekarang. Karena jasa Munir maka militerisme jadi sebuah institusi yang tak kebal hukuman, penuh dengan kebohongan dan begitu menindas. Melalui pikirannya kita jadi tahu siapa yang layak bertanggung jawab atas kasus Tanjung Priok, Lampung hingga Terorisme. Mungkin dari Wiji Thukul kita tahu bagaimana kemiskinan tidak sekedar data dan kekayaan melimpah bukan sebuah rejeki semata. Di sana ada kecurangan dan dusta yang semua orang harus mengetahuinya. Efek dan konsekuensi sikap mereka begitu luas dan membesar. Dari para martir itulah kini kita bisa menikmati kehidupan yang penuh dengan kebebasan dan sebagian cendekiawan yang selamat memperoleh status dan kemapanan sosial yang menyenangkan. Juga kelompok agama dapat bebas mengartikulasikan tuntutan sesuci apapun. Ada golongan yang membuat kita bisa menikmati itu semua. Keadaan bukan otomatis terjadi tapi ada basuhan darah dan pengorbanan. Adalah mandat kita meneruskan apa yang sudah mereka rintis.</p>
<p>Mereka memang tak membawa panji agama, tapi kandungan perjuangan mereka sangat serupa dengan apa yang sudah dilakukan oleh utusan Tuhan sebelumnya. Berkaca pada mereka itulah sebenarnya tradisi penghayatan keagamaan itu dihidupkan. Sebuah tradisi yang melihat agama bukan label, identitas dan bendera tapi api yang membakar penganutnya untuk menolak diam. Waktunya untuk membasuh kembali keyakinan dengan pertempuran dan pergolakan. Bertempur melawan kemapanan sistem sosial yang menguntungkan kelas sosial tertentu dan bergolak untuk meyakinkan pada massa tertindas bahwa kepedihan bukan takdir. Ujung sebuah kisah memang tak segemilang seperti dalam kitab suci, tapi setidaknya agama meyakinkan kita semua, kalau kehidupan tak berhenti dan tamat sampai di sini. Ada kehidupan lain yang membuat kita merasa penting untuk mencampakkan semua kemapanan yang kita terima, semua kenikmatan yang kita pegang untuk meraih sesuatu yang lebih bermakna. Agama benar dalam soal: kita sesungguhnya bukan sekedar batangan raga tapi jiwa-jiwa suci yang mampu menghidupkan kesucian dalam sebuah kenyataan sosial. Apakah kita masih ragu dan sangsi dengan kredo itu semua? Jika ya&#8230; maka bergabunglah bersama mereka komplotan para penguasa yang sewenang-wenang dan nista!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/readresist.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/readresist.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/readresist.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/readresist.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/readresist.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/readresist.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/readresist.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/readresist.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/readresist.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/readresist.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/readresist.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/readresist.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=25&subd=readresist&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://readresist.wordpress.com/2008/06/02/agama-dan-revolusi-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/beb9901615b57742bb5ff59393b37e98?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">readresist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Invasi ke Dunia Remaja</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com/2008/05/28/invasi_ke_dunia_remaja/</link>
		<comments>http://readresist.wordpress.com/2008/05/28/invasi_ke_dunia_remaja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 04:10:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>readresist</dc:creator>
				<category><![CDATA[bedah buku]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[citra-diri]]></category>
		<category><![CDATA[kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[pelekatan-merek]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://readresist.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[oleh Dyna Herlina S.
disampaikan dalam Bedah Buku &#8220;Belanja Sampai Mati; Ancaman Komersialisasi Remaja Masa Kini&#8221;
Togamas Yogyakarta, 27 Mei 2008
Merek pertama kali ‘menginvasi’ hidup saya saat saya berumur 13 tahun. Sebuah perusahaan pembalut wanita “Laurier” tiba-tiba membagikan produknya di sekolah. Mereknya berbeda dengan yang biasa dianjurkan ibu saya saat itu. Bulan selanjutnya saya bersitegang dengan ibu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=23&subd=readresist&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh <strong>Dyna Herlina S.</strong><br />
disampaikan dalam <strong>Bedah Buku &#8220;Belanja Sampai Mati; Ancaman Komersialisasi Remaja Masa Kini&#8221;</strong><br />
