Selamat Datang Mahasiswa
oleh Eko Prasetyo
Yang membuat semua berjalan dengan teratur
Adalah rasa takut dalam diri kita masing-masing
(Bill the Butcher, Gangs of New York)
Hari ini kalian menjadi saksi dari tragisnya dunia pendidikan. Menjadi mahasiswa dengan bekal seadanya dan apa adanya. Seadanya karena tak banyak orang yang begitu beruntung mencicipi bangku kuliah. Hitung berapa banyak kawan-kawan SMA kalian yang sanggup untuk meneruskan kuliah. Bukan sekedar tinggal di kampus: tapi bertempat di lembaga perguruan tinggi yang terbaik dan paling baik. Kampus-kampus hebat itu bukan untuk kalian, tapi untuk mereka yang beruntung. Beruntung karena uangnya bisa mengongkosi sumbangan gedung, sumbangan sukarela, sumbangan kuliah dan bentuk sumbangan lainnya. Apa adanya karena bekal pengetahuan yang sangat minim. SMU hanya bisa mengajarkan kisah sejarah tragis, ilmu patriotisme yang naif dan pelajaran berhitung yang mencemaskan. Dan lagi-lagi kalian beruntung karena lolos ujian nasional. Singkatnya kalian menjadi mahasiswa bukan karena kecerdasan tapi lebih banyak karena keberuntungan dan kemujuran.
Continue reading ‘Selamat Datang Mahasiswa’
Filed under: gerakan sosial, pendidikan kritis | 9 Comments
Tags: Amir Sjariffudin, anak muda, demonstrasi, kampus, kaum muda, kuliah, mahasiswa, Mohammad Hatta, organisasi, pemberontak, pendidikan, pengangguran, perguruan tinggi, remaja, sarjana, sekolah, Soekarno, Tan Malaka
oleh Titis Prihatini
dimuat dalam Joglo Semar, 11 Januari 2008
Judul Buku: Feminisme untuk Pemula
Penulis: MR, MR, SAW
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, Desember 2007
Sebagian besar laki-laki akan cenderung memandang negatif dengan gerakan perempuan. Karena, yang terlintas di kepala mereka tentu seorang perempuan yang galak, mandiri (tidak tergantung dan membutuhkan laki-laki lagi), kritis dan tidak mau disuruh-suruh.
Continue reading ‘Sejarah Perkembangan Gerakan Perempuan di Eropa’
Filed under: gerakan sosial, resensi buku | Leave a Comment
Tags: feminisme, gerakan perempuan, hak perempuan, KB, alat kontrasepsi, Gerwis, Gerwani, Dharma Wanita, PKK
oleh tukang resensi
dimuat dalam Resistinfo #25/2008: Dijual: Orang Miskin, Rp 300 ribu saja! (tanpa diskon)
Judul Buku: Orang Miskin Tanpa Subsidi
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, April 2005
Dengan dalih mengikuti harga pasar minyak dunia yang terus melambung, rejim SBY-JK akhirnya menaikkan lagi harga BBM. Sontak, para ekonom penetek kekuasan dan penyembah pasar bebas kembali menggaungkan tema pembodohan yang usang: “kenaikan harga BBM dilakukan untuk menyelamatkan APBN” serta “subsidi hanya menguntungkan kaum kaya”, atau “BLT akan mengurangi kemiskinan akibat kenaikan BBM”. Jurus penangkal protes yang usang pun kembali digelar, dari memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) hingga beasiswa untuk mahasiswa miskin. Pola ini, tak lain, adalah upaya untuk meredam radikalisme kaum miskin dan mahasiswa yang semakin menderita akibat kenaikan tersebut. Akibat dari kebijakan tersebut, bebrapa pengamat memprediksi bahwa jumlah orang miskin dan pengangguran akan semakin meningkat tajam.
Continue reading ‘Neoliberalisme: Ideologi yang Menghancurkan Kehidupan’
Filed under: resensi buku, resistinfo | Leave a Comment
Tags: APBN, BLT, deregulasi, kapitalisme, kebutuhan hidup, kemiskinan, kenaikan harga BBM, Kwik Kian Gie, layanan publik, liberalisasi, neoliberalisme, pasar bebas, privatisasi, Revrisond Baswir, subsidi
Hegemoni
oleh Daniel Hutagalung
dikutip (halaman xxii-xxvi) dari:
“Hegemoni dan Demokrasi Radikal-Plural: Membaca Laclau dan Louffe”,
Pengantar Buku: Hegemoni dan Strategi Sosialis
Penulis: EL dan CM
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Buku ini dimulai dengan menengok genealogi konsep hegemoni jauh ke belakang, khususnya pada sejarah diskursus Marxisme maupun sosialisme. Dari sini akan dilihat inovasi teoritis dari studi dan pemikiran Laclau dan Mouffe lewat buku Hegemoni dan Strategi Sosialis ini.