Togamas Yogyakarta, 27 Mei 2008</p>
<p>Merek pertama kali ‘menginvasi’ hidup saya saat saya berumur 13 tahun. Sebuah perusahaan pembalut wanita “Laurier” tiba-tiba membagikan produknya di sekolah. Mereknya berbeda dengan yang biasa dianjurkan ibu saya saat itu. Bulan selanjutnya saya bersitegang dengan ibu saya karena memilih pembalut yang baru itu. Hampir seluruh murid perempuan di kelas saya membicarakannya karena harganya lebih mahal, kemasannya lebih menarik, bergambar remaja, dibungkus satuan dan pokoknya ‘kelihatan’ lebih keren dan modern.<br />
<span id="more-23"></span><br />
Bulan-bulan selanjutnya produk pemutih “Ponds”, kaos “Osella dan Hammer”, sepatu “DocMart” dan jam tangan “Baby G” menjadi <em>trendsetter</em>. Saya berhasil membujuk ayah saya membelikan &#8220;Ponds&#8221;, &#8220;Osella dan Hammer&#8221;, tapi saya hanya mendapatkan &#8220;DocMart&#8221; versi &#8220;Bata&#8221; dan gagal mendapatkan jam tangan.</p>
<p>Kemudian, saya ingat kehidupan remaja saya menjadi tegang karena semua orang seolah-olah mengejar merek. Setiap akhir pekan saya memikirkan cara agar diajak ke mall agar bisa berbelanja atau minimal pamer. Kami membicarakan dan mengintip merek pada saat istirahat, pulang sekolah, dan waktu bermain. Kami bahkan memperdebatkan merek majalah, bimbingan belajar, permainan komputer, sepeda motor dan mobil! Lalu terbentuk kelompok-kelompok yang ditentukan berdasarkan kepemilikan benda-benda. Ketua kelompok tentu saja yang berdompet paling tebal. Untuk pertama kalinya tidak seluruh teman yang saya kenal mau bermain bersama lagi dengan alasan kurang kaya. Beberapa diantara kami, termasuk saya, tertinggal dan tertekan. Lalu saya memutuskan pindah ke desa!</p>
<p><strong>Kompetisi Belanja</strong><br />
Di Amerika, Generasi X (lahir antara 1964-1979), adalah segmen remaja pertama yang ditembak oleh perusahaan. Kestabilan ekonomi, pembagian tugas domestik dan publik yang jelas di kalangan orang tua membuat remaja tidak terlalu terlibat dalam tugas-tugas rumah tangga. Mereka memiliki waktu luang dan uang yang cukup untuk berbelanja. Majalah &#8220;Seventeen&#8221; dan &#8220;Madison Avenue&#8221; adalah agen pemasaran produk remaja yang pertama kala itu (Quart, 2003:xxiv). Pada 1978 Federal Trade Commision memperbolehkan iklan yang ditujukan untuk remaja dan anak-anak. Segmen ini menjadi lahan yang subur bagi perusahaan. Generasi Y yang muncul kemudian membawa keuntungan yang luar biasa bagi produsen produk remaja.</p>
<p>Meskipun saya belum menemukan penelitian yang komprehensif mengenai remaja di Indonesia, namun berdasarkan pengalaman saya menjadi fasilitator kegiatan remaja banyak temuan yang mengejutkan! Dalam sebuah acara perkenalan, dari 12 remaja yang hadir 6 di antaranya menyebutkan belanja adalah hobi mereka. Setiap kali para remaja itu menyebut bahwa belanja merupakan hobi, maka remaja yang lain selalu mencemooh sekaligus memuji sebagai ‘remaja kaya.’ Hanya 3 orang menyerahkan kegiatan belanja pakaian mereka pada ibunya. Sebelas orang mengaku minimal sekali dalam sebulan diajak pergi ke mall oleh orang tuanya bahkan 2 remaja paling miskin.</p>
<p>Bersama kelompok tersebut, saya berkesempatan mengikuti <em>workshop</em> di Amerika selama sebulan. Pada tahap persiapan, hampir semua orang tua meributkan jumlah uang saku yang harus diberikan pada anaknya. Beberapa minggu sebelum keberangkatan semua anak sibuk berbelanja sepatu baru, baju, koper, kaca mata hitam, dan souvenir! Selama di Amerika, mall adalah tempat yang paling diinginkan para remaja itu. Jumlah belanja mereka mencapai 5 kali lipat daripada jumlah belanja para fasilitator dewasa. Produk bermerek adalah incaran utama.</p>
<p>Keahlian berbelanja ternyata patut dipamerkan. Seorang gadis remaja dalam kelompok itu setiap akhir pekan dengan bangga memamerkan barang belanjaannya yang murah dan bermerek. Seorang gadis lain tak mau kalah. Kelompok remaja itu berdebat siapa yang paling pandai berbelanja! Jumlah belanja remaja lelaki sungguh fantastis, mereka membeli banyak barang untuk dirinya dan gadis yang disukai. Beberapa barang untuk orang tua, saudara dan teman. Di hari kepulangan, 6 orang membeli tas tambahan karena jumlah belanja mereka! Hampir seluruh orang tua mendorong mereka menghabiskan seluruh uang yang dibawa dengan alasan pengalaman?!? Hanya 3 orang gadis yang nampak tak antusias berbelanja dan membawa sebagian besar uang sakunya kembali. Saya tak tahu apakah mereka setegang saya saat ABG. Sebuah kompetisi yang gila.</p>
<p>Dalam sebuah kesempatan yang lain, saya menyelenggarakan FGD dengan melibatkan 5 gadis remaja temanya tentang “Kecantikan”. Mereka jelas bukan gadis remaja dari keluarga kaya raya tetapi seluruhnya melakukan perawatan tubuh dan wajah di salon beberapa kali dalam sebulan. Semuanya menggunakan krim pemutih wajah, meluruskan rambut, mengikuti fashion terbaru dan bercita-cita menjadi perempuan kaya. Seorang gadis mengaku bahwa pacarnya menginginkan dan membayar seluruh kebutuhan perawatan itu. Dua orang gadis mengaku bekerja mati-matian untuk membiayai perawatan itu. Saya sungguh takjub! Selebritis adalah acuan utama seluruh upaya mereka. Meski sadar tak mungkin secantik Luna Maya atau Dian Sastrowardoyo, semua orang mengaku kecantikan adalah asset utama dalam dirinya.</p>
<p>Persis seperti pengalaman saya di bagian awal tulisan ini, saat ini sekolah semakin memberi keleluasaan bagi perusahaan. Sekolah yang seharusnya melakukan pendidikan konsumen justru ‘mengundang’ merek-merek. Di banyak sekolah SMP dan SMU di Yogya, ring basket mereka bertuliskan   merek tertentu seperti “Beng-Beng” dan “Simpati”. Spanduk produk bergelantungan di sekolah seperti “Olga!-teenage magazine” dan “Selamat menjalankan UNAS tapi <em>chatting</em> jalan terus” oleh &#8220;Telkomsel&#8221;, “Selamat datang Siswa Baru” oleh Penerbit &#8220;Erlangga&#8221;. Beberapa perusahaan bahkan dengan leluasa menyelenggarakan FGD tentang produk mereka seperti &#8220;IM3&#8243; di SMU 8. Melalui FGD itu perusahaan menanyai para siswa tentang bagaimana mereka menggunakan handphone, konsumsi pulsa, cara sms dan telepon. Lebih vulgar dari itu, beberapa sekolah justru menfasilitasi produk yang membuat acara panggung musik, pemilihan raja dan ratu sekolah, promosi penjualan dengan besar-besaran.</p>
<p>Saya tidak tahu benar apakah sekolah mendapatkan keuntungan finansial dari acara semacam itu. Tapi yang jelas perusahaan mendapatkan keuntungan luar biasa mendekati konsumennya yang jelas terkonsentrasi di satu tempat. Merujuk pada tulisan Allisa Quart, merek adalah tujuan bagi sekelompok orang, mereka rela tubuhnya dilekati merek untuk mengejar kepuasan yang semu. Sekolah juga telah menjual ruang dan identitas mereka habis-habisan pada perusahaan.</p>
<p>Beberapa fakta:<br />
1. Generasi Y (lahir antara 1975-1995) berjumlah lebih dari 1 milyar di dunia dan mereka mengkonsumsi bagian terbesar dari pendapatan keluarga (Klein, 2000:118 )<br />
2. Remaja mempengaruhi keputusan pembelian orang tua, pembelanja masa kini (lebih dari US$ 100 milyar setahun) dan masa depan, trendsetter. (Zollo, 1995 via Martin dan Bush, 2000:441)<br />
3. Kelompok ABG dan remaja adalah segmen terkaya karena jumlah belanjanya terus meningkat 2 kali lipat setiap 10 tahun sejak 3 dekade terakhir (Lindstrom, 2003 via Grant dan Stephen, 2005:541)<br />
4. 2/3 pengeluaran remaja dihabiskan untuk belanja produk fashion (Ebenkamp, 1999 via Bakewell dan Vincent, 2003:95)</p>
<p><strong>Belanja artinya Menghancurkan</strong><br />
Pada titik yang lebih rendah, seluruh hal yang diceritakan Allisa Quart dalam bukunya <em>Belanja Sampai Mati; Ancaman Komersialisasi Remaja Masa Kini</em>, terjadi di Yogya. Selain sekolah, mall adalah tempat konsentrasi remaja. 90,1% pengunjung mall di Yogya adalah remaja (&lt;20 tahun) dan kelompok dewasa muda (21-30 tahun) (Suwarto, 2007). Orang tua secara rutin mengajak anak remaja mereka pergi ke mall untuk belanja dan rekreasi. Meski belum ada angka yang akurat, sebagian besar penonton film Indonesia adalah remaja. Berdasarkan perhitungan Sinemart, mereka pergi nonton bioskop 2 kali sebulan. Internet dan video game merupakan kesukaan remaja, berdasarkan pengalaman saya, hampir seluruh remaja kelas menengah atas yang saya jumpai menghabiskan waktu luang mereka di depan internet dan video game. Salon perawatan tubuh dan wajah di Yogya disesaki remaja lelaki dan perempuan. Sekolah ‘menjual’ siswanya sebagai konsumen potensial untuk perusahaan. Bahkan sekolah pun menganggap para siswanya sebagai konsumen, karena liberalisasi pendidikan yang sedang berlaku sekarang.</p>
<p>Remaja adalah kelompok penting dalam perubahan sosial. Jika merek telah menginvasi dunia mereka, remaja jadi tidak lebih dari sekelompok konsumen yang terus menerus mengkonsumsi tanpa berpikir untuk memproduksi sesuatu. Kecenderungan semacam itu membuat mereka mengalami ketegangan psikologis, berorientasi individu dan kurang inovatif. Sikap konsumtif menghancurkan peran remaja yang lebih penting yaitu agen perubahan. Ikatan kelompok merengang karena semua orang berpikir pragmatis dan ingin kaya bukannya mencapai kesejahteraan bersama. Apa jadinya jika kemampuan belanja jadi lebih penting daripada kemampuan memproduksi? Impor adalah satu-satunya cara, ini bukan langkah yang baik untuk makro ekonomi.</p>