Filed under: gerakan sosial, kutipan buku | 1 Comment
Tags: Antonio Gramsci, Bernstein, buruh, Chantal Mouffe, Ernesto Laclau, Georges Sorel, hegemoni, hegemoni ekspansif, ideologi, Karl Kautsky, Louis Althusser, Marxisme, restorasi, revolusi, Rosa Luxemburg, sistem kelas, sosialisme, transformisme
oleh Asri Bariqah
dimuat dalam Jawa Pos, 1 Juni 2008
Judul Buku: Minggir! Waktunya Gerakan Muda Memimpin! Soekarno, Semaoen, & Moh. Natsir
Penulis: Eko Prasetyo
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, Mei 2008
Pangemanan, seorang tokoh dalam Rumah Kaca, novel legendaris Pramoedya Ananta Toer, pernah berujar, ”Bagaimanapun masih baik dan beruntunglah seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Daripada seorang penipu yang berhasil menjadi pemimpin dan banyak pengikutnya…”
Continue reading ‘Meresapi Jiwa Natsir dan Soekarno’
Filed under: resensi buku | Leave a Comment
Tags: agen perubahan, Agoes Salim, Deliar Noer, Jalaluddin Rumi, karikatur, kartun strip, kaum muda, komik, Moh. Natsir, Mohammad Hatta, pemimpin, pemuda, Pramoedya Ananta Toer, remaja, Semaoen, Sjafroedin Prawiranegara, Slank, Soekarno, Takeo Fukuda
Kotaknya Editor – mei 2008
oleh tukang edit
dimuat dalam Resistinfo #24/2008: Agama dan Revolusi Sosial
Selama beberapa hari, Kiki tinggal dengan seorang ibu tua pemecah batu. Tiap hari ia mengikuti apapun yang biasa dikerjakan ibu tua itu. Ia menemai ibu tua itu memecahkan batu-batu cadas di pinggir kali. Bertanya ini-itu mengenai pekerjaan itu, hasil yang didapat, berapa uang yang diterima, cukup atau tidak, dan sebagainya. Ia tak menyangka ibu tua itu ternyata sudah puluhan tahun melakoni pekerjaan itu. Padahal hasilnya tak seberapa. Hanya cukup untuk bertahan hidup. Kamera menyorot secara close-up rasa kasihan yang jelas membayang di raut muka Kiki yang bersih tak pernah mengenal debu. Ketika batu-batu itu sudah selesai dipecahkan, Kiki pun memaksakan diri untuk membantu menyunggi batu-batu yang berat ke tempat pengumpulan.
Filed under: resistinfo | Leave a Comment
Tags: indoktrinasi, jika aku menjadi, kelas sosial, kemiskinan, kesadaran naif, perempuan, reality show, televisi
Agama dan Revolusi Sosial
oleh Eko Prasetyo
dimuat dalam Resistinfo #24/2008
Di kala itu juga, aku berpendapat:
Bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya
Dan mereka tak merasai ini
(Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam)
Saya tak kenal dekat dengannya. Tapi tulisannya yang penuh dengan anjuran bertoleransi bertebaran di mana-mana. Ia ingin melihat agama sebagai penentram kehidupan sosial ketimbang kekuatan penggubah. Dalam daya jangkau pemikirannya, agama memang tidak untuk memuaskan naluri emosional melainkan bagaimana agama mampu menjadi perajut dari perbedaan. Gagasannya memang kerapkali kontroversial tapi itu yang membuat namanya makin populer. Anugerah beasiswa diberikan padanya dan tulisannya selalu mendapat tempat di media nasional. Ia punya kawanan yang berada di bawah bendera liberal. Ia adalah perintis dan martir bagi pasukan yang membawa panji kebebasan,toleransi dan kesamaan pandang. Popularitasnya didaki oleh kecaman, ancaman dan beberapa karya tulis yang dimuat di koran-koran. Ia beda dengan Nurcholish Madjid; lebih berani mengartikulasikan gagasan dan mempunyai jaring media yang banyak.