<p>Mengkonsumsi pada dasarnya memproduksi sampah. Coba pikirkan, berapa banyak sampah yang dibawa oleh sekelompok remaja dari Amerika itu? Sampah kosmetik sisa krim pencerah kulit, pelurus rambut dan pelangsing? Mau diapakan sampah elektronik dari komputer, game, handpone, MP3 player, televisi, DVD? Semakin banyak benda yang dikonsumsi maka semakin banyak sampah yang dihasilkan. Mau dibuang kemana?</p>
<p><strong>Dyna Herlina S., </strong>penerjemah buku <em>Belanja Sampai Mati; Ancaman Komersialisasi Remaja Masa Kini</em>, Koordinator Program Pendidikan Penonton Rumah Sinema, Dosen Jurusan Manajemen UNY.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/readresist.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/readresist.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/readresist.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/readresist.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/readresist.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/readresist.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/readresist.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/readresist.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/readresist.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/readresist.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/readresist.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/readresist.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=23&subd=readresist&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://readresist.wordpress.com/2008/05/28/invasi_ke_dunia_remaja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/beb9901615b57742bb5ff59393b37e98?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">readresist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Sebagai Tindakan Politik</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com/2008/05/17/pendidikan-sebagai-tindakan-politik/</link>
		<comments>http://readresist.wordpress.com/2008/05/17/pendidikan-sebagai-tindakan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 May 2008 05:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>readresist</dc:creator>
				<category><![CDATA[kutipan buku]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan kritis]]></category>
		<category><![CDATA[Antonio Gramsci]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Che Guevara]]></category>
		<category><![CDATA[Habermas]]></category>
		<category><![CDATA[Neil Postman]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Freire]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan emansipatoris]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://readresist.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[oleh Dr. Agus Nuryatno
dikutip (halaman 50-55) dari:
Judul Buku: Mazhab Pendidikan Kritis; Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Antonio Gramsci memandang politik sebagai sebuah proses edukatif. Dengan kata lain, dia memberi muatan edukatif dalam aktifitas politiknya (Diana Coben, 1998). Politik tidak hanya dipersepsi sebagai seni memperebutkan kekuasaan, tapi di dalamnya ada muatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=22&subd=readresist&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh <b>Dr. Agus Nuryatno</b><br />
dikutip (halaman 50-55) dari:<br />
Judul Buku: <b>Mazhab Pendidikan Kritis; Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan</b><br />
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta<br />
Cetakan: I, 2008</p>
<p>Antonio Gramsci memandang politik sebagai sebuah proses edukatif. Dengan kata lain, dia memberi muatan edukatif dalam aktifitas politiknya (Diana Coben, 1998). Politik tidak hanya dipersepsi sebagai seni memperebutkan kekuasaan, tapi di dalamnya ada muatan dan nilai edukatif. Hal yang sama, Ernesto “Che” Guevara memberi muatan edukatif dalam revolusinya (Peter McLaren, 2000). Suatu saat dia pernah bilang, “<i>If you want an education, join the revolution</i>” (dikutip di Jim Walker, 1981: 120).</p>
<p><span id="more-22"></span></p>
<p>Freire berangkat dari titik tolak yang berbeda dari kedua figur di atas, tapi punya spirit yang sama. Dia memberi muatan politik dalam konsep pendidikannya. Bagi Freire, para pendidik harus sadar akan sifat alamiah politik dalam praktek pendidikan yang dijalankannya. “Tidaklah cukup untuk mengatakan bahwa pendidikan merupakan tindakan politik, sebagaimana tidak cukup untuk mengatakan bahwa tindakan politik juga bermuatan edukatif. Kita perlu sekali menyadari sifat alamiah politik dalam pendidikan” (Freire, 1998, hal. 46). </p>
<p>Mengapa Freire memberi muatan politik dalam teori dan praktek pendidikannya? Ini dikarenakan filsafat dasar Freire adalah filsafat praksis. Dalam hal ini, sepertinya Freire menambah makna baru terhadap sebelas tesis Marx yang terkenal tentang Feuerbach, “Kaum filosof hanya bisa menafsirkan dunia dengan cara-cara yang berbeda; padahal yang penting adalah mengubahnya” (Cornell West, 1993: XIII).</p>
<p><i>Pedagogy of the Oppressed</i> karya Freire penuh dengan nuansa politik, sebagaimana yang termanifestasikan dalam kata-kata penindasan, dehumanisasi, obyek, budaya bisu, liberasi, emansipasi, konsientisasi, humanisasi, dan seterusnya. Terma-terma ini jelas sekali mengindikasikan keyakinan Freire akan kekuatan dan potensi pendidikan untuk melakukan perubahan sosial lewat agen manusia. Konstruksi pendidikan yang ideal adalah yang didasarkan pada konsep etis dan utopis yang bisa memperluas ruang-ruang publik yang demokratis dan melahirkan sebuah struktur sosial yang adil di mana harkat kemanusiaan terlindungi dan kondisi kehidupan manusia meningkat.</p>
<p>Freire menawarkan pendidikan sebagai “bahasa kritik” (Henry Giroux, 1993) dengan menghubungkan pendidikan dengan kekuasaan dan politik, karena ketiganya saling terkait satu sama lainnya. Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial yang lebih luas di mana ia berada. Bahkan, disadari atau tidak, sebenarnya pendidikan merupakan ajang pertarungan antar pelbagai ideologi yang membentuk realitas sosial. Setiap dimensi sekolah dan setiap bentuk praktek pendidikan secara politis adalah ruang yang diperebutkan. Jika demikian halnya, pendidikan tidak bisa dipisahkan dari pertarungan antar kepentingan. Dalam pandangan Freire, pendidikan harus mengambil peranan dalam memproduksi dan menciptakan kehidupan publik, bukan sekedar beradaptasi dengan realitas sosial. Meminjam bahasa Neil Postman (1995), pertanyaan yang tepat bukanlah “Apakah pendidikan mampu menciptakan kehidupan publik?”, tapi “Kehidupan publik seperti apa yang ingin diciptakan?” (Neil Postman, 1995: 18). Di samping “<i>language of critique</i>,” Freire juga menawarkan “<i>language of hope</i>.” Harapan di sini tidaklah statis atau hanya emosional, tapi sebuah motor penggerak dan sebuah “kebutuhan ontologis” (Freire, 1994: 8), yang sangat penting dalam pendidikan pembebasan.</p>
<p>Gagasan Freire untuk menggeser lokus belajar dari guru/dosen ke murid tidak diragukan lagi telah mengubah relasi kekuasaan, tidak hanya di kelas tapi juga dalam wilayah sosial. Pernyataannya bahwa “<i>education is politics</i>” (Freire, 1987: 46) mengandung banyak arti. Pernyataan ini berarti bahwa semua aktifitas pendidikan itu pada dasarnya bersifat politis dan punya konsekuensi dan kualitas politis. Cara guru mengajar, pilihan pengetahuan yang hendak diajarkan, dan model relasi yang akan dibangun, semuanya bersifat politis, karena mereka mempunyai kontribusi terhadap pembebasan atau domestikasi peserta didik. Dalam hal ini guru/dosen harus konsisten dengan pilihan politiknya. Adalah absurd jika ada guru yang memproklamirkan dan mengajarkan demokrasi dan keadilan tapi pada saat yang sama mengebiri suara peserta didik di kelas. Cukup sulit untuk diterima akal sehat jika ada guru/dosen mengumandangkan nilai-nilai demokrasi, persamaan dan egalitarianisme, tapi pada saat yang sama mengembangkan sebuah hubungan yang otoriter di kelas. Konsistensi antara ucapan dan tindakan harus dijaga supaya guru/dosen bisa terhindar dari kepribadian terbelah (<i>split personality</i>).</p>
<p>Pendidikan sebagai politik juga berarti bahwa proses pembelajaran di kelas tidaklah semata-mata akuisisi dan transmisi pengetahuan, tapi merupakan proses pengembangan subyek yang kritis di mana pengetahuan dan kekuasaan yang ada dipertanyakan secara terus menerus. Proses pembelajaran tidaklah dimaknai sebagai proses memiliki dan mengakumulasi pengetahuan, tapi lebih sebagai proses untuk memahami, mengkritik, memproduksi dan menggunakan pengetahuan sebagai sebuah alat untuk mengubah realitas (Paula Allman, 1999). Hanya dalam perspektif inilah proses pembelajaran akan menghasilkan implikasi politis.</p>
<p>Pilihan isi pembelajaran juga punya implikasi terhadap pengembangan <i>critical subjectivities</i>. Dalam konteks ini menarik untuk melihat bagaimana Henry Giroux (1983) dan Peter McLaren (1998 ) mengusulkan perlunya “pengetahuan emansipatoris” didiseminasikan dalam ruang pembelajaran karena ia punya implikasi dalam pendidikan. Konsep “pengetahuan emansipatoris” sebetulnya didasarkan pada kategori-kategori pengetahuan yang dikonstruksi oleh Jurgen Habermas. </p>
<p>Menggunakan pola Habermas, mereka mengklasifikasi pengetahuan dalam tiga kategori: teknis, praktis dan emansipatoris. Karakteristik pengetahuan teknis adalah kontrol, kepastian, obyektifitas, dan bebas-nilai. Implikasi model seperti ini dalam teori pendidikan adalah bahwa pengetahuan harus beroperasi di dalam kerangka <i>lawlike mode of thought</i> dan pengetahuan dipisahkan dari proses pembentukannya. Proses pembelajaran dalam panduan pengetahuan teknis cenderung mengakibatkan kontradiksi dialektis antara guru yang berperan sebagai transmitter pengetahuan dan murid yang berperan sebagai konsumen yang pasif. Posisi seperti ini memungkinkan bagi guru untuk menentukan, mengatur dan mengontrol murid.</p>