Continue reading ‘Agama dan Revolusi Sosial’
Filed under: gerakan sosial, resistinfo | 1 Comment
Tags: agama, Islam, keadilan sosial, kemiskinan, Tuhan
Invasi ke Dunia Remaja
oleh Dyna Herlina S.
disampaikan dalam Bedah Buku “Belanja Sampai Mati; Ancaman Komersialisasi Remaja Masa Kini”
Togamas Yogyakarta, 27 Mei 2008
Merek pertama kali ‘menginvasi’ hidup saya saat saya berumur 13 tahun. Sebuah perusahaan pembalut wanita “Laurier” tiba-tiba membagikan produknya di sekolah. Mereknya berbeda dengan yang biasa dianjurkan ibu saya saat itu. Bulan selanjutnya saya bersitegang dengan ibu saya karena memilih pembalut yang baru itu. Hampir seluruh murid perempuan di kelas saya membicarakannya karena harganya lebih mahal, kemasannya lebih menarik, bergambar remaja, dibungkus satuan dan pokoknya ‘kelihatan’ lebih keren dan modern.
Continue reading ‘Invasi ke Dunia Remaja’
Filed under: bedah buku, gaya hidup | 4 Comments
Tags: belanja, citra-diri, kecantikan, pelekatan-merek, perempuan, remaja, tubuh
oleh Dr. Agus Nuryatno
dikutip (halaman 50-55) dari:
Judul Buku: Mazhab Pendidikan Kritis; Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Antonio Gramsci memandang politik sebagai sebuah proses edukatif. Dengan kata lain, dia memberi muatan edukatif dalam aktifitas politiknya (Diana Coben, 1998). Politik tidak hanya dipersepsi sebagai seni memperebutkan kekuasaan, tapi di dalamnya ada muatan dan nilai edukatif. Hal yang sama, Ernesto “Che” Guevara memberi muatan edukatif dalam revolusinya (Peter McLaren, 2000). Suatu saat dia pernah bilang, “If you want an education, join the revolution” (dikutip di Jim Walker, 1981: 120).
Filed under: kutipan buku, pendidikan kritis | 1 Comment
Tags: Antonio Gramsci, bahasa kritik, Che Guevara, Habermas, Neil Postman, Paulo Freire, pengetahuan emansipatoris, tindakan politik
Bahagia Karena Cantik
oleh AQ
dikutip (halaman 122-125) dari:
Judul Buku: Belanja Sampai Mati; Ancaman Komersialisasi Remaja Masa Kini
Penerbit: Resist Book, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Gagasan bahwa ‘bentuk tubuh yang sempurna dan kesempurnaan estetik akan membawa kebahagiaan’ bukanlah ide baru. Menurut sejarahwan Joan Jacobs Brumberg, pengarang buku The Body Project:An Intimate History of American Girls, gadis-gadis masa Victorian juga diajarkan untuk jadi gadis bertubuh paling menarik. Agar menarik, mereka harus punya bentuk tubuh yang berbeda. Mereka mengenakan korset dan tampil lugu apapun resikonya. Pengorbanan yang harus mereka lakukan bisa jadi kelaparan, bekerja keras, mencukur, menindik dan mentato tubuhnya tetapi tidak menyerahkan keperawanannya.
Filed under: gaya hidup, kutipan buku | Leave a Comment
Tags: citra-diri, kecantikan, operasi plastik, pelekatan-merek, perempuan, remaja, tubuh
Search
-
Blogroll
- .,Zero’s Creativity,.
- awan santosa
- azaxs
- Beggysme
- bhagawadgitha
- Coen Husain Pontoh
- dian yanuardy: The Writings
- emkadua
- House of Question
- imm jateng
- IndoPROGRESS
- Indro Suprobo: Vihara Ngaglik
- irm sulawesi selatan
- JMP POST
- Korban Sistem
- nailil printika – cetak!
- qahar episteme
- Rahmad Ardiansyah
- resistbook.or.id
- Ridho Al-Hamdi
- Rony’s Blog
- simulakrum
- UNTUK SEBUAH PERUBAHAN
- untuk-pembebasan
- Wilson
- WordPress.com
- WordPress.org
Recent Entries
- Selamat Datang Mahasiswa
- Sejarah Perkembangan Gerakan Perempuan di Eropa
- Neoliberalisme: Ideologi yang Menghancurkan Kehidupan
- Hegemoni
- Meresapi Jiwa Natsir dan Soekarno
- Kotaknya Editor – mei 2008
- Agama dan Revolusi Sosial
- Invasi ke Dunia Remaja
- Pendidikan Sebagai Tindakan Politik
- Bahagia Karena Cantik
- Konsistensi Berharga Mahal; Belajar dari Fidel Castro
Categories
- bedah buku (2)
- diskusi (1)
- gaya hidup (2)
- gerakan sosial (6)
- kutipan buku (4)
- pendidikan kritis (3)
- resensi buku (5)
- resistinfo (11)
- Uncategorized (1)