<p>Tipe kedua adalah pengetahuan praktis yang menggunakan hermeneutik sebagai alat analisis untuk menafsirkan watak dasar realitas. Model pengetahuan seperti ini membantu peserta didik untuk menganalisa kategori-kategori dan asumsi-asumsi yang membentuk realitas dan bagaimana itu berpengaruh dalam memahami dunia. Pembentukan realitas diyakini dimediasi oleh bahasa di mana manusia secara konstan memproduksi dan memproduksi kembali makna lewat penafsiran mereka terhadap dunia.</p>
<p>Implikasi model pengetahuan praktis terhadap pendidikan adalah pengetahun tidak disampaikan lewat imposisi, tapi dimediasi lewat dialog di antara peserta didik. Mereka didorong untuk mengeksplorasi dan mengartikulasikan nilai-nilai mereka sendiri dan memahami dan mengevaluasinya dalam konteks kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, model pengetahuan seperti ini gagal untuk mengembangkan suatu bentuk analisis yang memungkinkan peserta didik untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan, khususnya bagaimana kekuasaan dan ideologi yang dominan memproduksi seperangkat makna, pemahaman-pemahaman, dan praktek-praktek yang mendukung dan melanggengkan dominasi struktural mereka, dan pada saat yang sama mencegah munculnya <i>critical community</i>.</p>
<p>Untuk itulah diperlukan tipe lain, yaitu pengetahuan emansipatoris, sebuah bentuk pengetahuan yang mengorientasikan peserta didik untuk memahami realitas sosial berdasarkan pada relasi dialektis kekuasaan. Argumennya adalah bahwa realitas itu dibentuk oleh kompetisi antar paradigma, di mana masing-masing paradigma membawa agenda, kepentingan, nilai dan ideologi sendiri-sendiri. Proses belajar, dengan demikian, bertujuan untuk mengkritisi pengetahuan dan mendemistifikasi kepentingan-kepentingan ideologis di balik konstruksi realitas sosial, dan kemudian mengambil tindakan untuk menciptakan formasi realitas yang didasarkan pada prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan.</p>
<p>Dalam konteks ini, pengetahuan emansipatoris berupaya untuk melampaui pandangan mekanis dari pengetahuan teknis dan bergerak melampaui kategori pemahaman (<i>understanding</i>) seperti yang dikumandangkan model pengetahuan praktis, agar sampai pada tahap transformasi. Pengetahuan emansipatoris mendorong peserta didik untuk menggunakan <i>self-reflection</i>. Dengan demikian, menghadirkan pengetahuan emansipatoris di dalam kelas punya efek untuk mentransformasi peserta didik menjadi subyek yang independen dan merdeka yang bisa menemukan dan mengartikulasikan suaranya.</p>
<p>Pengetahuan emansipatoris dibentuk didasarkan pada basis kritik dan aksi. Dalam pengertian, ia terlibat, sebagai bagian dari proses kesejarahan, dalam kritik terhadap realitas sosial dan mengambil tindakan untuk mengubahnya ke arah yang lebih baik. Dasar untuk menilai pengetahuan, dengan demikian, bukanlah apakah ia “salah” atau “benar,” tapi apakah ia “liberatif” atau “opresif.” Proses pembelajaran yang diarahkan untuk mendesiminasi model pengetahuan seperti ini harus didesain sedemikian rupa untuk mempromosikan kesadaran kritis dan kebebasan individu. Dua hal yang bisa menjadi fondasi bagi pemberdayaan peserta didik.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/readresist.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/readresist.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/readresist.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/readresist.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/readresist.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/readresist.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/readresist.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/readresist.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/readresist.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/readresist.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/readresist.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/readresist.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=22&subd=readresist&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://readresist.wordpress.com/2008/05/17/pendidikan-sebagai-tindakan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/beb9901615b57742bb5ff59393b37e98?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">readresist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahagia Karena Cantik</title>
		<link>http://readresist.wordpress.com/2008/05/15/bahagia-karena-cantik/</link>
		<comments>http://readresist.wordpress.com/2008/05/15/bahagia-karena-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 06:18:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>readresist</dc:creator>
				<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kutipan buku]]></category>
		<category><![CDATA[citra-diri]]></category>
		<category><![CDATA[kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[operasi plastik]]></category>
		<category><![CDATA[pelekatan-merek]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://readresist.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[oleh AQ
dikutip (halaman 122-125) dari:
Judul Buku: Belanja Sampai Mati; Ancaman Komersialisasi Remaja Masa Kini
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Gagasan bahwa ‘bentuk tubuh yang sempurna dan kesempurnaan estetik akan membawa kebahagiaan’ bukanlah ide baru. Menurut sejarahwan Joan Jacobs Brumberg, pengarang buku The Body Project:An Intimate History of American Girls, gadis-gadis masa Victorian juga diajarkan untuk jadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=21&subd=readresist&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh <b>AQ</b><br />
dikutip (halaman 122-125) dari:<br />
Judul Buku: <b>Belanja Sampai Mati; Ancaman Komersialisasi Remaja Masa Kini</b><br />
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta<br />
Cetakan: I, 2008</p>
<p>Gagasan bahwa ‘bentuk tubuh yang sempurna dan kesempurnaan estetik akan membawa kebahagiaan’ bukanlah ide baru. Menurut sejarahwan Joan Jacobs Brumberg, pengarang buku <i>The Body Project:An Intimate History of American Girls</i>, gadis-gadis masa Victorian juga diajarkan untuk jadi gadis bertubuh paling menarik. Agar menarik, mereka harus punya bentuk tubuh yang berbeda. Mereka mengenakan korset dan tampil lugu apapun resikonya. Pengorbanan yang harus mereka lakukan bisa jadi kelaparan, bekerja keras, mencukur, menindik dan mentato tubuhnya tetapi tidak menyerahkan keperawanannya.</p>
<p><span id="more-21"></span></p>
<p>Tapi Brumberg juga menulis gadis-gadis masa kini lebih berorientasi pada tubuh. Remaja perempuan abad 19 “punya orientasi yang berbeda dengan gadis-gadis sekarang (sebelum Perang Dunia II) para gadis jarang menyebutkan tubuh mereka sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan diri.” Sebaliknya di jaman anak muda bermerek, tubuh dianggap sebagai sesuatu yang harus diolah, ditolak, disedihkan, kemudian dapat dipulihkan dengan belanja.</p>
<p>Sander Gilman dalam buku <i>Creating Beauty to Cure the Soul: Race and Psycholoy in the Shaping of Aesthetic Surgery</i> (1998), menghubungkan pertumbuhan operasi kosmetik dengan meningkatnya penggunaan Prozac (obat anti depresi-<i>penj.</i>) dan penyakit psikologi semakin dianggap sebagai masalah kesehatan tubuh; bahwa kebahagiaan seseorang dapat tercapai melalui pengobatan dari luar yang membutuhkan biaya. Berdasarkan logika serupa, saline (nama obat-<i>penj.</i>) dianggap penting untuk mengatasi masalah gadis berpayudara kecil atau buruk. “Gagasan mengobati jiwa adalah alasan utama operasi kecantikan yang membuat “pasien” merasa punya tubuh “sehat” tapi “jiwanya tak bahagia”, kata Gilman.</p>
<p>Seperti halnya kebiasaan berbelanja di toko mahal, keyakinan operasi kecantikan dan konsumsi produk mewah diajarkan oleh orang tua pada anak-anak. Baik ibu maupun anak perempuannya sekarang berpikir bahwa tubuh adalah benda plastik, benda yang bisa meleleh kemudian dibentuk sesuai keinginan: perubahan pemikiran atau tubuh bisa saja dilakukan asal ada uang. Seperti yang tertulis dalam <i>Boston Globe</i> pada Maret 2001, generasi <i>baby boomer</i> dengan senang hati menularkan keyakinannya pada generasi selanjutnya:”Banyak ahli bedah kecantikan mengatakan pada saya bahwa klien remajanya meningkat tajam akhir-akhir ini&#8230;. Mantan pasien mengajarkan pada anak-anaknya tentang operasi dan ahli bedah sebagai ritual penting. (Barry) Davidson (seorang ahli bedah plastik) mengatakan, seringkali ada dua generasi melakukan implan payudara bahkan bukan lagi hal yang aneh jika tiga generasi melakukannya. “Seorang anak perempuan memiliki bentuk payudara sama dengan ibunya, sang nenek yang melihat itu memutuskan bahwa ia akan melakukan operasi serupa,” jelasnya.</p>
<p>Jumlah orang tua Generasi Y yang melakukan operasi plastik sangat mengejutkan, pada tahun 2000 ada 3,2 juta orang usia 35-50 tahun melakukan operasi plastik. Operasi kecantikan semakin bisa dimaklumi, operasi itu tak ubahnya seperti produk perancang yang dikenakan oleh ibu dan anak.</p>
<p>Philip Miller juga melihat operasi plastik semakin diterima oleh keluarga. “Sang ibu melakukan operasi hidung saat berusia 16 atau 17 tahun,” kata Miller – seorang ahli bedah remaja yang berpraktek sejak 30 tahun lalu. Sebuah praktik rahasia yang dilakukan agar sesuai dengan ciri-ciri fisik etnis seseorang. “Ketika ibu membawa anaknya mengunjungi dokter bedah plastik, sang ibu merasa bersahabat dengan anaknya,” kata Miller. “Mereka mengatakannya dengan bangga,  ‘Sekarang anak saya melakukannya.’” Cerita versi terburuk ketika, “Jika sang ibu tak pernah melakukan operasi maka ia merasa agak iri – ia ingin itu seperti anak kecil,” kata Miller. “Semakin banyak ibu yang juga merasa senang jika anaknya mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dibelinya ketika remaja.”</p>
<p>Carolyn dibesarkan dengan budaya semacam itu. Ia melihat ibu-ibu kelas menengah atas berusia 30-an, 40-an dan 50-an melakukan implan payudara. Menurut Carolyn, mereka akan menawari anaknya. (Sekalipun ia seorang ahli bedah plastik: dokter yang akan mengoperasi Carolyn adalah ayah teman sekolahnya). Orang tua kaya yang menolak permintaan anaknya melakukan operasi tidak lagi dapat menolak dengan tegas atau keras. Mereka mungkin juga merasa bingung dan bimbang dengan permintaan anak perempuannya. Mereka membutuhkan ahli bedah bukan untuk operasi tetapi untuk memperoleh informasi. Informasi itu digunakan untuk menghalang-halangi niat anaknya. Dengan ekspresi datar, ahli bedah plastik Brian Forley menceritakan pada saya tentang seorang ibu dan anak perempuan yang mengunjungi tempat prakteknya. Ketika seorang gadis berusia 16 tahun mengunjunginya dengan bercucuran air mata sambil menceritakan bahwa ia harus punya payudara baru, ibunya duduk dan mendengarkan. Wajah ibunya beku. Forley berkesimpulan bahwa sang ibu berpikir ia adalah senjata terakhir. “Ia berharap saya menjelaskan sesuatu pada anak perempuannya,” kata Forley. “Saya berusaha” (Tentu saja, tak semua ahli bedah plastik berusaha mencegah gadis remaja melakukan operasi kecantikan; tapi sepertinya gadis itu bisa menemukan ahli bedah lain yang mau melakukan itu jika Forley tak mau.).</p>
<p>Karena situasi sosial, tidaklah mengherankan jika pasien Forley tidak datang karena keinginannya sendiri; lagi pula ia masih sangat muda. Pelekatan merek tubuh dimulai sejak dini, saat abg. Seperti yang dikatakan seorang gadis 16 tahun sesaat sebelum melakukan operasi pembesaran payudara, “Sejak berusia 13 tahun aku mulai tahu dan kemudian berpikir melakukan operasi untuk memperbaiki payudaraku.”</p>
<p>Carolyn mulai memimpikan payudara lebih besar sejak usia yang sama. “Seingatku, aku tak pernah suka payudaraku,” katanya. “Sejak berusia 13 tahun, aku merasa tidak nyaman jika berdekatan dengan orang lain – aku tidak suka tubuhku. Aku ingin pembesaran payudara sejak umur 13 tahun karena sebelumnya aku pernah melihat foto telanjang.”</p>
<p>Kita mungkin khawatir terhadap kegilaan anak-anak terhadap citra diri, kedewasaan dan seksualitas tapi tatanan sosial telah menciptakan ketergantungan ganda itu. Gadis dan wanita ditempeli identitas sesuai dengan barang yang mereka konsumsi. Mereka ingin membeli kemudian menjadi sosok sempurna seperti bintang media dan bintang film yang juga dipermak. Mereka juga menempati wilayah “sesudah” dalam dongeng ala operasi kosmetik, penampilan “sebelum” dan “sesudah.” Dongeng yang terinsipirasi dari teknik periklanan primitif atau pujian hasil operasi plastik. Seperti yang dikatakan Carolyn, “Aku nonton sesuatu di HBC tentang operasi plastik lalu aku memutuskan untuk melakukannya.”</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/readresist.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/readresist.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/readresist.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/readresist.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/readresist.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/readresist.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/readresist.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/readresist.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/readresist.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/readresist.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/readresist.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/readresist.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=readresist.wordpress.com&blog=3424878&post=21&subd=readresist&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://readresist.wordpress.com/2008/05/15/bahagia-karena-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/beb9901615b57742bb5ff59393b37e98?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">readresist</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>